[Celoteh Santri] Kekuasaan dapur

Ternyata gak bener juga kalau ada pendapat yang bilang bahwa pemegang jabatan alias kekuasaan yang tertinggi atas santriwati itu oleh OSDN dan dewan guru. Manusia pada akhirnya tidak lepas dari panggilan sucinya; perut yang kelaparan, saudara-saudara! Begitu perut mulai unjuk gigi (!?), maka santriwati akan mulai beringas seperti kelompok wanita Amazon yang mengerikan itu. Pemandangan santriwati saat berebutan jatah nasi+lauk bukanlah sebuah pemandangan yang menarik (tentu saja!).

Namun, para ‘Sebenernya caritanya begini, waktu itu, ana dan salah satu teman ana pergi ke dapur seperti biasanya untuk makan. Waktu itu masih dalam masa-masa LDK, AMT, & MUKER. Jadi bagian dapur masih belum menyusun jadwal para penjaga dapur, istilahnya begitu bagi mereka yang mengatur pembagian makanan.

kitchen guard’ tersebut, alias bagian dapur (sensor nama), belum datang karena alasan yang tak diketahui. Kami menunggu bersama beberapa anak yang kelaparan lainnya di dapur hingga lebih dari 20 menit yang tersa bagai 20 hari bagi perut yang keroncongan.

Kami mulai protes kepada para mbakyu-mbakyu dapur yang kemayu, “Mbak, kok makanannya disembunyin sih?”, sahut teman ana.

“Tunggu dulu dek, bagian dapurnya datang”, jawab mereka dengan logat Jawa yang khas.

“Tapi mbak, lama amir! Kita dah kelaparan nih!!”, balas anak lain.

“Ya tapi tunggu dulu bagian dapurnya dek!!,” mbak itu tetep ngotot. Kami menyerah saja dan kembali menunggu. Tapi, sudah lewat 10 menit, sang kitchen guard pelum juga datang!

“Udah sih mbak! Buka aja, lagian gak bakalan banyak kok!,”kata ana dengan tak sabaran. Tapi mereka tetap keukeuh dengan pendirian mereka. Ternyata mereka masih belum menyadari keganasan anak DN yang kelaparan!

“Mbak serius nih, kita jebol juga nih lemari makanannya!”, ancam seorang anak kelas 3 entah dengan serius. Mbak itu bangkit dan menjaga depan lemari makanan seperti lemari itu menyimpan seluruh arsip rahasia Negara.

“Jangan donk dek! Sabar sedikit!,” sahut mereka ketakutan.Kami makin mendekat kearah mereka (yang dalam bayangan saya yang tolol) sambil membawa sepucuk pistol dan pisau.

“Mbak serahin makanannya! Kalau nggak, kita bom seluruh isi dapur ini!”, ancam teman ana lagi.

“Nggak boleh, dek! Pokoknya tunggu yang berwajib datang!,” balas mereka dengan berani. Tapi kami semakin mendekat dan bahkan mulai mengetuk-ngetuk ‘brankas’ penyimpanan uang.

Udah kayak adegan perampokan bank aja, pikir ana geli.

Tiba-tiba para anggota pejabat tinggi (baca: Keamanan) datang. Kami semua menoleh. Wuah! Bias-bisa kita diomeli juga nih ngancam mbakyu-mbakyu dapur yang tak berdaya ini.

“Mbak mana makanannya ni?,” Tanya mereka heran. DUK! Ternyata mereka juga sama aja purposenya kayak kita. Pejuang makanan.

Para kitchen-guard menjawab lagi dengan hal yang sama.

“Loh! Kita mau menunggu mereka sampai kapan? Kita bagian keamanan aja belum nyusun jadwal bulish yang ngatur makanan!,”ujar Choy-Choy (sensor nama).

“Ya tapi dek, nanti berantakan lagi!”, balas mereka tegar. Ya ampun, bias mati karena maag deh ana! Ini udah hamper setengah jam kita memperjuangkan hak asasi manusia yang mendasar ini. Dasar system!, ana mulai merutuki diri sendiri.

“Gini mbak”, Iyung, bagian keamanan (sensor nama) memberi penjelasan, “kita kan baru saja AMT dan belum Muker lagi, kita mau siding Plenno 2 hari lagi! Kita masih pakai sistem lama”, kata Iyung kalem.Mungkin mbak ini mikir, waduh! Mana saya tahu hal begituan!. Lagi ngapain pula bawa-bawa istilah asing gitu?! Emang error deh anak Keamanan.

“Ya, intinya toloong dech!!! Kita kelaperan!! Mana lagi nih bagian Dapur, ah!”, yei! Ujung-ujungnya kami semua dilanda emosi dan mulai ribut sendiri (16 menit kira-kira coba jumlahin sama durasi sebelumnya!). Malah ada yang bilang mau lapor ke Komisi Perlindungan Hak Asasi Bagi Santri Yang Lapar.Pada akhirnya perang berakhir dan santri Amazon yang menang, pintu lemari makanan dibuka (ooh, ternyata lauknya kentan pedas!) dan kami mengantri dengan tertib tanpa pertumpahan darah.Pada akhirnya bagian keamanan saja tak berkutik dengan Kekuasaan dapur. Lalu kemana pihak yang berwajib tersebut? Mereka dengan watadosnya bilang: maaf deh tadi kita tidur.