Ikhlas itu mempunyai bukti penguat dan tanda-tanda yang banyak sekali, contohnya dalam kehidupan  orang  yang  mukhlis;  dalam  tindak-tanduknya,  dalam  pandangan  terhadap dirinya dan juga orang lain. Di antaranya adalah:

  • Takut Kemasyhuran

Takut kemasyhuran dan menyebarnya kemasyhuran ke atas dirinya, lebih-lebih lagi jika  dia  termasuk  orang yang  mempunyai  pangkat tertentu.  Dia perlu yakin  bahwa penerimaan amal di sisi Allah hanya  dangan  cara  sembunyi-sembunyi, tidak secara terang-terangan dan diumumkan.

Maka dari itu zuhud dalam masalah kedudukan, kemasyhuran, penampilan dan hal-hal yang serba gemerlap lebih besar daripada zuhud dalam masalah harta, syahwat perut dan kemaluan. Al-Imam Ibn Syihab az-Zuhri berkata: “Kami tidak melihat zuhud dalam hal tertentu  yang  lebih  sedikit  daripada  zuhud  dalam  kedudukan.  Engkau  melihat  seseorang berzuhud dalam masalah makanan, minuman dan harta. Namun jika kami membahagi- bahagikan kedudukan, tentu mereka akan berebut dan meminta lebih banyak lagi.”

Inilah yang membuat para ulama salaf dan orang-orang shaleh antara mereka mengkhawatirkan dan menyangsikan hatinya dari ujian kemasyhuran, penipuan dan kedudukan. Oleh karena itu mereka memperingatkan hal ini kepada murid-muridnya. Begitu pula yang dikatakan seorang zuhud yang terkenal, Ibrahim bin Adham, “Allah tidak membenarkan orang yang suka kemasyhuran.”

Al-Fudhayl  ibn  Iyadh  berkata,  “Jika  engkau  sanggup  utk  tidak  dikenal,  maka lakukanlah. Apa sukarnya engkau tidak dikenal? Apa sukarnya engkau tidak disanjung-sanjung? Tidak mengapalah engkau tercela di hadapan manusia selagi engkau terpuji di sisi Allah.”

Kemasyhuran itu sendiri bukanlah suatu yang tercela. Tiada yang lebih masyhur daripada para Anbia’, al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dan imam-imam mujtahidin. Tetapi yang tercela adalah mencari  kemasyhuran,  takhta  dan  kedudukan,  serta  sangat  bercita-cita mendapatkannya. Kemasyhuran tanpa cita-cita ini tidaklah menjadi masalah, sekali pun ia tetap menjadi ujian bagi orang-orang yang lemah, seperti yang dikatakan oleh Imam al- Ghazali.

Sejajar dengan pengertian ini yang telah disebutkan dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Baginda pernah ditanya tentang seorang lelaki yang melakukan suatu amal kebajikan karena Allah, lalu orang ramai menyanjungnya.

 

Maka Baginda menjawab, “Itu karunia yang didahulukan, sekaligus khabar gembira bagi orang Mu’min.”  (HR Imam Muslim, Ibn Majah dan Ahmad)

Ada pula lafaz lain,“Seseorang melakukan amal karena Allah lalu orang-orang pun menyukainya..”

Pengertian seperti inilah yang ditafsirkan oleh al-Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibn Jarir at-Thabary dan alin-lainnya.

Begitu pula hadits yang ditakhrij Imam at-Tirmidzi dan Ibn Majah, dari hadits Abu Hurairah,  bahwa  ada  seorang  lelaki  berkata,  “Wahai  Rasulullah,  ada  seorang melakukan suatu amal dan dia pun senang melakukannya. Setiap kali dia melakukannya kembali, maka dia pun berasa takjub kepadanya.”

Baginda bersabda, “Dia mempunyai dua pahala, pahala karna merahasiakan dan pahala memperlihatkan.”

  • Menuduh Diri Sendiri

Orang yang mukhlis sentiasa menuduh diri sendiri sebagai orang yang berlebih-lebihan di sisi Allah dan kurang dalam melaksanakan pelbagai kewajiban, tidak mampu menguasai hatinya karena terpedaya oleh suatu amal dan takjub pada dirinya sendiri. Malahan dia sentiasa takut andaikata keburukan-keburukannya tidak diampunkan dan takut kebaikan-kebaikannya tidak diterima.

Karena sikap seperti ini, ada sebagian di antara para salaf yang menangis tersedu-sedu ketika jatuh sakit. Beberapa orang yang menziarahinya bertanya, “Mengapa engkau masih menangis, padahal engkau suka berpuasa, mendirikan solat malam, berjihad, mengeluarkan sedekah, haji umrah, mengajarkan ilmu dan banyak berzikir?”

Beliau menjawab, “Apa yang membuatkanku tahu bahwa hanya sedikit dari amal-amalku yang masuk dalam timbanganku dan juga diterima di sisi Rabb-ku? Sementara Allah telah berfirman, Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertaqwa,”

Satu-satunya sumber taqwa adalah hati. Maka dari itu al-Quran menambahinya dengan firman Allah yang bermaksud: “Maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati..” (al-Hajj: 32)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Taqwa itu ada di sini,” Baginda mengulanginya tiga kali dan menunjuk ke arah dadanya.  (HR Imam Muslim)

Sayyidah Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang- orang yang dinyatakan dalam firman Allah bermaksud: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”  (al-Mu’minun: 60)

“Apakah mereka orang-orang yang mencuri, berzina, meminum khamar dan mereka takut kepada Allah?”

Baginda menjawab, “Bukan wahai puteri as-Shiddiq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang mendirikan solat, berpuasa, mengeluarkan sedekah, dan mereka takut amalnya tidak diterima. Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehinya.”   (HR Imam Ahmad dan lain- lainnya)

Orang yang mukhlis sentiasa takut terhadap riya’ yang menyusup ke dalam dirinya, sedang dia tidak menyedarinya. Inilah yang disebut syahwah khafiyyah yang menyusup ke dalam diri orang yang meniti jalan kepada Allah tanpa disedarinya.

Dalam hal ini Ibn ‘Atha’illah memperingatkan, “Kepentingan peribadi dalam kederhakaan amat jelas dan terang. Sedangkan kepentingan peribadi di dalam ketaatan tersamar dan tersembunyi. Padahal menyembuhkan apa yang tidak nampak itu amat sukar. Boleh jadi ada  riya’ yang masuk ke dalam dirimu  dan orang lain juga tidak melihatnya.  Tetapi kebanggaanmu  bila  orang  lain  melihat  kelebihanmu  merupakan  budi ketidakjujuranmu  dalam  beribadah.  Maka  kosongkanlah  pandangan  orang  lain terhadap dirimu. Cukup bagimu pandangan Allah terhadap dirimu. Tidak perlu bagimu tampil di hadapan mereka agar engkau terlihat di mata mereka.”

  • Beramal Secara Diam-Diam, Jauh Dari Liputan

Amal yang dilakukan secara diam-diam harus lebih disukai daripada amal yang disertai liputan dan  diiklankan.  Dia  lebih  suka  memilih  menjadi  prajurit  bayangan  yang  rela berkorban, namun tidak diketahui dan tidak dikenali. Dia lebih suka memilih menjadi bagian dari suatu jamaah, ibarat akar pohon yang menjadi penyokong dan saluran kehidupannya, tetapi tidak terlihat oleh mata, tersembunyi di dalam tanah; atau seperti asas bangunan. Tanpa asas, dinding  tidak  akan  berdiri, atap  tidak  akan  dapat  dijadikan berteduh dan bangunan tidak dapat ditegakkan. Tetapi ia tidak terlihat, seperti dinding yang terlihat jelas. Syauqy berkata di dalam syairnya: “Landasan yang tersembunyi tidak terlihat mata karena merendah bangunan yang menjulang tinggi di atasnya dibangun megah”

Di bagian sebelum ini telah dikemukakan hadits Mu’adz, “Sesungguhnya Allah menyintai orang-orang yang berbuat kebaikan, bertaqwa dan menyembunyikan amalnya, ia itu jika  tidak hadir  mereka tidak diketahui.  Hati mereka adalah  pelita-pelita  petunjuk. Mereka keluar dari setiap tempat yang gelap.”

  • Tidak Memerlukan Pujian Dan Tidak Tenggelam Oleh Pujian

Tidak meminta pujian orang-orang yang suka memuji dan tidak bercita-cita mendapatkannya. Jika ada seseorang memujinya, maka dia tidak terkecoh tentang hakikat dirinya di hadapan orang yang memujinya, karena memang dia lebih mengetahui tentang rahasia hati dan dirinya darip orang lain yang boleh tertipu penampilan dan tidak mengetahui batinnya.

Ibn ‘Atha’illah berkata, “Orang-orang memujimu dari persangkaan mereka tentang dirimu. Maka adalah engkau orang yang mencela dirimu sendiri karena apa yang engkau ketahui pada dirimu. Orang yang paling bodoh adalah yang meninggalkan keyakinannya tentang dirinya karena ada persangkaan orang-orang tentang dirinya.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa jika dipuji orang lain maka beliau berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan. Berikanlah kebaikan kepadaku dari apa yang tidak mereka ketahui.”

Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anh berkata kepada orang-orang yang mengekori dan mengerumuninya, “Andaikata kamu tahu alasanku menutup pintu rumahku, dua orang antara kamu pun tidak akan dapat mengikutiku.” Padahal beliau adalah sahabat yang menonjol, pemuka petunjuk dan pelita Islam.

Sekumpulan orang memuji seorang Rabbani. Lalu dia mengadu kepada Allah sambil berkata, “Ya Allah, mereka tidak mengenalku dan hanya Engkaulah yang mengetahui siapa diriku.”

Salah seorang yang shaleh bermunajat kepada Allah, karena sebahagian orang ada yang memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan dan kemuliaan akhlaknya:

“Mereka berbaik sangka kepadaku Padahal hakikatnya tidaklah begitu. Tetapi aku adalah orang yang zalim Sebagaimana yang Engkau ketahui. Kau sembunyikan semua aib yang ada dari pandangan mata mereka”

  • Berbuat Selayaknya Dalam Memimpin

Orang yang mukhlis karena Allah akan berbuat selayaknya ketika menjadi pemimpin di barisan  terdepan  dan tetap  patriotik  ketika  berada paling  belakang,  selagi  dalam dua keadaan ini dia  mencari keredhaan Allah. Hatinya tidak dikuasai kesenangan untuk tampil, menguasai barisan dan menduduki jabatan strategi dalam kepimpinan. Tetapi dia  lebih  mementingkan  kemashlahatan  bersama  karena  takut  ada  kewajipan  dan tuntutan kepimpinan yang dia lewatkan.

Apa pun keadaannya dia tidak bercita-cita dan tidak menuntut kedudukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi jika dia dibebankan tugas sebagai pemimpin, maka dia melaksanakannya dan memohon pertolongan kepada Allah agar dia mampu melaksanakannya dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mensifatkan kelompok orang seperti ini dalam sabda Baginda yang bermaksud:

“Keuntungan bagi hamba yang mengambil tali kendali kudanya fi sabilillah, yang kusut kepalanya dan yang kotor kedua telapak kakinya. Jika kuda itu berada di barisan belakang, maka dia pun berada di kedudukan penjagaan.”  (HR Imam Bukhari)

Allah meredhai Khalid bin al-Walid yang diberhentikan sebagai komandan pasukan, sekali pun beliau seorang komandan yang sentiasa mendapat kemenangan. Setelah itu beliau pun menjadi orang bawahan Abu Ubaidah tanpa rasa rendah diri. Dalam kedudukan seperti itu pun beliau tetap ikhlas memberikan pertolongan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan seandainya ada seseorang yang meminta jabatan dan sengaja untuk mendapatkannya. Telah disebutkan di dalam as- Shahih, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah:

“Janganlah engkau memimta jabatan pemimpin. Karena jika engkau memperoleh jabatan itu tanpa meminta maka engkau akan mendapat sokongan, dan jika engkau memintanya, maka semua tanggungjawab akan dibebankan kepadamu.” (Muttafaq ‘Alaihi)

  • Sabar Sepanjang Jalan

Perjalanan  yang  panjang,  lambatnya  hasil  yang  diperoleh,  kejayaan  yang  tertunda, kesulitan dalam bergaul dengan pelbagai lapisan manusia dengan perbedaan perasaan dan kecenderungan mereka, tidak boleh membuatnya menjadi malas, bersikap pesimis, mengundurkan diri, atau berhenti di tengah jalan. Sebab dia berbuat bukan sekadar untuk sebuah kejayaan atau pun kemenangan, tetapi yang paling pokok tujuannya adalah untuk keredhaan Allah dan menuruti perintahNya.

Nabi Nuh ‘alaihissalam, pemuka para anbia’, hidup di tengah kaumnya selama 950 thn. Beliau berdakwah dan bertabligh, namun hanya sedikit sekali yang mau beriman kepada beliau.  Padahal  pelbagai  cara  dakwah sudah ditempuh, waktu  dan  bentuk dakwahnya juga pelbagai cara, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah melalui perkataan beliau:

“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan terlalu menyombongkan diri.” (Nuh: 5-7)

Sekali pun harus menghabiskan masa selama 950 thn, beliau tetap menyeru kaumnya dan akhirnya ada 40 orang yang bergabung bersama beliau. Sedangkan kaumnya yang lain berpaling dari beliau, sekali pun beliau sangat berharap mereka mau beriman.

Al-Quran telah mengisahkan kepada kita individu-individu Mu’min di dalam surah al-Buruj. Mereka rela mengorbankan nyawa fi sabilillah dan mereka tidak mengatakan, “Kematian ini dapat memberi apa-apa manfaat terhadap dakwah kita?”

Mereka   tidak   berkata   seperti  itu,   karena  mereka   mempunyai   keteguhan   hati  dan pengorbanan. Kejayaan dakwah ada di tangan Allah. Siapa yang tahu kalau pun darah mereka itu merupakan santapan lezat bagi pohon iman generasi berikutnya?

Sesungguhnya di akhirat Allah tidak akan bertanya kepada manusia, “Mengapa engkau tidak memperoleh kemenangan?” Tetapi Dia akan bertanya, “Mengapa engkau tidak berusaha?”

Allah tidak bertanya, “Mengapa engkau tidak berjaya?” Tetapi Dia bertanya, “Mengapa engkau tidak melakukannya?”

  • Rakus Terhadap Amal Yang Bermanfaat

Di antara bukti ikhlas adalah rakus terhadap amal yang paling diredhai Allah, dan bukan yang paling diredhai oleh dirinya sendiri. Sehingga orang yang mukhlis lebih mementingkan amal yang lebih banyak manfaatnya dan lebih mendalam pengaruhnya, tanpa disusupi hawa nafsu dan kesenangan diri sendiri.

Ada seorang penderma dari salah satu negara kaya yang berkunjung ke Afrika untuk membangun sebuah masjid. Di sana dia ditemui oleh para wakil masyarakat, yang mengusulkan akar dia membaiki beberapa masjid lama yang hampir roboh. Sementara masjid-masjid itu berada di tempat strategis di tengah permukiman penduduk dan keberadaannya sangat diperlukan. Tabung yang mestinya untuk membangun satu masjid yang direncanakan, cukup unttk membaiki sepuluh masjid lama yang sudah ada dan hampir roboh itu. Tetapi ternyata dia menolak, kecuali jika namanya digunakan untuk nama-nama masjid tersebut. (red_______________Dari. Yusuf al-Qaradhawi).