[Celoteh Santri] Generasi Santri

[Celoteh Santri] Generasi Santri
oleh Oecha MH
Santriwati kelas XII SMA Darunnajah

    Terdapat tiga permasalahan dunia yang sangat hangat dibahas akhir-akhir ini, yaitu; krisis moral, persatuan bangsa, dan pelestarian lingkungan. Krisis moral yang dialami berbagai bangsa di dunia memberikan dampak perubahan yang sangat besar dalam keadaan sosial, budaya, tradisi, serta kehidupan semua golongan. Bangsa Indonesia sebagai bangsa  multikultural yang berarti mengharuskan bangsanya untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan budaya yang baru datang, mengalami perubahan yang cukup signifikan atas pengaruh krisis moral dunia. Rusaknya moral anak bangsa yang didominasi oleh  pengaruh kemoderenisasian telah mengikis akhlak-akhlak perilaku asli anak bangsa itu sendiri. Yang pada awalnya taat terhadap norma-norma yang ada.

    Moderenisasi yang buta akan aturan agama, norma sosial masyarakat, dan batas-batas hukum negara, telah menggerogoti akhlak anak bangsa kita. Kita bisa lihat dari contoh; kenakalan remaja, tingkat kriminalitas yang meninggi, korupsi yang merajalela. Semua hal itu tidak lepas karena tuntutan keduniawian yang berasaskan pada matrealisme yang sudah terpatri pada jiwa-jiwa bangsa ini sendiri.  Itu semua tidak akan terjadi, bila bangsa kita mempunyai pedoman iman dan ajaran akhlak yang benar dalam syariat agama.

Orang yang bodoh adalah orang yang selalu mengikuti apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, dan apa yang ia rasakan sama persis tanpa tahu akibatnya. Ini karena  minimnya tingkat pengetahuan atas pengertian, hukum, macam, dan akibat sesuatu yang mereka tiru itu bagaimana. Tidak sedikit orang-orang yang terjerumus dalam kerusakan akhlak tersebut hanya dikarenakan Karena ke-tabu-an dan ketidaktahuan korban. Beda dengan orang berilmu adalah orang yang melakukan segala perbuatannya atas dasar ilmu pengetahuan yang ia miliki. Analogi ini sama seperti ketika ada seorang menyuapi balita dengan sambal, secara tidak sadar otomatis si bayi akan menerima saja suapan itu. Karena ia tidak pernah tahu apa itu sambal. Bagaiman rasanya? Apa efek setelah memakannya? Sebab ia belum berakal. Dan ternyata setelah  memakannya balita itu pun  menangis karena merasakan pedas dalam  mulutnya. Beda dengan menyuapi anak usia 9 tahun yang sudah berakal dan sudah mengerti bahwa sambal itu pedas, ia pun akan menolaknya. Itu berarti orang berilmu/berakal  dapat memebedakan   perkara baik dan perkara buruk, mana yang enak dan mana yang tidak enak. Pedoman itulah yang bisa mengahantarkan orang kepada kedamaian dan kebahagiaaan hidup. Nabi pun bersabda; “Tuntutlah ilmu dari ayunan (usia dini) hingga ke liang lahat ( akhir hayat)”.

 Sudah kita ketahui bersama bahwa ±90% penduduk Indonesia adalah beragama islam. Islam sangatlah detail, mengatur segala bentuk cara kegiatan dan penjabaran hukumnya  yang dilakuakan kehidupan sehari-hari. Dari hal kecil sampai hal besar. Dari segi sosial bermasyarakat, beribadah, aturan-aturan keluarga, batasan-batasan serta larangan-larangannya, yang bersumber tetap dari Al-Qur’an dan Al-Hadist.  Dalam Islam, pembentukan pribadi yang berakhlak adalah  prioritas utama untuk menciptakan generasi-generasi islam yang dapat memperbaiki krisis moral di Indonesia. Untungnya sudah banyak media/sarana untuk mencapai tujuan tersebut yang  berkembang di Indonesia, salah satunya dari segi pendidikan.

Mencari ilmu yang diwajibkan dalam islam adalah ilmu dunia dan akhirat. Dimana keduanya mempunyai satu keterkaitan. Untuk mencapai keduanya, sudah disediakan banyak lembaga resmi yang berfungsi untuk mendidik anak menjadi menjadi generasi dunia dan akhirat, yaitu Pondok Pesantren. Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang berupaya menciptakan generasi muda islam yang cerdas dalam spiritual dan emosional. Siswa yang dididik di dalamnya biasa disebut santri. Sebutan istimewa bagi para calon ahli ilmu besar yang akan memeperjuangkan nilai-nilai moral islam dalam kemoderenisasian.

Apa beda siswa dan santri?

Siswa di sekolah umum (bukan pesantren) dengan santri di dalam pondok pesantren memang mempunyai kesamaan tujuan yaitu mencari ilmu. Akan tetapi, terdapat banyak pebedaan di berbagai sisi. Siswa sekolah biasa yang mempunyai ruang gerak  luas, fasilitas yang tidak terbatas, pergaualan tanpa ada aturan-aturan yang rumit, serta ketidakadaaan bimbingan khusus dalam mempelajari agama lebih dalam,membuat kehidupan mereka terasa bebas tanpa mengetahui aturan-aturan dan laranagan-larangan yang benar dalam agama mereka sendiri. Inilah yang menggerbangi kerusakan moral dan kemiskinan akhlak generasi muda, hanya dikarenakakan minimnya pendidikan agama yang ditanamkan dalam sistem pendidikan mereka. Beda sekali dengan kehidupan yang kita dapatkan jika  menjadi santri. Pendidikan di Pondok Pesantren yang menyeluruh selam 24 jam nonstop (sistem asrama) begitu mendidik santri-santrinya dalam keintensifan proses belajar. Selain itu pondok pesantren juga menuntut para santrinya mempunyai life-skill yang berdasar pada pendidikan nonformal seperti belajar hidup berkomunitas. Mengapa berkomuniatas? Karena dalam pondok pesantren tidak sedikit para santrinya berdomisili jauh dari pesantren, bahkan luar derah/luar pulau. Namun ketika kita sudah memasuki area pesantren, tidak akan ditemukan perbedaan antara ras dan keturunan satu sama lain. Karena tingkat   ukhuwah islamiyah yang sangat mereka junjung tinggi.

Sistem pendidikan dalam pondok pesantren yang bertujuan membentuk karakter santri dilakukan dengan cara mengontrol seluruh kegiatan santri dari pagi sampai malam. Beberapa kegiatan santri yang sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian tersebut antara lainya: pendisiplinan sholat tepat waktu ke masjid, kesederhanaan dalam berpakaian, makanan, dan lifestyle yang terus bercermin kepada sunnah-sunnah nabi, pelajaran ikhlas yang tidak akan didapatkan di sekolah-sekolah lain.

Upaya ini terbukti snamgat berhasil dalam membentuk karakter santri, dapat kita liaht alumnus-alumnus pesantren yang suklses sepereti; Ahmad Fuadi (penulis novel best seller Negri 5 Menara), Alm. Gus Dur (mantan presiden Republik Indonesia) yang selalu berkelut dalam komunitas pesantren, Duta Besar Indonesia di Timur Tengah yang banyak di dominasi oleh alumni Gontor, dan banyak tokoh-tokoh besar lainnya yang terbukti mampu berhasil setelah keluar dari pesantren.

Sangat disayangkan karena selama ini santri banyak dipandang sebelah mata, karena hanya nampak cover koko putih, sarung kusam, dan peci putihnya saja.. Serta kegiatannya yang hanya membawa kitab-kitab besar, sambil menuju tempat tongkrongan sucinya, masjid. Dengan anggapan kolot, tidak modern, jadul, dll. Padahal di balik peci putih itu terdapat otak yang sangat brilian dalam mengetahui aturan berperilaku yang benar, di balik koko putihnya terdapat hati yang bersih dari kekotoran iman dan nafsu syetan. Tanpa kita sadar justru pada santri-santrilah perbaikan moral bangsa ini di pegang.

Indonesia membutuhkan generasi-generasi berintelektualitas tinggi dan berakhlakul karimah seperti demikian. Ini adalah sebuah tuntutan untuk menjadi bangsa yang lebih baik dari segi moral. Pembentukan generasi santri adalah salah satu jalan keluar dari semua permasalahan itu. Setelah itu kita bisa menciptakan persatuan bangsa yang kokoh. Dan menciptakan keseimbangan alam yang harmoni.

Data diri
Nama               : Masmuhah
Sekolah            : SMA Darunnajah
Kelas/Usia        : XII/16
Alamat             : Jl. Kp. Leo Baru 73 Citeureup
                         Bogor
Alamat Sekolah :  Jl Ulujami Raya No 86
                          Pesanggrahan-Jakarta Selatan 12250

Memperoleh informasi dari :  Alumni dan Bagian Pers, Jurnalistik OSDN