Selain memiliki opini dan orientasi tersendiri bagi umat Islam, malam Jum’at di pesantren menawarkan diskursus yang berbeda. Pasalnya, malam Jum’at menjadi layaknya malam Minggu. Malam panjang sebagai penutup pekan yang di luaran akrab dinamai weekend.

Meskipun berbeda dengan kebiasaan di tempat lain, kegiatan malam Jum’at hingga saat ini direspon positif oleh para santri. Bila bebas dari kegiatan ekstra, tak jarang pula para santri menggunakan malam ini untuk taqorrub kepada Allah SWT dengan muhasabah bersama. Berdasar pada itulah, sehingga aneka kegiatan malam, tengah malam, hingga menjelang fajar biasa dilakukan para santri. Seperti contohnya malam panggung gembira, malam pentas seni, dan yang lebih mendominasi adalah kegiatan jurit malam.
Seperti yang dilakukan malam Jum’at (5/11) lalu, uji mental bagi andika pramuka calon bantara menjadi moment berkesan. Di bawah kendali kakak-kakak kelas akhir (6 TMI), peserta yang terdiri dari kelas Intensif, X, dan sebagian kelas XI MA ini berjuang untuk mendapatkan level lanjut di bidang pramuka.
Pukul 21.30 WIB, agenda uji nyali siap dilaksanakan. Dimulai dengan ujian tulis dan briefing oleh panitia terkait dengan kelengkapan seragam dan peralatan lain yang harus dilengkapi oleh masing-masing peserta. “Pukul 22.30 nanti, semua harus sudah berada di lapangan dengan berpakaian lengkap. Mengertiiiii…! Tegas bagian ankulat, Saudari Yunita Komalasari mengomando. Dan direspon serentak oleh peserta. “Siap. Mengerti….”
Setelah dipisah menjadi 5 kelompok, para peserta menempati ruang istirahat masing-masing untuk tidur. Menjelang pukul 24.00 WIB, panitia telah siap memberikan kejutan pertama, yaitu membangunkan yang disetting seperti terjadi huru-hara berbarengan dengan gempa bumi. Ribut, berisik, dan kacau kondisi saat itu.
Tidak berhenti sampai disitu. Dalam situasi yang morat-marit itu, tiba-tiba intruksi untuk berbaris telah menyusul. Siap tidak siap, peserta harus mentaati perintah itu. Pemandangan yang ganjil tampak disana, ada peserta yang pakai sepatu lain merek, lain warna, dan bahkan lain ukuran. Belum selesai dengan satu kondisi, peanitia kembali mengintruksikan setiap peserta agar menutup mata dengan kacunya masing-masing.
Usai keadaan terkendali, dengan mata tertutup, peserta berbaris seperti kereta. Mereka dibawa berajaln dengan tuntunan yang sangat minim, karena hanya mengandalkan indera pendengaran. Terkadang mereka diperintahkan loncat padahal tidak terdapat lobang atau harus merunduk padahal tidak ada apa-apa.
Uji nyali berikutnya adalah berjalan sendirian melewati jalan-jalan yang telah didramatisir dengan aneka kejutan. Tak jarang, peserta menemui sosok-sosok aneh, asing, bahkan terkesan membuat bulu bergidik. Dan pada pos-pos tertentu, mereka harus melapor kepada penjaga pos. Di setiap pos, mereka juga mendapatkan tugas tambahan walau hanya sekedar mengaji, baca puisi, atau menyanyi.
Lelah mengitari lokasi uji nyali, pos terakhir adalah di auditorium pesantren. Mencapainya pun tidak gampang, peserta diharuskan mencari nama-nama mereka yang ditulis pada selembar kertas menggunakan sandi. Dan nama-nama mereka tersebar pada pos-pos yang ada. Yang telahmenemukan nama mereka, berarti mereka telah mendapat tiket untuk masuk di pos terakhir tersebut.
Menjelang pukul 04.00 WIB, semua peserta telah mencapai auditorium. Seibu rasa dan pengalaman tersimpan pada benak setiap peserta. “Akhirnya malam itu berakhir juga” lontaran kata Nida Fauziyah, peserta dari kelas X MA.
Akhirnya azan Shubuh berkumandang. Panitia dan peserta melaksanakan sholat berjama’ah di masjid. Jum’at sore harinya, acara pengujian pun selesai dan diakhiri dengan mengeyel bersama . Pada kesempatan itu pun panitia menetapkan bahwa kelompok 4 menjadi kelompok tersemangat. (Tanty, Ririn, Dkk.)