Dalam sebuah acara talkshow ramadhan di sebuah TV emirates seorang penanya bertanya kepada seorang alim dari Mesir yang kebetulan adalah ketua dirasah di Al azhar, si penanya menanyakan satu hal yang sebenarnya “basi” karena berkali – kali orang pernah menanyakannya, pertanyaan itu adalah :
“bapak bagaimana hukum merokok? Apakah makruh (tidak mengatakan mubah) atau haram?”
Si penanya adalah orang yang telah tahu kalau merokok itu paling banter kalau pun bisa hanya sampai tingkatan makruh tidak pernah sampai mubah (boleh).
Syekh Azhar itu kemudian menjawab :
“kami mengatakan rokok itu makruh itu dulu tahun 80-an ketika kami hanya tahu kalo sebatang rokok menimbulkan bau yang tidak enak, lalu kami makruhkan karena baunya yang mungkin mengganggu orang lain ketika shalat, tapi sekarang ketika Ilmu kedokteran mengatakan kalau sebatang rokok mempunya 10 ribu lebih racun dalam tiap sedotan, apakah kemudian mungkin lalu kami katakan hanya makruh? Bukankah racun yang di kandung sebatang rokok melebihi racun yang di kandung alkohol? lalu apakah kami masih mungkin mengatakan hanya makruh?” jawab si syekh azhar panjang lebar.
Sungguh mengherankan bagaimana mungkin seorang manusia menyedot racun yang kemudian menggerogoti tubuhnya diam – diam, mengendap dalam alirah darah, menghancurkan satu persatu sel di dalam tubuh, merangsang sebuah penyakit bernama kanker tapi tetap saja orang menganggap merokok merupakan sebuah kesenangan yang perlu di budayakan, dari istana hingga gubuk reyot di petakan sawah.subhanallah
——————————
Dalam sebuah tayangan televisi seorang wartawan mewawancarai seorang tukang becak di ibukota dan dengan menyayat hati si tukang becak mengeluh tentang keadaan ekonomi yang semaki parah, harga makanan pokok yang mahal, ongkos pendidikan yang melambung dan ekonomi yang payah membuat orang semakin “pelit” dalam memberikan ongkos transport apalagi kepada tukang becak, tukasnya.
Si tukang becak mengeluh akan susahnya mencari uang untuk sekedar memberi anaknya jajan yang katanya baru sekolah SD, boro – boro sepuluh ribu lima ribu juga susah, tandas si tukang becak.
Namun tanpa di sadari sebenarnya di tangan si tukang becak selama wawancara itu terselip sebatang rokok yang menyala. Ingin rasanya saya bertanya berapa batang yang ia habiskan dalam sehari? Entah si tukang becak akan menjawab apa tapi bukankah harga satu batang rokok bisa mencapai 500 rupiah, jika dalam sehari dia menghabiskan 4 batang saja dia menghabiskan 2000 rupiah uang hasil peras keringatnya selama hari itu. Uang yang lumayan untuk jajan seorang anak, lalu alas an apakah yang akan di ajukan si tukang becak jika di Tanya seberapa berhargakah anaknya di banding sebatang rokok?.
Jika saja jawabannya “anakku lebih berharga dari apapun”, seharusnya sudah banyak orang berhenti merokok dari dulu, jika saja di sadari bahwa asap rokok itu bukan hanya meracuni diri sendiri tapi juga meracuni istri, anak, janin dalam kandungan dan semua yang ada di lingkungan.
Saya jadi ingat bahwa diantara doa orang yang mustajab adalah doa orang teraniaya, maka bolehkanlah saya mengajukan orang – orang perokok pasif sebagai kandidat terbanyak di jaman sekarang ini, jadi jika kita adalah termasuk dari mereka yang teraniaya, marilah kita banyak berdoa meminta surga! Jangan dunia! Siapa tahu kita bisa jadi ahli surga gara – gara kepulan asap rokok. amien