Seperti ujian yang diadakan di sekolahan yang mengujikan beberapa mata pelajaran, seleksi tersebut juga memiliki tiga tahapan ujian yang berbeda. Yang pertama adalah pengetahuan umum. Pada tahap ini para peserta program YES diuji kemampuan pengetahuan umum mereka. Soal yang diujikan dalam tahap ini tidak main-main, karena jumlah soal yang disajikan para panitia pada saat itu berjumlah 100 soal yang menyangkut pada pengetahuan umum yang luas. Dari soal tentang politik luar negeri sampai soal tentang seorang Hanung Bramantyo sutradara film paling fenomenal akhir-akhir ini yaitu Ayat-Ayat Cinta. Di tahapan yang kedua mereka diuji kemampuan bahasa inggris yang mereka kuasai, seperti halnya soal-soal reading, vocabularies, bahkan sampai grammar pun harus mereka jawab dengan teliti agar mereka bisa lulus dalam seleksi ini. Pada tahap ketiga atau tahap yang terakhir mereka diminta oleh para panitia atau pengawas ruangan untuk membuat karangan yang menyangkut-pautkan impian mereka, jika mereka berhasil lulus dalam ujian seleksi ini ,dan berangkat menuju benua yang ditemukan oleh Christopher Colombus tersebut.
Dalam Seleksi tahap pertama ini bukan hanya ketepatan dalam menjawab dan mengerjakan soal saja yang dinilai oleh panitia, bahkan kepribadian dan cara mereka menanggapi soal tersebut juga diperhatikan oleh para pengawas ruangan. Jika ada dari para peserta seleksi yang tertidur karena bosan melihat soal-soal yang ada di depan batang hidung mereka, bahkan menyontek jawaban peserta yang lain, para pengawas ruangan tidak akan segan-segan mencoret nomor peserta pada kertas denah ruangan yang mereka pegang tiap kali mengawas ruangan itu dan menyatakan bahwa peserta tersebut gugur. Menurut pendapat Gagas Aryasakti salah seorang peserta YES dari Darunnajah, seleksi yang diadakan di STBA LIA Pancoran Jakarta Pusat ini merupakan seleksi yang superketat, karena pada saat dia melirik pada orang di sebelahnya yang hanya menatap ke samping sebentar, nomor peserta yang duduk bersebelahan dengannya itu dengan indah dihiasi coretan tinta sebuah pena yang berbentuk silang pada kertas yang dipegang oleh kakak pengawas ruangan.
Tetapi banyak dari para peserta yang begitu antusias mengikuti program pertukaran pelajar ini. Mereka berfikir kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya dan bangsa ini membutuhkan kader-kader pemimpin bangsa yang mampu mempersatukan perdamaian dunia. Oleh sebab itu marilah kita doakan para peserta yang mengikuti seleksi program pertukaran pelajar ini agar mereka dapat diterima dan lulus serta dapat menatap wajah sang Patung Liberty kelak suatu saat nanti.