Bagaimana caranya menjelaskan ke anak bahwa dia akan mondok — tanpa membuatnya takut tapi juga tanpa membohonginya? Ini salah satu percakapan yang paling menantang bagi banyak keluarga. Beberapa pendekatan yang mungkin bisa membantu.
Apa yang sebaiknya disampaikan?
Sampaikan alasan yang jujur dan sederhana. Bukan karena anak nakal. Bukan karena keluarga tidak mau mengurus. Tapi karena ada hal-hal berharga yang bisa didapat di pesantren — teman dari berbagai daerah, kemampuan bahasa asing, kemandirian, dan fondasi agama yang kuat.
Berikan gambaran yang seimbang. Ya, akan ada kegiatan yang seru — olahraga, seni, teman baru. Tapi juga akan ada hal yang sulit — jauh dari rumah, aturan yang ketat, jadwal yang padat. Anak yang punya gambaran realistis biasanya lebih siap menghadapi kenyataan.
Dan dengarkan respons anak. Mungkin dia penasaran. Mungkin dia takut. Mungkin dia marah. Semua respons itu sah dan perlu didengar — bukan dibantah atau diabaikan.
Apa yang harus dihindari?
Jangan mengancam. Kalau kamu bandel, papa kirim ke pesantren — kalimat seperti ini membuat pesantren terkesan sebagai tempat hukuman. Jangan juga terlalu memaksa kalau anak menunjukkan penolakan yang sangat kuat. Dan jangan berbohong — bilang hanya sebentar padahal bertahun-tahun, atau bilang bisa pulang setiap minggu padahal tidak bisa.
Kejujuran adalah fondasi kepercayaan. Anak yang merasa dibohongi di awal akan lebih sulit percaya di kemudian hari.
Salah satu pesantren di Bogor
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining terbuka untuk dikunjungi bersama anak — agar anak bisa melihat sendiri dan membentuk pendapatnya berdasarkan pengalaman, bukan hanya cerita. Hubungi lewat WhatsApp 0812111180.