Bersyukur banyak mendapatkan kesempatan berkunjung ke sekolah sekolah di UK, Negara yang dianggap memiliki salah satu standard pendidikan yang terbaik di dunia. Banyak tokoh-tokoh berkaliber internasional yang lahir dari rahim pendidikan di Negara Queen Elizabeth ini. Winston Churcil, Isaac Newton, Stephen Hawking, Baden Powel, JK Rowling, adalah sebagian kecil mereka yang mewarnai dunia. Mempelajari dapur pendidikan mereka langsung ke jantungnya memberi banyak wawasan berharga.

Salah satu yang paling berkesan adalah kepercayaan diri yang tinggi dari murid dari setiap kunjungan ke sekolah yang ada diberbagai tingkat pendidikan. Percaya diri yang tinggi sangat menonjol terlihat dari keberanian mengungkapkan pendapat. Keberanian tampil. Keberanian bertanya dalam setiap kesempatan, atau bahkan sekedar membantu menjelaskan fasilitas fasilitas yang kami kunjungi.

Ketika saya bertanya kepada para pendidik disana bagaimana mereka membangun kepercayaan diri yang begitu tinggi kepada murid-murid diusia yang sangat muda, mereka menggambarkannya dengan analogi bangku berkaki tiga. Three legged stool.

Membangun kepercayaan diri anak didik bisa dicapai jika ada tiga kaki yang menyangga sebuah bangku. Kaki yang pertama adalah kompetensi. Beberapa menyebut kontribusi.

Guru dinegara maju berusaha untuk selalu meyakinkan bahwa setiap dari murid mereka memiliki kemampuan (kompetensi) yang bisa mereka kontribusikan untuk kebaikan. Bahkan murid dengan nilai terendah pun diyakinkan bahwa ada sesuatu yang mereka bisa kontribusikan untuk orang lain. Wawasan, keahlian,keterampilan, sumbangan pemikiran, usul solusi dari sebuah masalah. Apapun yang bisa mereka kontribusikan untuk kepentingan yang lebih besar.

Secara konsisten, guru di UK secara sistematis membangun keyakinan kepada murid murid bahwa mereka bisa memberi kontribusi dengan apapun kompetensi yang mereka miliki.

Kaki yang kedua adalah responsibility. Tanggung jawab.

Setiap kunjungan yang kami lakukan kesekolah memiliki satu kesamaan. Ada murid yang mendampingi setiap tamu. Muridlah yang dilibatkan menjelaskan sistem dan fasilitas sekolah yang dikunjungi. Biasanya memang murid-murid pilihan yang terbiasa menjadi pengurus organisasi di sekolah. Tapi yang mengagumkan, pemandangan seperti ini hampir merata di setiap level pendidikan.

Kunjungan terakhir kami adalah sebuah sekolah di Leicester ditingkat kanak-kanak, Upland Infant School. Yang mendampingi kami? Anak anak murid berumur 5-6 tahun!

Dengan kepercayaan diri tinggi, mereka memandu kami layaknya seorang dewasa menjelaskan proses dari setiap tempat yang kami kunjungi.

Penyerahan tanggung jawab dan penugasan kepada murid adalah sebuah proses yang tidak mudah. Ia membutuhkan prasangka baik yang tinggi kepada murid. Membutuhkan kemauan untuk memberikan kesempatan murid untuk mengalami proses pembentukan karakter.

Dalam sebuah sistem pendidikan di banyak Negara, termasuk Indonesia, tidak banyak sekolah yang memiliki cukup prasangka untuk rela menyerahkan tanggung jawab sebagian tugasnya kepada murid.

Dengan berbagai alasan. Mulai dari kurangnya kepercayaan kepada murid. Keengganan melatih murid agar bisa melakukan tugas-tugas mereka. Tidak mau repot. Mau cepat selesai. Bahkan sampai kepada urusan yang sensitive: tidak mau kehilangan proyek. Hal yang pada akhirnya menyebabkan murid hanya sekedar menjadi objek dari sebuah proses pembelajaran. Menjadi penonton.

Kaki yang terakhir adalah apresiasi. Terutama apresiasi guru kepada usaha murid dalam menjalankan tanggung jawab tersebut.

Dalam kasus disekolah sekolah Inggris yang kami kunjungi, apresiasi itu hadir dalam bentuk lencana atau tanda pengenal khusus yang disematkan di seragam mereka. Semakin banyak prestasi, semakin banyak lencana yang mereka kenakan.

Bentuk apresiasi lainnya adalah tepuk tangan biasa namun berarti banyak bagi mereka. Kontribusi apapun yang mereka lakukan, selalu diiringi oleh ucapan dan tepuk tangan yang meriah. Persis seperti penonton Liga Premier di stadion sepakbola atau penonton Wimbledon saat pemain menyuguhkan permainan yang menghibur.

Ketiga aspek tersebut rupanya merupakan ramuan dasar bagaimana Inggris membangun generasi yang penuh percaya diri tinggi dan kualitas mental SDM yang bisa bersaing di tingkat global.

Beralih kepada dunia pesantren di Indonesia, sebenarnya sudah lumayan banyak pesantren yang menerapkan tiga ramuan di atas dalam membangun karakter positif santri.

Dibeberapa pesantren terutama pesantren modern seperti Gontor dan Darunnajah, bentuk pola pendidikan melalui penugasan dan penyerahan tanggung jawab kepada murid bukan sekedar lipstick belaka. Bukan hanya sekedar diatas kertas. Tapi menjadi ruh dinamika pondok yang sangat terasa disetiap lini kehidupan.

Seorang yang memiliki kecerdasan akademis bisa membantu mengajar kawannya yang belum faham dengan menugaskannya sebagai guru dipelajaran sore. Seorang yang memiliki kekuatan fisik dan keberanian lebih dibanding kawannya dipercaya menjadi bagian keamanan asrama. Seorang santri dengan kecerdasan musikal mendapat kesempatan memimpin klub musik dipondok tersebut. Selalu ada tempat untuk setiap santri berkontribusi kepada kepentingan komunitas yang lebih besar.

penugasan dan penyerahan tanggung jawab, salah satu bentuk pendidikan di pesantren

Dalam hal pendelegasian tanggung jawabpun pesantren tak ketinggalan. Santri sejak awal masa pendidikan secara bertahap diberi tanggungjawab untuk mengemban amanah dan tugas di segala bidang kehidupan di pondok. Dari mulai ketua kelas, ketua kamar, ketua rayon, pengurus asrama, pengurus club ekstra kurikuler, piket malam, piket kamar, pengurus organisasi santri, kepanitiaan dan masih banyak lagi. Nyaris seluruh urusan kehidupan santri ditangani langsung oleh santri juga. Guru hanya bertugas mengarahkan dan mengontrol proses tersebut.

Bentuk apresiasi pun sebenarnya sudah banyak diterapkan, meskipun agak berbeda dalam bentuk tampilannya. Biasanya, apresiasi itu hadir dalam bentuk kepercayaan dan penugasan. Semakin dipercaya, semakin banyak pula tugas yang diberikan kepada santri. Musta’mal istilahnya. Jalan awal menuju muhtarom (terhomat).

Hal hal inilah yang rupanya, sesuai dengan konsep kursi berkaki tiga tadi, yang kemungkinan besar menjadi alasan kenapa lahir sikap yang diistilahkan dengan nama “yahanu”.

Diadaptasi dari bahasa Arab yang mungkin orang Arab aslinya pun tak faham maksudnya. Istilah Yahanu dipakai untuk mengungkapkan perilaku seorang santri yang pede. Percaya diri (kadang kelewat) tinggi.

Santri Pondok Modern memang terkenal dengan sikap percaya diri tinggi. Untuk ukuran santri yang mayoritas berasal dari pelosok desa, Gontor misalnya, termasuk yang sukses merubah banyak santri yang berasal dari pelosok kampung menjadi alumni yang memiliki cita cita dan kepercayaan diri, dan daya saing tinggi.

Masuk domba, keluar jadi Macan. Begitu istilah yang sering dipakai Kyai.

H. Hadiyanto Arief, S.H, M.Bs.