Amaliyah Tadris An-Nahl Darunnajah 5

Udara dingin begitu terasa, tembus melewati sebilah kain yang melekat dalam tubuh. Tidak menghalangi para santri Ponpes darunnajah 5 melaksanakan shalat Subuh berjama’ah di masjid. Nampak senyum lebar terlihat dari mulut mereka. Hari itu adalah hari perpulangan, itulah moment yang sangat dinanti oleh para santri setelah berjibaku menghadapi ujian semester pertama dengan penuh semangat untuk meraih hasil yang memuaskan.
Suasana berbeda tampak pada santri/i kelas VI TMI. Liburan kali ini mereka isi untuk persiapan kegiatan amaliyah tadris. Setelah beberapa kegiatan seperti khithobah & imamah dilaksanakan. Tiba saatnya mereka melaksanakan amaliyah tadris. Inilah kegiatan terakhir di antara sederet kegiatan santri calon alumni ke 3 .
Amaliyah tadris, kata ini mungkin tidak akrab dengan telinga anda. Kata amaliah tadris berasal dari bahasa arab yang artinya praktek mengajar atau sering kita dengar dengan istilah Micro Teaching.
Sebelum pelaksanaan kegiatan ini, para santri diberi pembekalan tentang amaliyah tadris oleh pimpinan pondok dan para asatidz.
Setelah pembekalan dilaksanakan, para santri membuat i’dad atau lebih dikenal dengan istilah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Dalam i’dad ini mencakup di dalamnya tujuan pembelajaran khusus, serta indikator dan tujuan dalam mengajar. Para santri dibagi menjadi beberapa kelompok dengan seorang musyrif (konsultan). Musyrif di sini mengoreksi i’dad para santri. Apabila dalam i’dad terdapat kesalahan, maka santri tersebut membuat kembali i’dadnya. Bayangkan, ada yang sampai 5 kali membuat i’dad. Semuanya pantang menyerah, tak ada kata malas dalam mencari ilmu.
I’dad telah selesai, para santri mulai disibukkan dengan latihan. Mereka rela berlatih di tengah malam yang sunyi dan dingin. Berusaha semaksimal mungkin agar dapat sukses ketika praktek mengajar.
Akhirnya, tiba juga hari-hari yang telah di tungu-tunggu tanggal 11-14 februari 2017 para santri mulai melaksanakan kegiatan amaliyah tadris. Pelajaran yang diajarkan meliputi Nahwu, Fiqih, Tarikh Islam, Tafsir, Mahfudzat, Muthala’ah, Hadits, Imla, Bahasa Inggris dan Khot. Para santri laksana guru. Mulai dari pakaian, sepatu maupun cara mengajarnya.
Banyak kesan-kesan yang tidak dapat dilupakan dalam kegiatan ini. Maklum, para santri masih dalam tahap latihan. Tingkah laku para santri berbeda-beda. Ada yang mengajar dengan enjoy, percaya diri selangit. Ada juga santri yang nervous sampai lupa apa yang akan diajarkan. Perasaan para santri lega ketika bel ganti pelajaran terdengar oleh telinga. Tugas mereka telah selesai. Kemudian santri yang lain dan musyrif memberikan kritikan atas penampilan santri yang mengajar.


Dari kegiatan inilah para santri mengerti bagaimana cara menjadi guru yang mampu menciptakan generasi muda yang penuh dengan potensi.