Anak yang melihat temannya menangis dan langsung bertanya “kamu kenapa?” — itu empati. Anak yang rela membagikan makanannya untuk teman yang tidak punya — itu empati. Anak yang merendahkan suaranya karena tahu teman sekamarnya sedang tidur — itu empati. Kemampuan ini terasa sederhana, tapi di zaman yang semakin individualis, ia menjadi semakin langka dan semakin berharga.
Kenapa empati semakin sulit tumbuh?
Karena interaksi semakin banyak terjadi lewat layar — di mana ekspresi wajah tidak terlihat, nada suara tidak terdengar, dan konsekuensi dari kata-kata tidak langsung terasa. Anak yang terbiasa berkomunikasi via chat sulit membaca emosi orang lain secara langsung. Kemampuan membaca emosi ini adalah fondasi empati — dan ia hanya bisa tumbuh dari interaksi tatap muka yang cukup intens.
Media sosial juga berkontribusi. Platform yang dirancang untuk menampilkan versi terbaik dari diri sendiri secara tidak langsung mengajarkan anak untuk fokus pada diri sendiri — bukan pada orang lain. Likes, views, dan followers menjadi ukuran nilai, menggeser perhatian dari “apa yang bisa aku berikan” menjadi “apa yang bisa aku dapatkan.”
Apa yang bisa dilakukan di rumah?
Pertama, beri contoh. Anak belajar empati bukan dari ceramah tentang empati, tapi dari melihat orang tuanya memperlakukan orang lain dengan perhatian. Cara kita memperlakukan petugas kebersihan, cara kita merespons berita duka, cara kita mendengarkan keluhan pasangan — semua ini diamati dan diinternalisasi anak.
Kedua, ajak anak merasakan perspektif orang lain. Ketika ia berkonflik dengan teman, tanyakan “menurutmu temanmu merasa bagaimana?” Latihan sederhana ini membangun kebiasaan mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum bereaksi.
Ketiga, libatkan anak dalam kegiatan yang melayani orang lain. Memasak untuk tetangga yang sakit, mengumpulkan donasi, atau sekadar membantu pekerjaan rumah — pengalaman memberi mengajarkan empati lebih kuat dari kata-kata mana pun.
Keempat, batasi waktu di dunia virtual dan perbanyak interaksi langsung. Empati tumbuh dari bertatap muka, merasakan energi orang lain, dan melihat langsung dampak dari kata dan tindakan kita. Ini tidak bisa direplikasi di balik layar.
Bagaimana lingkungan membentuk empati?
Lingkungan di mana orang hidup bersama — berbagi ruang, berbagi waktu, berbagi kesulitan — secara alami menumbuhkan empati. Ini prinsip yang sederhana: kita lebih peduli pada orang yang kita kenal secara dekat daripada yang hanya kita lihat di layar.
Pesantren, sebagai lingkungan komunal, memberikan banyak momen di mana empati tumbuh secara alami. Teman yang sakit diurus bersama. Teman yang sedih dihibur. Makanan dibagi rata. Barang dipinjamkan tanpa perhitungan. Bukan karena ada pelajaran khusus tentang empati — tapi karena hidup bersama ribuan orang tidak mungkin dijalani tanpanya.
Apakah semua santri otomatis empatik? Tentu tidak. Remaja tetap remaja — ada egoisme, ada momen tidak peka. Tapi lingkungan yang terus-menerus menuntut kepedulian terhadap orang lain perlahan membentuk kebiasaan yang lebih empatik dibandingkan lingkungan yang serba individual.
Apa yang perlu diingat?
Empati bukan bakat bawaan. Ini keterampilan yang dipelajari dari pengalaman, dari contoh, dan dari lingkungan. Di zaman yang semakin individualis, membangun empati membutuhkan usaha yang lebih sadar — karena lingkungan default tidak lagi mendukungnya seperti dulu.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menawarkan pengalaman hidup bersama yang cukup intensif. Empati tumbuh dari keseharian — berbagi kamar, berbagi makanan, saling menjaga. Bukan sempurna, tapi cukup nyata untuk membentuk kepedulian yang dibawa sampai lama setelah lulus.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Empati tidak tumbuh di balik layar. Ia tumbuh dari merasakan — secara langsung — apa yang dirasakan orang lain.