[Celoteh Santri] Door duisternis tot litcht

[Celoteh Santri] Door duisternis tot litcht
(Habis Gelap Terbitlah Terang)
Posted by : Oecha MH (5C)
Pers Putri 10/11

“Ibu Kita Kartini,,,
 Putri sejati,,,,,,,,,,,
Putri yang mulia,,,,,
Harum namanya,,,,”

 
Begitu semaraknya teriakan santriwati Darunnajah menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini dalam upacara penutupan lomba perayaan Hari Kartini  pada Jum’at sore lalu. Acara ini sendiri  diselenggarakan sejak  hari Rabu, 21 April-Jum’at 23 April 2010 oleh bagian nisa’iyah dan bagian kesenian OSDN (Organisasi Santri Darunnajah) 2010/2011.
    
Jenis lombanya sendiri begitu kreatif dan berbobot,“Parade Poster Kartini”, yang menggambarkan secara estetis dan imajinatif sosok seorang Raden Ajeng Kartini yang kuat; “Fasion show dan uji pengetahuan” untuk menobatkan generasi muslimah cantik dan cerdas penerus wanita jenius yang berhasil menciptakan buku Door duisternis tot litcht (Habis Gelap Terbitlah Terang) ini;“Cooking competition” yang melatih keterampilan dan keahlian santriwati-santriwati dalam hal memasak. Yang begitu penting peranannya dalam sarat mutlak seorang wanita; “Traditional dance” sebagai salah satu ajang pelertarian budaya-budaya bangsa yang akhir-akhir ini banyak yang sewenang-wenang memperebutkan hak miliknya.Dan lomba-lomba lainnya, yang menguji tingkat kesemangatan dan kekompakan setiap kelas dan asrama.
    
Begitu semangatnya santriwati dalam merayakan ulang tahun ibu besar bangsa kita, membuat kita harus mereview kembali kejadian-kejadian 131 tahun yang lalu tentang tertindasnya kaum wanita di penjuru dunia, khususnya di Indonesia. Kontradiksi-kontradiksi kehidupan sosial rakyatnya yang sedang meringkuk di bawah penjajahan kolonial Belanda, mendorong R.A Kartini muncul berjuang untuk kemerdekaan dan pembaharuan. Masalah agama yang sangat peka mendapat perhatian Kartini begitu serius, dan begitu meyakinkan kita  bahwa Kartini  adalah seorang gadis muslimat yang merintis dan mengantarkan wanita bangsanya kepada kemerdekaan dan persamaan.
    
Sebagai generasi penerus Kartini, layak kita tahu, kehidupan kelam sebelum  munculny pejuang-pejuang wanita seperti Kartini. Dunia wanita hanyalah, dapur dan tujuan hidupnya?  Hanyalah satu,,, yaitu kawin. Dan dalam perkawinan ini mereka tidak akan diminta pendapatnya,tapi harus menerima siapa saja yang dicarikan oleh orang tuanya. Wanita juga tidak boleh sekolah, menuntut ilmu, dan belajar tulis baca. Betapa sanagt tertindas dan terbelenggunya para wanita  oleh ikatan paham agama yang sempit dan tekanan adat istiadat yang rumit. Pandangan islam tentang hak wanita diabaikan begitu saja, dan ajaran al-qur’an tentang seharusnya wanita di rumah tangga dan masyarakat didiamkan seperti huruf mati yang tidak berguna. “Betapa bersyukurnya bangsa ini karena tanpa disadari muncul orang mulia hati dan pikirannya yang hendak memasang pelita menjadi terang dunia perempuan yang gelap muram itu,,,,,,”
    
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang pahlawannya” begitu kata Ir. Soekarno. Selain kata mengenang, patut bagi kita terus menghidupkan semangat kaum wanita jaman dahulu untuk kebebasan, dengan menggunakan kebebasan itu dalam batas-batas moral dan syariat Islam. Bukan dengan menyalahgunakan kebebasan  itu hingga melewati batas-batas moral. Kita bisa lihat wanita zaman sekarang yang banyak  melewati batas kodrat mereka sebagai wanita, dan mengabaikan batas aturan agama. Seperti melawan suami, bergaya seperti laki-laki, berpakaian tak seronoh yang katanya mengikuti mode tapi bisa dikatakan kampungan, dll. Perilaku mereka layaknya wanita jahiliah. (Nauzubillah, Tsumma Nauzubillah) Apakah itu yang berarti menghargai Ibu Kartini? Apa itu yang bisa dikatakan generasi penerus Kartini? BUKAN! Sama sekali BUKAN!  Mereka adalah oknum-oknum yang tidak bisa menghargai betapa beratnya perjuangan Kartini untuk kebebasan wanita, dengan melampaui batas-batas kebebasan wanita dalam moralnya,akhlaknya dan kepribadiannya.
    
Semoga kita bukanlah termasuk orang-orang seperti itu. Sebagai santriwati, atau generasi muslimah di masa depan kita harus  terus berusaha untuk mampu menjaga nilai kebebasan wanita di zaman modern dengan berpayung pada keimanan dan bernaung pada panji-panji islam. Untuk menghargai Kartini, unyuk Indonesia,  untuk kita, dan untuk Allah.