Bhinneka Tunggal Ika, Santriwati Hidupkan Jati Diri Nusantara Bhinneka Tunggal Ika, Santriwati Hidupkan Jati Diri Nusantara

Bhinneka Tunggal Ika, Santriwati Hidupkan Jati Diri Nusantara

Keberagaman budaya Nusantara kembali dirayakan di atas panggung santri. Santriwati kelas 4 TMI Pesantren Darunnajah 2 Cipining menggelar pentas seni dan literasi bertajuk Bhinneka Tunggal Ika di Auditorium Kampus 1 Putri pada Kamis, 29 Januari 2026. Sekitar seribu orang memadati ruangan, mulai dari santriwati, wali santri, para guru, hingga warga pesantren.

Tema yang diusung, menghidupkan jati diri Nusantara melalui budaya dan literasi, menjadi benang merah sepanjang acara. Pengenalan budaya sejak dini dipandang sebagai cara menumbuhkan kecintaan santri pada warisan bangsanya. Panitia berharap kegiatan ini memperkuat pemahaman santriwati tentang keberagaman Indonesia sekaligus menumbuhkan rasa bangga pada identitas bangsa.

Panggung menyajikan beragam penampilan seni dari santriwati kelas 1 hingga 6 TMI. Ragam pertunjukan itu memperkenalkan tradisi daerah sekaligus melatih kreativitas dan kepercayaan diri para penampil. Kegiatan literasi turut melengkapi rangkaian acara, sejalan dengan tema yang memadukan budaya dan bacaan.

Antusiasme penonton terlihat sepanjang pertunjukan. Wali santri yang untuk pertama kalinya diundang dapat menyaksikan langsung penampilan putri-putri mereka, sementara sesi testimoni menambah daya tarik acara. Penonton mengaku terhibur sekaligus memperoleh wawasan tentang kekayaan budaya Nusantara, dan apresiasi pun mengalir atas keragaman yang disajikan.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan Pesantren yang kali ini ditangani pengurus santri putri yang baru dilantik, sehingga sekaligus menjadi acara perdana mereka. Persiapan dimulai sejak lima bulan sebelumnya, dengan tema dan proposal yang diajukan pada Agustus. Padatnya agenda pondok membuat pelaksanaan tertunda hingga Januari, bertepatan dengan masa pergantian kepengurusan.

Bhinneka Tunggal Ika, Santriwati Hidupkan Jati Diri Nusantara

Proses persiapan tidak sepenuhnya mulus. Perbedaan pendapat sempat muncul akibat komunikasi antarpanitia yang belum padu sehingga sebagian agenda tersendat. Berbekal evaluasi tahun sebelumnya, panitia menyiapkan acara dengan perencanaan yang lebih matang. Pengalaman mengatasi hambatan itu menumbuhkan disiplin sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi kepengurusan baru dalam mengelola acara besar.

Sebagai tindak lanjut, panitia bersama pembimbing dan peserta akan menggelar evaluasi untuk menakar capaian dan kekurangan. Catatan tersebut disiapkan sebagai bekal penyelenggaraan tahun berikutnya. Pada akhirnya, Bhinneka Tunggal Ika mengingatkan bahwa merawat keberagaman dapat dimulai dari ruang-ruang kecil tempat generasi muda belajar mengenal dan menghargai budayanya sendiri.