Gara-gara Meninggalkan Shalat Shubuh
Pagi hari yang masih menyisakan mendung bekas hujan lebat tadi malam membuat Riska bangun kesiangan. Sampai-sampai, dia shalat shubuh jam 06.00, itupun setelah teman sekamarnya membangunkan dengan paksa. Belum lagi, dia tadi malam bertugas menjadi bulish malam, makin bertambahlah ngantuknya. Padahal, Riska belum mempersiapkan baju untuk serah terima jaga. Aduh..
"Ris..Riska..bangun! Shalat dulu, ntar lanjutin lagi tidurnya abis serah terima..", Alfi membangunkan Riska yang masih terlelap.
"Aduh..Fi, ane ngantuk banget! Tadi malem tuh ujan lebat, dingin..ngantuk..ane baru pulang dari posko..", elak Riska setengah sadar.
"Sholat dulu deh..ntar tidur lagi ya. Yaudah, pokoknya ane udah bangunin ente nih! Jangan tidur lagi!", pesan Alfi sebelum keluar kamar.
"Berisik..", gumam Riska sambil meneruskan tidurnya lagi. Tanpa sholat terlebih dahulu dan dia tidak mengikuti serah terima jaga.
Di sekolah..
"Ris, kok masuknya abis istirahat? Tadi malem jaga ya?", tanya Dira, teman sebangku Riska.
"Iya nih, masih ngantuk banget! Oahm…", jawab Riska sambil menguap.
Disaat Riska dan Dini asik ngobrol, tiba-tiba datang Firda, ketua bagian Sabelana menghampiri Riska.
"Ris, mana laporan kejadian pentingnya?", serbu Firda. "Ane ditanyain dari tadi ama Ustadzah Inda, katanya ente belum nyerahin laporan kejadian penting."
"Lho? Kan bukan ane sendiri yang jadi haritsah..Masa ane doang?", bantah Riska.
"Bukannya gitu. Justru ane langsung kesini soalnya ane udah nanya sama yang lainnya, katanya kertasnya itu sama ente! Tadi pagi udah dibangunin buat serah terima, entenya nggak ada, jadi kacau deh! Akhirnya bikin laporan dadakan dulu. Terus, ane kena deh sama Ustadzah Inda, ama yang jaga lainnya juga kena.", serbu Firda panjang lebar.
"Yah..ane nggak tau, Da. Maapin deh..", sesal Riska.
"Ane sih fine aja, tapi jangan salahin ane kalo ntar ente dipanggil sama Ustadzah Inda!", ujar Firda sambil keluar kelas.
"Kok bisa gini siiiiiiiih….", keluh Riska sambil meremas-remas ujung kerudungnya.
"Tuh..ente teledor sih…", ujar Dira. "Eh, Ustadzahnya udah dateng tuh..", lanjut Dira sambil menyikut Riska yang kelihatan stresss…
Di kamar…
"Assalamu'alaikum…", Riska masuk ke kamarnya dengan tidak semangat.
"Wa'alikum salam..", jawab teman sekamar serempak. "Eh, Ris, tadi ane ketemu Ustadzah Inda. Kata beliau, abis sekolah siang ente disuruh menghadap ke BPS.", tutur Sari yang lagi bersiap untuk shalat Dzuhur ke mesjid.
"Aduh…", keluh Riska dalam hati. "Oh, makasih, Ri.", jawab Riska lemas.
"Emangnya ada masalah apa ente sama Ustadzah Inda?", tanya Ruri.
"Oh..nggak apa-apa..", jawab Riska malas.
"Riska mau bareng nggak ke mesjidnya?", ajak Sari.
"Oh, iya. Tungguin dong bentar."
Saat sekolah siang..
"Ris, udah ngerjain PR Bahasa Indonesia belom? Tes kompetensi 9 tuh..", tanya Dira.
"Hah?? Emangnya ada PR ya? Kok ane bisa lupa sih?? Aduh…gimana dong??", Riska panik luar biasa.
"Aduh..ente pake nanya lagi??!!!", Dira menepuk jidatnya yang jenong. "Ente ga bercanda kan, Ris?".
"Ya Allah, Dir..masa sih ane bohong?! Ane bener-bener belum ngerjain sama sekali! Aduh..ane pusing nih! Ente tau kan Ustadzah yang ngajar Bahasa Indonesia galaknya kayak gimana??", curhat Riska.
"Bukan galak, tapi tegas.", ralat Dira. "Yaudah, ane ngga tau. Ustadzahnya udah dateng tuh.", tunjuk Dira ke arah pintu.
Dan…terjadilah apa yang dikhawatirkan Riska. Belum sempat Riska melihat hasil Dira, namanya keburu dipanggil oleh Ustadzah.
"Mana tugas kamu, Riska?", tanya Ustadzah kepada Riska.
"Umm..ada Ustadzah..tapi…", Riska mencoba berargumen.
"Tapi apa? Tertinggal? Alasan apa lagi?"
"Bukan gitu, Ustadzah..ane belum kerjakan itu..", dengan takut-takut, Riska menjelaskan semuanya.
"Intinya sekarang, tugas kamu mana?", tanya Ustadzah lagi tajam.
"Belum dikerjakan, Ustadzah..", jawab Riska takut.
Dan tebaklah apa yang terjadi…
Sekeluarnya dari kelas, Riska merasa seperti terbebas dari 1 hutan rimba belantara. Setelah disindir habis-habisan, dicecar karena nilainya masih ada yang kosong, 2 jam pelajaran Bahasa Indonesia ini benar-benar membuatnya pusing dan bete berat. Belum lagi, sepulang sekolah siang ini, Ustadzah Inda menantinya di BPS. Riska menatap bata block di depannya dengan kesal. Kenapa semuanya kayak terencana buat ngerjain dia??? Saat mengangkat kepalanya, Riska sudah melihat seorang wanita berpakaian biru-hitam, menatap ke arahnya dengan tatapan yang seakan sudah menunggu lama. Riska menelan ludahnya, sambil berucap..
"Assalamu'alaikum, Ustadzah Inda…"
"Wa'alaikum salam, masuk sini Riska. Duduk."
——————————————– xxx ————————————————
Riska terpekur menatap buku diary ungunya. Setelah menarik nafas panjang dan membuangnya, Riska memulai menulis kegiatan rutinnya sebelum tidur.
Selasa, 27 Mei 2008.
Ya Allah..Riska capeeeeeek banget hari ini. Riska lelah. Tadi malem Riska jaga, kena omel. Riska tadi dipanggil sama Ustadzah Inda. Ngga diomelin sih, tapi Riska malu.. Soalnya Riska baru kali ini jadi bulish tapi udah bikin kesalahan. Udah gitu, Riska diomelin Ustadzah tadi pas sekolah siang. Soalnya Riska ngga ngerjain PR bahasa Indonesia. Uh, ngga nyarjud banget sih Riska. Pokoknya Riska capek! Riska kayak ketiban sial banget hari ini. Riska udah renungin. Dan Riska tau penyebabnya. Riska ngga shalat Shubuh tadi pagi. Padahal Riska udah bangun. Riska malah tidur. YA Allah, maafin Riska. Riska janji, Riska ngga akan ulangin lagi. Ini kewajiban yang wajib banget-banget. Ingatkan Riska, Ya Allah seandainya Riska khilaf lagi…
Riska
Riska menutup diary ungunya. Setelah membaca doa dan surat-surat pendek, Riska berdoa.
"Ya Allah..besok bangunkan Riska sebelum shubuh…".