Sebagai makhluk Allah yang sempurna yang sudah berikrar bahwa tiada zat yang berhak untuk disembah kecuali Allah yang maha perkasa nan agung dan bahwasanya Muhammad SAW adalah nabi dan Rasul akhir zaman. Untuk itu marilah kita tingkatkan mutu keimanan kita serta kwalitas dan kwantitas ketaqwaan kita kepada rabbul jalil Allah swt. Banyak cara yang bisa kita gunakan sebagai media untuk peningkatan keimanan dan ketaqwaan tersebut. Yang salah satunya ialah memanfaat jatah umur yang telah Allah gariskan kepada kita dengan mengisi tiap saat dengan kegiatan ubudiyah. Ibadah tidak hanya shalat, ibadah bukan sekedar shadaqah, ibadah tidak hanya berupa puasa ibadah pun tidak hanya haji, namun perkataan apa saja, kapan dan dimana saja yang sekiranya bisa menjadi ridha Allah sudah bisa dikategorikan sebagai ibadah. Selalulah kita mengadakan muhasabah, introspeksi, mawas diri, apakah amal baik yang sudah kita lakukan sudah lebih banyak, seimbang atau lebih sedikit ketimbang amal yang penuh sia-sia dan berdosa. Dengan kita memperbanyak muhasabah diharapkan bisa menjadi stimulus untuk terus beramal shaleh.

Masa Di dunia ini ada dua belas bulan, atau 365 hari, 8.760 jam, 525.600 menit dalam satu tahun. Begitulah ketetapan Allah yang telah menetapkan hitungan waktu bagi manusia. Namun diantara kedua belas bulan tersebut ada 4 bulan yang memiliki keistimewaan tersendiri yaitu bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom dan rajab, keempat bulan tersebut dalam Al-Qur’an disebut dengan asyhurul hurum, bulan-bulan yang dihormati, begitulah para mufassir memberikan keterangan berkaitan dengan keempat bulan tersebut Tanpa kita sadari, perputaran jarum jam, pergantian hari, minggu dan bulan bulan Rajab telah meninggalkan kita dan menghantarkan kita pada hari yang keujuh di bulan Sya’ban tahun 1423 H ini. Ketetapan adanya duabelas bulan dalam setahun sesuai dengan Firman Allah SWT.

DSC_3314Artinya : “sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Ia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, da perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasabya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa. (QS. Attaubah :36)

Sebagaimana ayat tersebut diatas, para mufasir memasukkan Bulan Sya’ban yang memiliki keistimewaan tersendiri yang masih ada kaitannya dengan bulan Rajab. Yahya bin ma’adz mengatakan bahwa, dalam kata sya’ban terdiri dari lima huruf :
Pertama huruf Syin berarti ????? ???????? yaitu bulan yang penuh kemulyaan dan pertolongan
Kedua huruf A’in yang berarti ????? ???????? yaitu bulan yang penuh dengan kemengan dan kemulyaan
Ketiga huruf ba’ yang berarti ????? yaitu hari yang penuh dengan kebaikan.
Keempat adalah huruf Alif ?????? yaitu bulan seribu persahabatan
Dan yang terakhir adalah huruf nun ????? yang berarti bulan yang penuh dengan cahaya.
???? ??? : ??? ?????? ????? ?????? ?????? ????? ?????? ?????? ?????
Bulan rajab berfungsi untuk menyucikan badan, bulan sya’ban untuk menyucikan hati serta ramadhan yang sebentar lagi menghampiri kita berfungsi untuk menyucikan ruh. Bahkan ada sebagian hukama’ yang berpendapat bahwa bulan rajab adalah momen untuk mohon ampun atas segala dosa, bulan sya’ban untuk mereformasi hati dari perbuatan yang cela dan hina dan ramadhan untuk memberikan obor bagi hati yang gelap serta lailatul qadar kita manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini dipertegas oleh hadits Rasulullah saw,

“Barang siapa yang melakukan puasa tiga hari diawal sya’ban, tiga hari dipertengahannya, dan tiga hari di akhir sya’ban niscaya Allah akan mencatat pahala, selayaknya pahala puasanya tujuh puluh nabi, dan bagaikan pahala orang yang beribadah 70 th. Dan jikalau ia meninggal pada tahun tersebut, maka nicaya ia digolongkan sebagai matinya orang yang syahid”. Allahu Akbar.

Sebagaimana keterangan tersebut diatas bahwa bulan Sya’ban adalah momen yang tepat untuk menyucikan hati. Karena pada dasarnya, hati manusia diciptakan Allah dalam keadaan fitrah, namun perjalanan hidupnya, hati manusia sering terkontaminasi dengan dengan penyakit-penyakit hati, yang bisa menghantarkan manusia ke jurang kenistaan, bahkan lebih nista daripada hewan, karena mata, telinga dan hatinya sudah mau melihat, mendengar dan merasa kalam Allah, itu berarti hati manusia sudah terkotori oleh penyakit hati.

Imam Ghozali memberikan komentar yang berkenaan dengan penyakit hati yang biasanya mengotori hati dan gagalnya menjadi jauhnya hati yang bersih,
Pertama, beliau mengomentari soal nafsu. Nafsu biasa identik dengan kemauan yang tinggi yang tidak mengindahkan akal sehat serta dzahir kita. Dan biasanya nafsu tersebut mengejar harta, kedudukan, taklid dan maksiat. Karena empat hal itulah yang akan menutupi tujuan mulia yaitu beribadah dan mu’amalah dengan ikhlas. Keempat sifat tersebut tidak bisa dihilangkan karena ketiadaan kemauan untuk membuang serta tipisnya keimanan.

Kedua, Imam Ghozali menyoroti tentang syahwat perut. Statemen yang ia ungkapkan bahwa sumber segala dosa adalah syahwat perut, dan dari situlah timbul syahwat kemaluan.
Ketiga, komentar yang disampaikan berkenaan dengan lisan. Beliau mengatakan bahwa bahaya yang ditimbulkan dari lisan lebih besar bahayanya yang bisa mendatangkan kebinasaan. Keempat, beliau memberikan opini tentang marah dan dengki. Marah diibaratkan dengan api yang tersembunyi dalam hati seperti api yang bersembunyi didalam debu yang suau saat bisa membakar apa saja yang mendekat padanya. Sedangkan dengki adalah akibat dari marah, marah timbul dari adanya ejekan dan celaan. Maka janganlah mencela apa dan siapa saja.

Kelima, hal yang dikomentari adalah cinta harta dan kikir. Komentar yang beliau kemukakan didasarkan atas sabda Rasulullah SAW, “cinta harta dan kemuliaan menumbuhkan sifat munafik, sebagaimana air menumbuhkan tanaman”, begitu pula dengan sifat kikir juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “janganlah kamu bersifat kikir, karena sifat tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kamu. Sifat itu menyebabkan mereka menumpahkan darah mereka sehingga melanggar apa-apa yang diharamkan atas mereka” . Keenam, soal jabatan dan riya’. Jabatan atau kedudukan itu disukai oleh hati. Maka seseorang tidak akan meningalkan kesukaan tersebut kecuali para siddiqien (orang yang jujur terhadap dirinya sendiri dengan pertanyaan yang mendalam “man ana ?”). Oleh karena itu hal yang paling dikeluarkan pertama dari pikiran para siddiqin adalah cinta kedudukan. Sedangkan riya’ itu haram dan pelakunya sangat dibenci oleh Allah, hal ini tercermin dalan QS. Al-Ma’un ayat 4-6

“maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’”
Ketujuh, beliau menyoroti soal sombong dan membanggakan diri. Arti kesombongan adalah sifat pada diri seseorang yang timbul karena melihat pada dirinya sendiri. Kesombongan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan tidak mau tunduk pada syari’atnya adalah sebuah kekufuran mutlak.

Itulah sedikit gambaran tentang penyakit hati yang akan merendahkan martabat manusia dihadapan manusia sendiri maupun dihadapan Allah SWT.
Maka bagaimanakah penyakit tersebut bisa lenyap dari dalam diri kita ?. salah satunya kita harus mengisi hati kita dengan bertaubat segera dari kesalahan yang kita lakukan, bersabar dengan ujian yang Allah berikan, bersyukur dengan karunia yang Allah amanatkan kepada kita, selalu berharap atas kasih sayang dan ridha-Nya, takut akan ancaman yang amat pedih, ikhlas dan jujur pada diri sendiri.

Manusia memang tiada puasnya dengan apa yang telah ia miliki, ia akan selalu berusaha dengan sekuat tenaga serta menggunakan cara apa saja, agar apa yang diimpikan bisa terwujud menjadi kenyataan. Namun perlu kita pahami dan kita renungkan bersama, bahwa manusia itu oleh Allah dititah sama namun dijatah beda. Maka jangan iri dengan tetangga, jangan dengki dengan sesama, jangan sakit hati dengan saudara, syukuri dengan apa yang ada dan jangan suka memaksakan kehendaknya.
akhirnya, dengan moment sya’ban mari kita bersama meningkatkan mutu dan kwantitas ibadah kita, agar kita benar-benar bisa menata hati ini dengan mengisi sifat-sifat yang bisa mendekatkan diri kita dengan yang maha kuasa. ????? ???? ??? ?? ??? ?????? ?????? ????? “Ya Allah Berkahilah bulan rajab dan sya’ban kami, sampaikanlah kami pada bulan romadlon”.
Dalam karya besarnya Imam Syafi’I dalam“Diwan Asysyafi’i” membuat sya’ir :

+ Ya Allah, Engkau cukup bagiku dan hati ini hanya untuk-Mu saja. Aku pasrahkan diriku
kepada-Mu sekiranya Engkau berkenan menerimanya.
+ Aku tidak peduli kapan saja kasih sayang-Mu Engkau berikan kepadaku. Tak sebatang
kayupun yang dapat merintanginya.
+ Ketika aku memberi maaf dan tidak dengki kepada orang lain, maka jiwaku merasa tentram
dari kemelut permusuhan.
+ Sesungguhnya aku senantiasa memberi hormat kepada musuhku bilamana bersua, dan
dengan penghormatan itu kutolak kejahatan.
+ Aku selalu menampakkan kegembiraan kepada setiap orang yang marah kepadaku, karena
aku ingin mengisi hatiku dengan sifat kasih sayang.
[DR]

——

Disampaikan pada Khutbah Jum’ah tgl 31 Juli 2009
Oleh : Muhammad Muddatsir, S.Hi