Cerpen Ala Santri 2
Setetes cinta kota Rabat 1
Kota Rabat sore itu terlihat begitu ramai. Hari Jum’at memang ajang melepas lelah bagi siapa saja yang memiliki aktivitas rutin dari Senin hingga Kamis. Sabtu dan Minggu senantiasa dilalui oleh penduduk di Maroko untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau kerabat. Namun tidak untuk Kamal Bentachefeen. Pemuda itu harus menghabiskan waktunya di sebuah Café di pinggiran kota Rabat.
Hidup memang terasa begitu berat untuknya setelah orang tua dan adik prempuan tercintanya meninggal dalam bencana gempa bumi tahun lalu. Ia sendiri selamat dari maut karena sedang berada di Masjid Imam El-Idriss bersama ayahnya. Namun naas menimpa sang ayah yang segera berlari menuju rumah untuk menyelamatkan anggota keluarga yang lain… Kini Kamal tinggal bersama Imam masjid, Syeikh Abdel Fattah di flatnya yang sangat sederhana. Dulu Syeikh Abdel Fattah adalah guru yang mengajarkan Kamal membaca dan menghafal Al-Qur’an secara talaqi. Namun kehidupan Syeikh Abdel Fattah bukanlah kehidupan yang serba kecukupan. Ia hanya seorang Imam masjid. Kamal pun terpaksa tidak meneruskan sekolahnya untuk membantu kebutuhan hidup mereka berdua dengan menjadi pelayan Café Balima milik Monsieur Monsef di seberang Gare de Rabat. Ia selalu menghabiskan waktunya di sana pada malam hari.
Malam itu Kamal terlambat datang. Monsieur Monsef memarahinya:
“ Dari mana saja kamu ini, Aa Hmaar? Imad sudah seharusnya pulang dan kamu menggantikannya sejak tadi, raung Monsieur Monsef. Awas kalau terlambat lagi! Kupecat kau! Ancamnya.”
“ Smahliya, aa Siidi! Kunt Shelly Fel Jami’, sahut Kamal perlahan.
Ia pun langsung menggantikan pekerjaan Imad dengan mengenakan seragam pelayan, kemejam putih, celana hitam, dasi kupu-kupu, dan celemek putih di celana. Ia tampak rapih walau pun pekerjaan itu dipandang rendah oleh sebagian orang.
Kamal bekerja semalaman ditemani oleh Syu’aib Motiq yang ditinggal oleh ayahnya sehingga ia harus terus sekolah dengan membantu ibu dan kakak perempuannya yang bekerja di laundry dan menjadi pelayan café. Usia mereka berselisih dua tahun. Kamallah yang lebih tua. Kakak perempuan Syu’aib seusia dengan Kamal.
Pekerjaan mereka usai pada pukul 01.00 tepat. Para pengunjung mulai berkurang jumlahnya. Syu’aib mengajak Kamal untuk bermalam di rumahnya saja namun ia menolaknya.
Kamal dan Syu’aib pun pergi ke tempat tingal mereka masing-masing. Beberapa meter dari Zanqah Sab’een terdengar teriakan seorang perempuan meminta tolong. Kamal berlari menuju sumber suara begitu juga Syu'aib yang belum begitu jauh meninggalkannya.
Di Zanqah Sab’een mereka melihat seorang gadis berjilbab sedang menangisi ibunya yang terkujur tak berdaya. Pada bagian perutnya terdapat darah akibat luka tusukan. Syu’aib mendekati perempuan itu dengan mengucurukan air mata yang sama dengan si gadis seraya berkata:
_” Ada apa kak? Kenapa ibu…_
“Ibu ditusuk perutnya oleh orang yang hendak memperkosaku, dik, jawab gadis itu yang ternyata adalah kakak Syu’aib, Kenza Motiq, sambil mengisakkan tangis.
Tiba – tiba dua orang petugas keamanan datang menghampiri ditemani oleh seorang pria setengah baya yang menunjukkan TKP. Si petugas bertanya:
_ Apa yang ananda lakukan di sini? Sebaiknya kita bawa korban ke rumah sakit.
_ Baik! Saya akan menelpon ambulance sekarang juga, ujar si pria setengah baya sambil menekan tombol HPnya.
_ Dan kalian ikut ke kantor polisi untuk dimintai kesaksian, tambah petugas.
Di kantor polisi Kenza menceritakan kejadian yang dialaminya tanpa bias menahan air matanya yang membasahi pipinya:
_ Aku pulang sendirian ke rumah karana ibu akan mnyusul nanti setelah mengambil upah kerjanya dari Monsieur Dubois. Di halte bus aku melihat seorang lelaki menghampiriku. Setelah dia mendekat barulah aku tahu kalau dia sedang mabuk. Kemudian dia menarik tanganku dan membawaku ka Zanqah Sab’een. Aku pun berteriak minta tolong karena dia mencoba memperkosaku. Tiba-tiba ibu datang dan memukul punggung si pemabuk itu. Namun itu tidak membuatnya roboh dan ia pun mengambil sebilah pisau dari sakunya. Kemudian ia menikam ibu dengan pisau itu…ia kembali menangis. Kamal merangkul bahunya dan menenangkannya:
Ishbiri yaa ukhtii innallah ma’ash shabirin, ujarnya.
Kini kakak beradik itu berpelukan. Mereka tidak memiliki siapa pun kecuali satu sama lain. Kamal ingin sekali menghapus air mata mereka namun ia sadar bahwa ia bukanlah mahram bagi Kenza.
Selanjutnya polisi mengalihkan beberapa pertanyaan kepada pria setengah baya:
_Tolong perkenalkan diri anda dan sebutkan pekerjaan anda?
_ Nama saya Ayoub Kherrazi. Saya adalah pemilik toko makanan siap saji dua puluh empat jam di samping Hotel Safir, jelasnya singkat.
_Apa yang sedang anda lakukan ketika kejadian? Ceritakan secara detil!
_Ketika itu saya sedang bersiap-siap untuk tugas jaga toko dengan putra saya. Tiba-tiba saya mendengar suara permpuan yang minta tolong dari arah Zanqah Sab’een. Saya segera berlari menuju asal suara. Ketika tiba di tempat saya melihat seorang lelaki melarikan diri ke arah yang berlawanan dengan saya dan dua orang wanita yang satunya bersimbah darah di perutnya. Kemudian saya melaporkan kejadian ke pos petugas terdekat. Ketka saya kembali dengan dua orang petugas saya melihat dua pemuda ini, ujarnya sambil menengok Kearah Kamal dan Syu’aib.
_Saya adik Kenza, timpal Syu’aib.Lalu si polisi menginterogasi keduanya dan tidak menemukan sesuatu yang bias menjadi petunjuk untuk menangkap si pelaku. Kemudian ia kembali bertanya kepada Kenza:
_Kamu masih ingat wajah si pelaku?
_ Ya, tukas Kenza sambil menghapus air matanya.
_Tolong jelaskan!
_Ia berambut keriting dan tidak berkumis. Kemudian di wajahnya terdapat bekas luka di dagunya, jelas Kenza.
_Baiklah sekarang anda semua boleh pulang dan tolong tinggalkan alamat kalian di kertas ini agar kami mudah menghubungi kalian.
Syu’aib memohon kepada Kamal untuk membantunya dan bermamalam di rumahnya. Kali ini Ia tidak menolaknya. Ayoub Kherrazi lalu memberikan mereka nomor HPnya dan bersedia membantu bila ada masalah.
Sejak kejadian itu mereka bertiga jadi lebih akrab. Kamal seringkali mengunjungi mereka setelah pulang dari café untuk sekedar membantu dan menemani mereka. Perlahan Kenza menuai sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan ketika Kamal ada di rumahnya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia adalah seorang gadis Maroko yang shalihah.
Malam itu Syu’aib bekerja sendirian karena Kamal harus menggantikan Syeikh Abdel Fattah yang sedang mengurus majelis ta’lim di Hay Ennahda bersama para mahasiswa Daar El Hadist. Namun Kamal sudah berjanji akan datang ke rumahnya malam itu.
Di rumah, Kenza belum memejamkan matanya. Ia sedang merindukan sesuatu yang menggaggu pikirannya. Tak bisa ia pungkiri bahwa ia telah terperdaya oleh kesantunan dan kesalehan Kamal selama ini. Kini mereka pun sudah akrab. Namun Kamal hanya masuk ke rumahnya hanya ketika Syu’aib ada di rumah. Bila Syau’aib tidak ada maka ia akan menunggunya sampai ia datang. Kenza tahu bahwa menerima pria selain muhrimnya di rumah adalah haram baginya bila muhrimnya sedang tidak di rumah. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah tanpa salam. Kenza berpikir bahwa itu adalah Syu’aib atau Kamal. Namun apa yang menghalangi mereka untuk mengucapkan salam? Ia pun membukakan pintu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat pembunuh ibunya hadir di hadapannya dengan menodongkan pisau kepadanya. Si pembunuh itu langsung mengancamnya:
_Diam dan jangan berteriak atau kau akan sama seperti ibumu.
_Apa yang kau mau? Pergilah! Usir Kenza
_Ohh!!1 Aku belum dapat apa pun malam itu maka… si pembunuh itu masuk dan menutup pintu. Kini ia berada di dalam rumah bersama Kenza yang terpaku ketakutan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba si pembunuh itu menerkamnya dan mulai beraksi. Kenza berteriak sekeras mungkin. Dari kejauhan Kamal yang sedang menuju rumah Kenza mendengar teriakan dari suara yang sudah begitu akrab di telinganya itu. Ia langsung berlari ke rumah itu. Sementara Kenza berjuang mati-matian mempertahankan kehormatannya. Tiba-tiba pintu terbuka setelah didobrak oleh Kamal. Si pemabuk kaget dan bangkit sambil mengeluarkan pisaunya. Kenza bangkit dan berlari keluar…