Menu

Budayakan Shalat Witir

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Dikatakan bahwa Rasulullah saw menyatakan, Witir itu adalah benar adanya, barangsiapa yang tidak melakukan shalat witir, dia tidak termasuk golongan kami.  Menurut hadits tersebut dikatakan bahwa orang yang tidak melaksanakan shalat witir, tidak diakui sebagai umat nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw melakukan shalat witir setiap malam, baik itu Ramadhan maupun bukan Ramadhan. Untuk itu, kita sebagai umatnya mestinya kita harus mencontoh. Karena Rasulullah diutus untuk menjadi contoh, untuk ditiru, menjadi rahmat untuk sekalian alam.

100_7640Lalu kalau kita tidak diakui sebagai umat Muhammad saw, mau ikut siapa? Mau masuk golongan umat nabi yang mana? Mau ikut nabi Adam as? Tidak akan diakui. Jelas berbeda, tubuh umat nabi Adam as besar-besar, sedangkan kita kecil-kecil begini. Mau ikut umat siapa? Nabi Nuh juga begitu, tinggi dan besar. Umurnya juga panjang-panjang. Maka kalau kita tidak melaksanakanshalat witir ini, di ancam tidak digolongkan dan tidak dianggap umat nabi Muhammad saw.

Makanya dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah ra, menyatakan bahwa shalat witir itu ‘wajib’. Jumlah shalat wajib bagi Imam Abu Hanifah ra, dan para pengikutnya ada enam. Selain yang lima yaitu  shubuh, dzuhur, ashar, maghrib dan Isya, maka ditambah lagi dengan witir. Mereka tidak pernah meninggalkan witir. Nah, sedangkan kita kerjanya meninggalkan witir. Shalat witir kita lebih sedikit dari pada yang tidak digunakan untuk witir.

Tentunya kita ingin sekali bahwa kita tetap diakui sebagai umat nabi Muhammad saw, bahkan kita ingin hidup kita ini di cintai oleh Allah swt. Dan kunci agar kita dicintai Allah adalah  kita harus mengikuti apa yang dilakukan oleh nabi Muhammad saw.  Allah swt sudah memberikan petunjuk, ‘Katakan Muhammad, jika benar-benar kamu mencintai Allah ikutilah Aku, maka Allah akan mencintai kamu. Dan Allah akan mengampuni dosa-dosamu.

DSC_3824Suatu hal yang lucu manusia tidak ingin dicintai oleh Allah, atau hal yang lucu juga ingin dicintai tetapi tidak mau melakukan perintah dari yang dicintai. Padahal kalau kita cinta kepada barang, cinta kepada hewan peliharaan kelinci dirumah misalnya, sudah barang tentu akan diingat kemanapun pergi, bagaimana harus memberinya makan dan sebagainya. Tandanya tidak cinta kalau punya peliharaan, tetapi tidak pernah peduli dengan barang atau peliharaan tersebut.

Allah Maha Kaya. Allah Maha Pemurah, Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang, maka kalau kita dicintai oleh Allah swt Allah akan membalas cinta kepada kita. Kalau kita mencintai barang, belum tentu barang itu mencintai kita. Tetapi kalau pada Allah, jelas Allah akan mencintai kita. Oleh karena itu kita lakukan shalat witir. Kapan melakukannya? Setiap malam. Bulan-bulan yang lain selain bulan puasa pun tetap melakukan shalat witir. Supaya kita diakui sebagai umat nabi Muhammad saw.

Kapan melakukan shalat witir? Setelah melakukan shlat Isya. Kalau kita belum melakukan shalat isya, tidak boleh melakukan shalat witir. Apakah boleh melakukan shalat witir sebelum melakukan shalat sunnah yang lain, ba’diyah isya misalnya? Boleh saja. Batas akhir melaksanakan shalat witir adalah terbitnya fajar atau adzan shubuh. Kalau sudah fajar dating, atau adzan shubuh tiba, jangan melakukan shalat witir.

Rakaat shalat witir seperti yang sudah kita ketahui, adalah minimal satu rakaat. Sedangkan maksimalnya adalah sebelas. Yang penting bilangan rakaatnya bilangan ganjil, mulai dari satu hingga sebelas. Caranya bagaimana? Rasulullah saw menyampaikan shalat malam itu dua-dua. Jadi bagaimana dengan shalat witir? Bias dengan dua rakaat satu salam, setelah mendapatkan dua rakaat maka diakhiri dengan salam. Jika mau ditutup, maka berdiri lagi untuk melakukan shalat witir satu rakaat kemudian salam.

Yang dibaca apa? Rasulullah membaca pada rakaat pertama itu adalah dengan Surat Al-A’la (Sabbihis marabbikal A’la), pada rakaat kedua Rasulullah membaca Surat Al-Kafirun (Qul  Yaa Ayyuhal Kaafiruun), kemudian setelah salam berdiri lagi satu rakaat. Kemudian  apakah yang dibaca oleh Rasulullah saw pada rakaat terakhir? Pertama membaca Surat Al-Ikhlas (Qul  Huwallahu Ahad), dilanjutkan dengan Surat Al-Falaq (Qul A’udzu birabbil Falaq), dan dilanjutkan lagi dengan Surat An-Nas (Qul A’udzu birabbinnaas). Lalu kalau membaca selain bacaat tersebut boleh atau tidak? Boleh. Tetapi mengikuti apa yang dibaca oleh Rasulullah saw tentu itu lebih baik.

Sekarang bagaimana seandainya kata tidak salam setelah dapat dua rakaat, melainkan kita duduk tasyahud awal kemudian berdiri lagi pada rakaat ketiga dan diakhiri dengan salam? Apakah boleh? Ya. Boleh. Maka dari itu, kita perlu tahu ini. Sehingga ketika kita berjama’ah dengan imam yang lain, dan ternyata caranya berbeda, kita tidak kaget dan bingung.

Mengenai witir ini yang kita lakukan di bulan Ramadhan ada sedikit perbedaan dengan selain di bulan Ramadhan. Dibulan Ramadhan khususnya pada pertengahan bulan yang kedua, dalam shalat witir kita melakukan do’a qunut, setelah ruku’ (ada juga yang melakukan qunut sebelum ruku’). Di Negara-negara islam yang lain ada juga yang melakukan qunutnya dari awal Ramadhan. Misalnya di Makkah, mereka qunutnya dari awal. Tetapi kita di Indonesia yang kebanyakan mengikuti madzhab Imam Syafi’ie, itu memilih qunutnya adalah pertengahan bulan yang kedua, yakni sejak malam ke 16 Ramadhan.  Do’a qunut itu sendiri juga bermacam-macam. Maka kita jangan kemudian kaget ketika mendengar bacaan yang lain.

Maka dari itu dengan pengajian ini, semoga anak-anak Darunnajah menjadi santri perekat umat, bukan pemecah-belah umat. Ikuti  semua perintah Rasulullah saw sehingga kita diakui sebagai umat Rasulullah dengan melakukan shalat witir ini. Dan semoga termasuk umta yang mencintai Allah swt karena mengikuti Rasul-Nya. Amien.

Disampaikan oleh :

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining KH Jamhari Abdul Jalal Lc,

Tanggal 24 Agustus 2009 M / 3 Ramadhan 1430 H

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait