Menu

Bekerjasama Dalam Kesepakatan, Bertoleransi Dalam Perbedaan.

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

بسم الله الرحمن الرحيم

_Seri Olah Jiwa (Refleksi Ramadhan)._

*Bekerjasama Dalam Kesepakatan, Bertoleransi Dalam Perbedaan.*

Salah satu sunnatullah yang ada dalam kehidupan ini adalah adanya perbedaan pandangan dan pendapat. Perbedaan tersebut bisa disebabkan berbagai faktor: kawan pergaulan, buku bacaan, pengalaman kehidupan dan seterusnya. Sampai – sampai ada istilah لكل رأس رأي (setiap orang punya pandangan).

Allah SWT juga sengaja menciptakan sesuatu itu berbeda dan berpasangan; ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada kelahiran ada kematian, ada kebahagian ada kesedihan, ada kesepakatan ada perselisihan, dan sebagainya.

Terkait dengan Bulan Ramadhan juga ada beberapa perbedaan pendapat, antara lain awal penentuan permulaan puasa, jumlah rakaat sholat Tarawih, boleh tidaknya membatasi waktu sahur dengan imsakiyah, hingga tempat pelaksanaan Sholat Idul Fitri antara yang terbiasa di masjid atau di tanah lapang.

Salah-satu kitab masyhur yang membahas perbedaan pandangan ulama fiqh adalah Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd. Di kitab tersebut tergambar jelas hujjah masing-masing imam sehingga memudahkan pembacanya untuk meningkatkan status dirinya dari *Muqallid (mengikuti suatu pendapat tanpa mengetahui rujukan, sumber, asal-usulnya) menjadi muttabi’ ( mengikuti suatu pendapat dengan mengetahui asal-usulnya).*

Dalam hal perbedaan fiqhiyah ini ada sebuah kaidah indah yang jika diterapkan akan terjaga ukhuwwah imaniyyah umat Islam. Salah-satu tokoh yang memasyhurkan kaidah ini adalah Grand Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi.

*Kaidah dimaksud adalah نتعاون على ما اتفقنا ونتسامح فيما اختلفنا (Kita bekerjasama dalam hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal yang diperselisihkan).*

Contoh aplikasinya seperti berikut:
Kita sepakat bahwa sholat Jum’at hukumnya wajib bagi muslim laki-laki, maka mari saling bantu-membantu dan bahu-membahu agar dapat dilaksanakan sholat jum’at dengan baik. Adapun perkara adzannya satu kali atau dua kali, khatibnya pegang tongkat atau tidak maka kita saling bertoleransi.

Contoh lainnya terkait Sholat Shubuh. *Sholat Shubuh ini begitu penting sehingga ada pemahaman Kalau Umat Islam Ingin Kembali Berjaya Maka Upayakan Sholat Shubuhnya Sesemarak Sholat Jum’at.*

Mari kita saling bekerjasama agar para laki-laki muslim mau dan mampu sholat shubuh berjama’ah di masjid pada awal waktunya. Adapun perkara ada yang dengan Qunut pada raka’at kedua maka hendaknya kita bertoleransi.

Konon Imam Syafi’i yang berpendapat pentingnya Qunut dalam Sholat Shubuh, pernah tidak Qunut yaitu ketika beliau menjadi imam sholat Shubuh di Bagdad Iraq. Apa alasan beliau?, karena menghargai pandangan Imam Abu Hanifah yang tidak berqunut pada waktu Shubuh dan diikuti oleh mayoritas muslim Bagdad.

Di Indonesia juga ada contohnya. Buya Hamka adalah tokoh Muhammadiyah yang berpandangan tidak ada Qunut dalam Sholat Shubuh. Dan ketika beliau menjadi imam Sholat Shubuh di Blitar Jawa Timur, beliau menggunakan Qunut. Apa pasalnya?, lagi-lagi karena beliau menghargai pandangan fiqh mayoritas muslim Blitar Jawa Timur yang notabene warga Nahdhiyin.

*Jadi, mari kita berupaya melaksanakan keyakinan ajaran agama kita dengan sebaik-baiknya, kemudian kita pasrahkan kepada Allah SWT semata untuk menilainya. Seperti yang diajarkan Imam Syafi’i :*
نحن نحكم بالظواهر والله يتولى السرائر.

والله أعلم بالصواب.

 

_Bogor, 4 Ramadhan 1437 H / 9 Juni 2016 M. (Mr. MiM)._ www.cipining.darunnajah.com

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Al-Hasanah Darunnajah 9 Pamulang Banten

Pengalaman Adalah Guru Terbaik Dalam Kehidupan

Pamulang- Santriwati Darunnajah 9 tingkat Aliyah, ikut berpartisipasi dalam acara Pagelaran Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah Aliyah (AKSIOMA). Kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah MAN