Saat jarum jam menunjukkan pukul 08.10 WIB, bel berbunyi menandakan bahwa peralihan jam pelajaran tengah berlangsung. Kali ini memasuki jam pelajaran ketiga.

Chaerul Rahmat, santri kelas Niha’i (6 TMI/XII MA) memasuki ruang kelas VIII A. Mengenakan jas, berpeci hitam serta berdasi, ia berdiri tepat di depan kelas. Sesaat setelah menguasai keadaan kelas, ia mengucapkan salam. Menggunakan bahasa resmi mengajar yaitu bahasa Arab, ia lalu bertanya perihal keadaan santri kelas VIII A tersebut. Dilanjutkan dengan bertanya tanggal, baik Hijriyah maupun Miladiyah. Bertanya kemudian mata pelajaran dan guru pengajarnya.
Melangkah selanjutnya bertanya tentang materi yang telah diajarkan sebelumnya. Disambung kemudian dengan materi baru. Mengajak diskusi, menerangkan dan mengambil kesimpulan dari apa yang diajarkan pada saat itu.
Begitu pula yang terjadi dengan Gita Marshela, santri Niha’i putri. Pada jam pelajaran ke-6 pukul 10.30 WIB, di hadapan santriwati kelas IX B, ia melakukan hal yang sama. Berbahasa Inggris fasih, ia melangkah dari satu tahapan ke tahapan pembelajaran lain sesuai dengan yang telah ia rencanakan dan tuangkan dalam RPP. Selama 40 menit, ia berlaku layaknya seorang pengajar (guru), menjelaskan satu pokok materi.
Kedua santri Niha’i tersebut tengah menjalani kegiatan ujian praktik mengajar (amaliah tadris) yang berlangsung di pesantren Darunnajah Cipining. Keduanya menjadi amaliah tadris percontohan berbahasa Arab dan Inggris yang didemonstrasikankan di hadapan seluruh santri kelas Niha’i dari kelas XII AB berasrama, XII C nonasrama, dan 3 SMK yang berjumlah + 75 orang sebagai peserta amaliah tadris.

Kegiatan yang dilakukan pada hari Kamis (20/1/11) ini ditempatkan di auditorium pesantren di bawah pengawasan guru-guru pembimbing, panitia, serta kepala MA dan SMK Darunnajah Cipining. Pada kesempatan ini pula, seluruh peserta amaliah tadris, selain menyaksikan demo percontohan tersebut, juga belajar memberikan kritik serta saran terhadap peserta yang melaksanakan amaliah.
Kegiatan praktik mengajar oleh santri kelas akhir ini dapat dilakukan dengan baik karena sebelum mengajar di kelas, mereka wajib membuat RPP (I’dad) yang dibimbing langsung oleh dewan guru. Pada bimbingan inilah, seorang pembimbing memberikan arahan dan petunjuk dalam pembelajaran.
Kemudian dari setiap ujian praktik yang dilakukan peserta, akan dilakukan kritik serta koreksian oleh teman satu kelompoknya bersama seorang pembimbing. Pada kesempatan ini, guru praktik mengoreksi diri sendiri dalam mengajar terlebih dahulu. Setelah itu kritikan oleh peserta lain. Kritikan dapat meliputi metode pembelajaran, materi ajar, sikap guru, dan yang lainnnya. (Wardan/Billah)