“Bernyanyilah sepenuh hati, maka ia pun akan keluar dengan indah tanpa disangka,”. Begitulah ujar seorang personil eightlight band, kita tidak sedang membicarakan tentang eightlight band apalagi personilnya. Tetapi kita berbicara tentang apa yang personil itu katakan, yaitu bagaimana kita bernyanyi dengan sepenuh hati kita. Dan ini benar dilakukan oleh para santriwan dan santriwati.
Berbeda dengan folksong santriwan yang sangat energik dengan kelincahan dan staminanya, dengan menyani lantang dan tarian melompat sana-sini, santriwati mengeluarkan staminanya dan kekuatan suaranya dengan sangat menghayati apa yang dinyanyikannya. Sampai suasana pun ikut terbawa oleh lirik-lirik lagu dan intstrumen musik. Terlepas karena suara keras adalah aurat bagi seorang wanita terhadap orang yang bukan mahramnya, folksong ini hanya disaksikan oleh santriwati dan ustadzah dan tidak diperuntukkan kepada ustadz apalagi santri putra.
Dengan adanya kegiatan-kegiatan ini diharapkan tumbuh jiwa musik dari seorang santriwati, yang dengan musik ini dapat menjadi senjata dakwah dizaman modern ini, melihat fenomena akhir zaman ini dimana kegiatan-kegiatan musuh Allah Swt. Yaitu dengan cara menyelipkan lirik-lirik pujian kepada tuhan palsu mereka dalam setiap bait lirik lagu-lagu terkenal, bahkan teknik manipulasi lirik lagu dengan menyertakan pesan-pesan tersembunyi lainnya. Maka dengan itu seorang muslim haruslah mengambil peran besar dalam mempertahankan bangsa dan keyakinannya.



















