BELAJAR MENCINTAI
Mencintai Allah adalah bagian dari pokok keimanan setelah mengimaniNya dengan hati, lisan dan ucapan. Mencintai berarti melakukan semua yang dipinta dan menjauhi semua yang membuatNya murka. Mencintai berarti berusaha juga membuatNya mencintai kita. mencintaiNya berarti mencintai kitabNya, berarti mencintai rasul- rasulNya dan mencintai ajaranNya. mencintaiNya berarti ridlo dengan semua ketentuanNya, senang dengan semua yang disenangiNya dan benci dengan semua yang dibenciNya. mencintaiNya adalah kunci dari semua kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan yang abadi yang tak akan terputus oleh duka lagi.Cinta tertinggi yang tak ada lagi yang lebih tinggi setelahnya. Yang tak akan mengecewakan karena cinta kepadaNya pasti akan terbalas. bila mendekat kapadaNya satu langkah, Dia akan mendekati sepuluh langkah, bila mendekatiNya dengan berjalan, Dia akan mendekat dengan berlari.Tapi sebelum itu semua, satu hal yang penting diketahui adalah: bagaimana cara mencintaiNya agar Diapun menerima cinta kitakemudian membalasnya dengan cinta juga?
Bagi seorang yang belum memasuki daerah cinta, yang ada dalam kamus beragamanya hanya wajib dan haram saja. Melakukan semua yang wajib karena memang harus dilakukan, kalau tidak dilakukan akan ada hukuman yang menimpa. Menjauhi yang harampun karena memang alasan yang sama. Tapi Walau begitu, ketika seseorang sudah bisa memegang dua kata ini dengan seluruh kekuatannya, wajib dan haram, sesungguhnya dia telah memiliki dua kaki yang kokoh untuk melangkah ke halaman istana cinta. Dua kata yang kelihatan sederhana namun sangat susah untuk terus bisa 'dibaca' dalam keseharian kita. Lain halnya dengan pecinta, kalimat pengabdiannya tak terbatas dua kata itu saja, tak hanya wajib saja yang dia lakukan tapi bermacam sunah juga akan dilakukan. Tak sekedar haram yang dia jauhi tapi yang mendekatinya pun berusaha dia hindari. Semakin memasuki daerah cinta, semua kewajiban tak akan terasa jadi beban lagi tapi akan berubah jadi kebutuhan, kebutuhan untuk cinta. Didalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh imam tirmidzi dan yang lainnya disebutkan:
"barangsiapa yang memusuhi waliku maka sesungguhnya telah aku umumkan perang kepadanya, dan tidaklah seseorang mendekat padaKu lebih aku sukai dari melaksanakan hal2 yang telah aku wajibkan kepadanya, dan hambaku akan terus mendekatiKu dengan nawafil –sunah- hingga aku mencintainya, dan apabila aku mencintainya, akulah yang yang akan jadi pendengarannya yang dengan itu dia akan mendengar, menjadi penglihatannya yang dengan itu dia melihat, menjadi tangannya yang dengan itu dia memukul, dan menjadi kakinya yang dengan itu dia melangkah.
Apabila dia berdoa padaKu maka akan Aku kabulkan, dan apabila dia meminta perlindungan
padaKu akan aku lindungi.."
MencintaiNya
Bukan sekedar syair dan kata-kata
Bukan sekedar dengan warna dan bendera-bendera
Bukan sekedar dengan mulut atau mata
Bahkan pula bukan dengan rasa
yang sering buta
MencintaiNya
Berarti selalu mengingatNya
Dalam setiap waktu dan suasana
Berarti melaksanakan yang dipinta
Menjauhi semua yang tidak disuka
mencintaiNya
adalah mencintai yang dicintaiNya
membenci yang dibenciNya
mencintaiNya
berarti mencintai kekasih-kekasihNya
Jalan dan refleksi cinta terbaik adalah cinta Rasulullah kepadaNya. Karena
Rasulullahlah pemilik iman paling sempurna diantara semua hamba, paling mngenalNya dan
paling ideal untuk dijadikan panutan dalam hal ini, terlepas dari bermacam pemahaman yang
didapatkan oleh setiap orang dalam melihat Rasulullah, memang rasulullahlah panutan ideal
kita dalam hidup dan beragama. pembawa ajaran terakhir yang menjadi penyempurna ajaran
Rasul-rasul sebelumnya, yang sudah mengajarkan risalah Tuhannya dari masalah teologi sampai
masalah mandi dan bersuci, yang dimuliakan dengan berbagai mu'jizat dan menjadi pemimpin
umat yang hidup di akhir zaman namun kan memasuki surga mendahului umat-umat lain yang
lebih dahulu hidup di dunia, tidak ada lagi nabi dan Rasul setelah Rasulullah Muhammad
shallalahu 'alaihi wasallam. mencintai Rasulullah adalah rukun pokok dalam mencintai Allah
SWT. Allah berfirman:
"katakanlah; "jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengampuni dosa-dosamu" (Al'imron 31)
Ayat tersebut menjadi jawaban pertanyaan kita di atas tentang bagaimana cara mencintai
Allah. Kesimpulannya, mencintai Allah berarti harus mencintaiRasulNya. Ini adalah pokok
dari cinta, bahkan merupakan pokok dari keimanan itu sendiri. Sehingga pertanyaan
selanjutnya adalah, bagaimana cara mencintai Rasulullah SAW?
Tentang definisi, metode dan cara mencintai mungkin tidak perlu dibahas lagi,
tentang cinta dan ketaatan pasti sudah kita fahami dan kita sadari. Yang perlu kita tengok
lagi adalah penghadiran kita pada refleksi cinta itu sendiri, bagaimana agar dia hadir dan
terukir, kemudian bagaimana agar dia tidak diam dalam fikiran semata atau dalam mulut saja.
Bagaimana agar lebih 'berisi' lagi.
Suatu saat umar bin khatab berkata kepada Rasulullah, "wahai Rasulullah,
sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri" lalu
Rasulullahpun menjawab: "tidak wahai umar, demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak
sempuna imanmu hingga aku lebih dicintai dari dirimu sendiri. Kemudian sahabat Unar
berkata, "skarang ya Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari diriku
sendiri".Rasulullahpun bersabda, "sekarang –telah sempurna imanmu- wahai Umar
.
(seperti diriwayatkan oleh imam bukhori dalam kitab shohihnya pada hadis ke 3694)
Dalam hadis yang lain dalam kitab shohih bukhori dan muslim Rasulullah bersabda:
"tidak sempurna iman seseorang sehingga aku lebih dicintai dari orang tuanya, dari
anaknya dan dari semua manusia".
Para sahabat yang merupakan generasi terbaik dari umat ini, telah penuh hati mereka dengan cinta pada nabi mereka dengan kadar yang tidak bisa ditandingi oleh generasi setelahnya. Setiap ruang dihati mereka telah diterangi oleh cahaya cinta ilahi itu. Hingga kemana Rasulullah pergi selalu diikuti dan semua perintah yang diberikan selalu dilaksanakan walaupun harus dengan jawa yang dipertaruhkan.
Suatu saat sahabat Ali RA pernah ditanya: "Bagaimana dulu kalian mencintai Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam?" sahabat Ali menjawab:"demi Allah, sesungguhnya Rasulullah lebih dicintai daripada harta-harta kami, anak-anak kami, orang tua kami, dan lebih dicintai daripada air dingin saat dahaga".
Bahkan diceritakan oleh ibnu kasir dalam kitab sejarahnya al Bidayah wa anNihayah, ketika sahabat zaid bin adDatsinah hendak dibunuh oleh kaum kafir mekah, dia ditanya oleh Aby sofyan (saat itu masih belum masuk islam):"demi tuhan wahai zaid, apakah kamu suka seandainya Muhammad menggantikan tempatmu lalu kami penggal lehernya dan kamu berkumpul bersama keluargamu?" sahabat Zaid menjawab:" demi Allah, sesungguhnya aku tidak suka seandainya nabi Muhammad berada ditempatnya sekarang dan tertusuk duri sementara aku duduk brsama keluargaku". Dan abu sofyan pun lalu berkata:" demi tuhan, tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih dicintai seperti cintanya sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad."
Didalam kitab shohih bukhori diriwayatkan lagi tentang 'urwah bin mas'ud atsaqofi RA ketika dia menjadi wakil dari kaum quraisy mekah dalam perjanjian hudaibiyah, saat pulang kembali kepada kaumnya dia berkata
, "hai kaum, sesunnguhnya aku telah diutus kepada raja-raja, dan aku pernah diutus kepada kaisar, kisra dan raja najasyi, demi tuhan, belum pernah sama sekali aku melihat seorang raja yang diagungkan seperti pengagungan sahabat-sahabta Muhammad terhadap Muhammad.."Bahkan amru bin 'ash RA, seorang sahabat yang agung, pernah berkata, "tidak ada seorang yang lebih aku cintai dari Rasulullah, dan tidak ada yang lebih agung di mataku selainnya, aku tidak pernah mampu memuaskan mataku dengan melihatnya karena keagungan dia, dan seandainya aku diminta untuk menyebutkan cirri-cirinya aku tidak mampu, karena aku tidak pernah memuaskan mataku dengan melihatnya."Begitu juga para imam yang hidup jauh setelah sahabat, seperti imam malik bin anas yang merupakan imam ahlul madinah dan ahlul hadits. Diriwayatkan dari mus'ab bin Abdullah dalam kitab siyar nya imam addzahabi:Sesungguhnya imam malik ketika disebut nama Rasulullah langsung berubah raut mukanya, hingga terkadang hal ini menyulitkan murid-muridnya yang duduk disekitarnya –sedang belajar padanya-. Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, "seandainya kalian mengetahui yang aku ketahui tentu kalian tidak akan mengingkari apa yang kalian lihat ini". Lalu beliaupun menceritakan tentang malik bin Muhammad yang ketika ditanyakan kepadanya tentang suatu hadits, beliau tidak menjawabnya kecuali setelah menangis yang membuat orang-orang disekitarnya tersentuh.Imam malik tidak pernah membaca hadits kecuali dalam keadaan berwudlu. Bahkan di riwayatkan tentang imam bukhori, ketika beliau hendak mengkaji hadits-hadits beliau mandi terlebih dahulu untuk menghormati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan masih sangat banyak lagi riwayat lain yang menceritakan kisah kecintaan para sahabat dan imam-imam terdahulu terhadap Rasulullah. mungkin tentang hal ini perlu dibahas dalam judul tersendiri.
Kepatuhan dan pengorbanan mereka ketika ingin menjadi pengikut rasulullah tertulis abadi dalam sejarah. Yang ada adalah cinta, cinta yang dinaungi cahaya 'haibah' dari langit. Bukan pengkultusan buta yang sering terjadi dalam jiwa pecinta buta, kerena para sahabat yang hidup selalu dekat dengan Rasulullah akan terus dalam bimbinganNya yang disampaikan lewat nabiNya. Bila ada yang salah pasti akan ditegur oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Seperti tersirat dalam salahsatu wasiat Rasulullah yang masyhur, Rasulullah bersabda:
"janganlah kalian mengagunganku seperti orang nasrani mengagungkan isa bin maryam"
Atau saat seorang sahabat berkata, "karena Allah dan karena engkau ya Rasulullah..," maka
Rasulullah langsung menegur "apakah engkau akan membuat tandingan untuk Allah yang telah menciptakanmu, ucapkanlah: karena izin Allah saja". juga ketika seorang sahabat bersujud kepada Rasulullah maka Rasulullahpun langsung menegurnya. Dan banyak lagi contoh lainnya..
Inilah risalah cinta ilahi…
Alangkah lebih baiknya kalau kita bisa lebih banyak mengetahuainya, sehingga bisa lebih banyak lagi mendapatkan energi untuk bisa membangkitkan cinta kita yang sering terkulai tak berdaya, bahkan seperti tanpa ada tanda kehidupan sama sekali. Setelah energi itu hadir, kitapun bisa mencintainya dengan cara yang dicintai.
Tapi ada satu pesan lagi dari Rasulullah kepada umatnya menyangkut tentang masalah cinta ini.
Diriwayatkan, Suatu saat ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah Saw,"ya rasulullah, sesungguhnya aku mencintai engkau" Rasulullah terdiam. Orang itu kembali mengucapkan kata yang sama "ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai engkau" demikian sampai ketiga kalinya
Rasulullah menjawab, "bersiaplah engkau untuk sengsara".
Inilah cintaYang tidak diam
Yang tidak terapung seperti bingung
Tidak juga tenggelam
Tapi, dia berenang
Memutari siang dan malam
Menerangi waktu dan ruang
Mari terus bersolawat padanya,
Semoga diberi kekuatan melaksanakan ajarannya
semoga di beri kekuatan untuk mencintainya.
Mencintainya dengan 'cinta'
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad………
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad……
Alllahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aalihi wa shohbihi ajma'iin….
Bersiaplah….!