Pendidikan merupakan salah satu cara dalam merubah karakter manusia. Melalui pendidikan yang berkualitas. Masyarakat sebuah negara dapat berkembang menjadi sebuah kekuatan yang mampu menggerakkan roda perekonomian sebuah Negara. Sehingga dapat menghasilkan sebuah Negara yang kuat dan sejahtera. Hal tersebuat menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh negara Jepang setelah hancur porak poranda karena serangan bom atom Hiroshima pada tahun 1945. Namun dengan kekuatan pendidikan. Negara tersebut mampu dengan cepat mengembalikan keadaan negara yang kacau menjadi salah satu kekuatan perekonomian di Asia.

Indonesia sebagai sebuah negara besar di Asia. Telah melakukan beberapa cara untuk memperbaiki pendidikannya. Dari pengembangan kurikulum dan pengiriman pelajar ke beberapa negara maju untuk dapat mempelajari sistem pendidikan yang ada pada negara tersebut. Namun, belum mampu menyayingi percepatan kemajuan negara Jepang. Meskipun pada tahun 1980 Indonesia pernah menjadi rujukan pendidikan bagi negara-negara yang berada di Asia Tenggara.

Kejayaan tersebut ternyata tidak dapat bertahan  cukup lama. Lambat laun pendidikan Indonesia mulai mengalami kemunduran dengan semakin majunya perkembangan pendidikan di dunia. Dampak dari kumunduran tersebut adalah semakin rendahnya tingkat kesejahteraan masyakarat Indonesia.

Melihat fenomena tersebut. beberapa ahli pendidikan Indonesia menyimpulkan bahwa ada masalah dalam pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia lebih banyak menghasilkan manusia-manusia yang unggul dalam ranah pengetahuan (kognitif). Namun, lemah dalam ranah sikap spiritual dan sosial (afektif) serta ranah keterampilan (psikomotorik). Sehingga out put dari pendidikan tidak mampu dalam mengembangkan ilmu yang telah dimiliki dan peka dengan kondisi sekitarnya. Berdampak pada tumbuhnya manusia-manusia yang malas dan individualis.

Untuk dapat memperbaiki pendidikan di Indonesia tentu perlu adanya sinergi antara pemerintah, masyakat dan keluarga dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Sehingga  pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru. Namun menjadi tanggung jawab masyarakat dan orang tua. Meskipun pada saat ini beberapa sekolah menerapkan pola full day school. Namun, tetaplah peran orang tua menjadi kunci utama pendidikan terutama dalam pembentukan ranah sikap religius dan sosial.

Fenomena orang tua zaman now menganggap keberhasilan pendidikan anaknya merupakan tugas guru semata. Hal itu dikarenakan mereka merasa telah mengeluarkan uang yang banyak untuk menyekolahkan anaknya. Sehingga mereka berpendapat bahwa pendidikan anaknya cukup dilakukan di sekolah. Mereka tidak ada tanggung jawab lagi untuk mendidik anaknya yang hampir sehari penuh belajar di sekolah. Di rumah si anak saatnya untuk mengistirahatkan fisiknya dengan diberikan beragam fasiltas. Sehingga terkadang semua aturan yang telah disepakati di sekolah tidak berlaku saat anak berada di rumah.

Akibat dari tidak adanya kesinambungan antara pendidikan di sekolah dan rumah. Mulai muncul kekhawatiran pada orang tua terhadap perkembangan sikap religius dan sosial anak mereka. Hal itu dikarenakan semakin lama karakter si anak semakin tidak sesuai dengan harapan orang tua. Dengan munculnya kenakalan dan penentangan  dari mereka.

Sehingga beberapa orang tua bingung untuk melakukan tindakan apa dalam mengatasi permasalahan tersebut. Menurut mereka, semua kebutuhan dalam menunjang pendidikan di sekolah yang diberikan kepada anak mereka jauh berbeda dengan apa yang pernah didapatkan mereka dahulu. Setelah mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Dilanjutkan dengan pendidikan non formal di bimbel. Tidak cukup dengan bimbel, ada juga orang tua yang khusus memanggil guru ke rumah untuk membantu anaknya dalam membahas pelajaran sekolah dan di tambah dengan belajar mengaji untuk meningkatkan sikap religiusnya.

Orang tua zaman old mampu membuat anak-anak mereka menjadi seorang yang memiliki ranah sikap religius dan sosial dengan karakter mandiri, disiplin, tanggung jawab, taat beribadah, pantang menyerah dan jujur. Meskipun latar belakang pendidikan orang tua saat itu  tidak banyak yang mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah. Terkadang ada orang tua yang tidak bersekolah. Mendidik beberapa orang anaknya dengan pemenuhan gizi dan pendidikan yang seadanya.

Apabila dibandingkan dengan keadaan sekarang tentu sangatlah bertolak belakang. Perhatian dalam keseimbangan gizi telah diperhatikan dari si anak berada dalam kandungan hingga saat ini. Seorang ibu hamil sudah banyak memakan suplemen untuk menjaga dan membentuk pertumbuhan fisik dan otak anak. Setelah lahir pemenuhan pendidikpun mulai diperhatikan oleh orang tua dengan memasukkan anak mereka pada pendidikan anak usia dini. Namun pada kenyataannya, tidak semua usaha yang dilakukan tersebut mampu membentuk sebuah sikap yang tetap pada si anak dalam melakukan sesuatu. Dari permasalahan tersebut tentu ada sesuatu harus diperbaiki dan ditemukan jalan pemecahannya.

Permasalahan yang dihadapi orang tua zaman now banyak yang tidak menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam pembentukan sikap religius dan sosial untuk membentuk karakter mandiri, disiplin, tanggung jawab, taat beribadah, pantang menyerah dan jujur. Mereka hanya mengambil peran sebagai orang tua yang hanya disibukkan dengan dunia untuk mencari nafkah sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, hiburan dan pendidikan anaknya. Namun, lupa untuk mengambil perannya sebagai orang tua secara utuh, yaitu sebagai teladan bagi anak-anaknya di rumah. Semakin mengkhawatirkan dengan kedua orang tua yang memiliki peran yang sama dalam keluarga yaitu sebagai pencari nafkah. Sehingga peran suri tauladan di ambil oleh bibi atau mbak yang membantu di rumah.

Sehingga karakter yang telah di bentuk di sekolah tanpa adanya kesinambungan dengan rumah tentu akan sia-sia. Meskipun sekolah tersebut merupakan sekolah yang memiliki standar pendidikan di atas rata-rata sekolah yang ada. Akibatnya hanya ada pembentukan ranah kognitif pada anak yang berasal dari sekolah. Sehingga menciptakan anak yang pintar, namun tidak berkarakter. Selalu memperoleh rangking kelas. Namun, tidak memiliki sikap sopan terhadap orang yang lebih tua. Mengetahui dan paham dengan tata cara shalat. Namun, tidak mau melaksanakannya.

Oleh karena itu, maka orang tua zaman now harus memperbaiki mind setnya dalam melihat pendidikan. Apabila tidak ingin melihat anak-anaknya menjadi generasi yang malas dan individualis. Mulailah untuk mengambil peran sebagai teladan bagi anaknya dan selalu bekerjasama dengan sekolah dalam pembentukan ranah religius dan sosial mereka secara berkesinambungan.

Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik-buruknya anak. Jika seorang pendidik atau orang tua jujur, dapat dipercaya, berani, berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama dan susila. Maka anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dalam akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebaliknya jika pendidik atau orang tua adalah seorang pembohong, penghianat, orang yang kikir, penakut dan hina. Maka anak akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut, dan hina.

Ketaladanan harus dimulai dari lingkungan rumah yaitu berasal dari orang tua. Dalam pembentukan sikap beribadah. Untuk membentuk kecintaan anak sholat di masjid. Maka orang tua harus menjadi teladan cinta sholat di masjid. Meskipun sedang berada di luar tidak dilihat oleh anak. Namun, harus berkeyakinan bahwa sesungguhnya Allah melihat dan mencintai orang menjaga kata-katanya. Apabila bisa menjaga perkataan yang telah diucapkannya dengan kukuh dalam bentuk teladan. Maka Allah akan menjaganya dan membukakan  hati bagi orang yang ingin diubahnya. Seperti anak kita, teman kita atau lebih luas lagi lingkungan kita. Setelah dia telah meneladani orang tua untuk melakukan ibadah sholat. Maka harus selalu dijaga dan diingatkan. Sehingga perbuatan yang dia lakukan menjadi sesuatu yang biasa dilakukan dan tidak nyaman baginya apabila perbuatan tersebut tidak dilakukan atau terlewatkan.

Keteladanan tidak cukup hanya dilakukan dalam waktu yang terbatas. Namun keteladanan tersebut harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Pembentukan anak bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Merubah sebongkah kayu jati menjadi lemari atau kursi jati yang bisa diperjualbelikan atau menghasilkan. Pembentukan sesuatu pada anak harus dilakukan hingga berulang-ulang tanpa ada batasan waktu. Namun hingga dia mengerti untuk apa perbuatan tersebut dilakukan.

Dengan adanya sinergi antara pemerintah dengan terus mengembangkan kurikulum yang lebih berkarakter. Guru yang terus memperbaiki gaya mengajarnya lebih inovatif dan menarik. Orang tua yang menjadi teladan dalam pembentukan ranah sikap religius dan sosial. Tentu akan menghasilkan generasi-generasi masa depan yang religius, nasionalis, mandiri, integritas, dan gotong royong.(Wardan.maghfur)