Bakat Tersembunyi yang Baru Ditemukan Santri Setelah Enam Bulan di Pesantren

Enam bulan pertama bukan soal menemukan sesuatu yang besar. Kadang, yang terjadi justru sederhana sekali. Seorang anak yang selama ini diam saja di kelas, tiba-tiba menulis puisi yang membuat teman sekamarnya terdiam. Bukan puisi panjang. Tapi kata-katanya jujur, dan kejujuran itu yang membuat orang berhenti sejenak.

Kita sering mengira bakat itu sesuatu yang langsung terlihat. Tapi banyak bakat tidak pernah muncul bukan karena tidak ada. Melainkan karena belum pernah ada ruang untuk mencobanya.

Bagaimana kalau selama ini anaknya belum pernah diberi kesempatan mencoba?

Di lingkungan pesantren, anak-anak melihat teman-temannya melakukan hal-hal yang belum pernah mereka coba. Seorang santri yang tidak pernah masuk dapur, tiba-tiba tertarik ikut kegiatan tata boga. Awalnya cuma bantu-bantu. Minggu berikutnya, dia sudah mencoba resepnya sendiri.

Tidak ada yang menyuruh. Lingkungan yang memancing rasa penasaran itu yang bekerja.

Kenapa bakat sering muncul dari hal yang tidak direncanakan?

Ada santri yang masuk pesantren tanpa tahu apa itu desain grafis. Lalu organisasi santri butuh poster. Tidak ada yang bisa. Akhirnya dia coba. Hasilnya berantakan. Tapi dia ketagihan. Enam bulan kemudian, setiap kegiatan besar, namanya yang dicari pertama kali.

Bakat memimpin juga sering muncul begitu. Anak yang di rumah tidak pernah diminta mengorganisir apa pun, di pesantren harus mengatur jadwal piket kamar, memimpin kelompok belajar. Awalnya gugup. Tapi karena harus dilakukan setiap minggu, kemampuan itu terbentuk.

Dan menulis. Anak yang nilainya biasa saja di pelajaran bahasa, ternyata bisa menulis puisi yang menyentuh. Tulisan itu bukan lahir dari teknik. Lahir dari perasaan yang akhirnya punya ruang untuk keluar.

Apa yang membuat lingkungan pesantren berbeda untuk proses ini?

Bukan fasilitas. Yang membuat berbeda adalah waktu dan kedekatan. Anak-anak punya waktu panjang untuk mencoba banyak hal. Dan mereka dikelilingi teman-teman yang juga sedang mencari.

Kakak kelas punya peran besar. Bukan sebagai guru, tapi sebagai contoh hidup. Adik kelas melihat langsung bagaimana kakak kelasnya memimpin, mendesain, memasak. Keteladanan semacam itu hanya bisa dilihat dan dirasakan.

Mungkin kita sebagai orang tua tidak selalu tahu apa yang tersimpan dalam diri anak kita. Bakat bukan sesuatu yang harus ditemukan sejak awal. Bakat muncul ketika seseorang diberi ruang untuk mencoba tanpa takut dinilai.

Di Darunnajah 2 Cipining, proses itu sudah dimulai sejak hari pertama santri belajar mengurus diri sendiri.

Setiap anak membawa sesuatu yang belum diketahui siapa pun. Tugas kita bukan menebak apa itu. Tugas kita adalah memastikan mereka berada di tempat yang memberi kesempatan untuk menemukannya sendiri.

Hubungi WhatsApp 0812111180 untuk tanya apa saja tentang kehidupan santri.