Cara Mengenal Allah

Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang apa saja keuntungan dari mengenal Allah swt, kini dengan bahasan yang sama-sama diambil dari materi Ta’lim bakda Shubuh yang disampaikan oleh Ust Cahyono, di Masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining 21 Februari 2013 akan dilanjutkan dengan pembahasan; “Cara Mengenal Allah.”

Allah adalah Dzat yang Mahadekat dengan kita. Alangkah beruntungnya siapa pun yang dapat mengenalnya. Berdasarkan keterangan dari al-Quran, Allah membimbing kita untuk mengenal-Nya. Diantaranya adalah dengan beberapa cara nerikut ini;

1) Memohon Kepada Allah

Suatu ketika ada seorang non muslim mendatangi rumah saya (Penulis, Red). Kami berbicara tentang banyak hal. Sedikit pun saya tidak mengajaknya berdebat, meski ia sendiri banyak bertanya. Ketika ia akan pulang, saya hanya berpesan, “Saudara! Mohonlah kepada Allah agar Dia membimbing saudara agar dapat menemukan-Nya. Insya Allah, Allah akan membimbing saudara.” Memang begitulah seharusnya kita memohon kepada Allah agar Dia berkenan menjadikan kita mengenal-Nya dengan sebenar-benarnya.

Internet
Internet

Dalam al-Quran kita bisa menemukan sebuah contoh menarik tentang hal ini. Kisah tentang Rasulullah Ibrahim a.s. Semula ia menyangka bintanglah Tuhannya. Kemudian ia berpaling karena bintang itu tenggelam. Begitu pula ketika bulan datang memunculkan cahaya temaramnya, ia menganggap inilah Tuhannya. Tapi saat bulan tenggelam, ia pun berpaling. Waktu terbit matahari, ia menganggap itulah Tuhannya. Namun saat matahari terbenam, beliau pun tidak mengakui matahari sebagai Tuhannya. Akhirnya, ia mengenal Allah, menunaikan syariat-Nya, bahkan menjadi kekasih-Nya.

2) Jangan Sombong

Dalam al-quran terdapat bukti yang menunjukkan betapa Allah sayang kepada manusia, makhluk yang diamanahinya untuk mengelola bumi. Bahkan Fir’aun yang jelas-jelas berbuat sangat jelek masih diberi kesempatan untuk mendapatkan rahmat-Nya. Hal ini terekam indah dalam al-Quran;

“Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci yaitu lembah Thuwa: Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun): Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut kepada-Nya.”

Namun Fir’aun tetap sesat, semua muncul dari kesombongannya sendiri. Memang sombong merupakan perbuatan dosa. Iblis diusir dari surga akibat sombong. Ia mengakui Allah tapi ia menolak perintah-Nya untuk menghormati Adam. Sebabnya ialah, iblis merasa dirinya lebih mulia daripada Adam yang diciptakan dari seonggok tanah. Sementara itu, iblis bangga karena ia diciptakan dari api yang menyala-nyala. Padahal sungguh, Allah sangat tidak menyukai kesombongan.

3) Gemar Mencari Ilmu

Wahai sahabat, sesungguhnya dengan ilmu hidup kita akan menjadi terang. Dengan ilmu, menjadi jelas arah yang dituju. Maka luangkanlah waktu untuk mencari ilmu.

4) Mengamalkan Ilmu

Adanya ilmu itu untuk diamalkan. Berlindunglah dari ilmu yang tidak diamalkan. Maka ketika kita tahu Allah senang kepada orang yang bersedekah, maka jangan lewatkan sehari pun tanpa sedekah. Ketika kita tahu Allah menyayangi orang-orang yang melantunkan ayat-ayat al-Quran maka segeralah jadikan al-Quran sebagai bacaan akrab keseharian kita. Ketika kita tahu Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, hendaknya kita berhati-hati jangan sampai kita menjadi orang yang menyakiti orang lain, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan kita.

Sungguh, barang siapa yang mengamalkan ilmu yang ia dapatkan, maka Allah akan mewarisinya dengan ilmu yang lain. Tidak apa-apa saat ini ilmu kita sederhana. Namun bila kita gigih mengamalkan ilmu yang ada, niscaya Allah akan menambahkannya.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (٣)

… Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS Ath-Thalaq: 3)

[WARDAN/@abuadara]_____________________

Disampaikan pada Talim Bakda Shubuh di Masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining oleh Ust Cahyono pada tanggal 21 Februari 2013, sumber dari buku Ma’rifatullah Abdullah Gymnastiar.