Lima kali sehari, banyak santri bergerak ke satu arah yang sama. Dari asrama, dari kelas, dari lapangan — semuanya menuju masjid. Langkah kaki yang bersamaan itu menciptakan irama tersendiri di lorong-lorong pesantren. Langkah yang sudah menjadi bagian dari tubuh, bergerak tanpa perlu diperintah.
Sholat berjamaah di pesantren punya skala yang membuat siapa pun yang pertama kali menyaksikannya terdiam sejenak. Bayangkan ribuan orang berdiri dalam satu shaf, menghadap satu arah, mendengarkan satu suara imam yang mengalir dari pengeras suara masjid. Gerakan ruku bersamaan. Gerakan sujud bersamaan. Suara amin yang keluar dari ribuan mulut di waktu yang sama. Ada kekuatan dalam keserempakan itu yang tidak bisa dirasakan ketika sholat sendirian di kamar.
Bagi santri yang baru pertama kali mengalaminya, momen itu sering kali mengejutkan. Sholat berjamaah di rumah biasanya hanya melibatkan anggota keluarga — empat atau lima orang. Masjid kampung mungkin beberapa puluh jamaah. Tapi di pesantren, angkanya melompat ke ribuan. Perbedaan skala itu menghasilkan energi spiritual yang sama sekali lain — sesuatu yang hanya bisa dirasakan, sulit untuk diceritakan.
Suasana sebelum sholat dimulai punya ketenangan yang khas.
Santri yang sudah sampai di masjid duduk tenang membaca Quran atau berdzikir sambil menunggu adzan. Tidak ada yang bicara keras. Tidak ada yang berlarian. Ada kesepakatan tak tertulis bahwa masjid adalah ruang yang dihormati — dan santri yang paling berisik di lapangan bisa menjadi yang paling tenang di dalam masjid. Transisi itu terjadi secara alami setiap hari, lima kali sehari, sampai akhirnya menjadi kebiasaan yang melekat.
Momen paling khusyuk biasanya terjadi di waktu subuh.
Udara masih dingin. Mata masih berat. Tapi ketika imam mulai membaca surat dengan suara pelan yang jernih di keheningan masjid, semua rasa kantuk perlahan hilang. Digantikan oleh ketenangan yang datang dari tempat yang lebih dalam dari sekadar kesadaran fisik. Santri yang sholat subuh berjamaah di pesantren sering bercerita bahwa momen itu menjadi momen favorit mereka dalam sehari — waktu ketika dunia terasa paling sunyi dan hati terasa paling dekat dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Dampak sholat berjamaah yang dilakukan lima kali sehari selama bertahun-tahun membentuk kebiasaan spiritual yang sangat kuat. Kebiasaan itu melekat. Alumni pesantren yang sudah hidup di kota besar, sibuk dengan pekerjaan dan jadwal yang padat, sering merindukan satu hal — ketenangan sholat berjamaah di masjid pesantren. Suasananya memang berbeda. Jumlah jamaahnya berbeda. Kebersamaan yang tercipta dari kehadiran ribuan orang dalam satu ruang ibadah punya kualitas yang sangat sulit ditemukan di tempat lain.
Sholat berjamaah di pesantren juga mengajarkan kesetaraan yang nyata. Di depan mihrab, tidak ada perbedaan antara anak kyai dan anak petani. Tidak ada shaf khusus untuk yang kaya atau yang miskin. Semua berdiri di tempat yang sama, menghadap arah yang sama, membaca doa yang sama. Pengalaman itu menanamkan pemahaman bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia setara — dan pemahaman itu dibawa santri ke mana pun mereka pergi setelah lulus.
Di Darunnajah 2 Cipining, sholat lima waktu berjamaah di masjid adalah kewajiban bagi seluruh santri. Tradisi ini sudah berjalan tanpa putus sejak pesantren berdiri, membentuk generasi demi generasi santri yang hubungannya dengan sholat berjamaah sudah menjadi kebutuhan, bukan sekadar rutinitas.
Rasa tenang yang datang dari sholat berjamaah memang sulit dijelaskan kepada orang yang belum pernah merasakannya. Tapi bagi kita yang pernah berdiri di shaf itu, di antara ribuan orang yang berniat sama, ketenangan itu adalah sesuatu yang akan selalu dicari ke mana pun hidup membawa pergi.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan spiritual santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.