Alumni Pesantren yang Menjadi Kreator Konten Edukasi Digital — Mengajar Jutaan Orang Sekaligus
Bagi orang tua yang membayangkan anak menjadi pengajar, ada kenyataan baru yang mengubah skala dampak profesi ini secara mendasar. Seorang guru di kelas biasa mengajar tiga puluh sampai empat puluh murid dalam satu waktu. Sepanjang karirnya selama tiga puluh tahun, ia mungkin mengajar beberapa ribu orang. Seorang pengajar yang membuat konten edukasi digital bisa menjangkau jumlah itu dalam satu hari.
Bagi keluarga Muslim Jabodetabek kelas menengah-atas yang membayangkan anak memiliki dampak yang luas, bidang konten edukasi digital menjadi jalur yang perlu dipahami. Asumsi yang sering muncul adalah bahwa membuat konten digital berarti mengejar popularitas dan bukan pekerjaan yang serius. Padahal ada sejumlah kreator yang membangun karya edukasi berkualitas dengan dampak yang sangat besar dan penghasilan yang sangat baik.
Tidak sedikit alumni pesantren modern yang kemudian menekuni jalur sebagai kreator konten edukasi. Beberapa mengajarkan bahasa Arab, sebagian mengajarkan ilmu agama, sebagian mengajarkan mata pelajaran umum, sebagian membuat konten tentang sains dan teknologi dari sudut pandang yang segar.
Sudut Pandang Orang Tua tentang Skala Dampak
Bagi orang tua yang memikirkan bidang mana yang memberi anak dampak paling besar, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan tentang bidang ini.
Pertimbangan pertama adalah skala jangkauan yang sulit dibandingkan. Sebuah penjelasan yang baik tentang cara membaca kitab kuning bisa ditonton oleh puluhan ribu orang di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Orang-orang yang tidak pernah punya kesempatan mondok bisa belajar dari penjelasan tersebut. Dampaknya menyebar dengan cara yang tidak mungkin dicapai melalui pengajaran tatap muka.
Pertimbangan kedua adalah keberlanjutan dampak. Sebuah video penjelasan yang dibuat hari ini akan tetap bisa diakses bertahun-tahun kemudian. Orang yang lahir sepuluh tahun lagi bisa belajar dari penjelasan yang dibuat sekarang. Dampak terus berjalan bahkan ketika pembuatnya sudah tidak aktif.
Pertimbangan ketiga adalah akses bagi yang tidak mampu. Banyak orang yang tidak mampu membayar biaya kursus atau tidak memiliki akses ke guru yang baik. Konten edukasi gratis memberi mereka kesempatan belajar yang sebelumnya tertutup. Dimensi keadilan ini membuat pekerjaan ini bermakna.
Pertimbangan keempat adalah kekosongan yang perlu diisi. Konten edukasi Islami yang berkualitas masih terasa sedikit dibanding besarnya kebutuhan. Ruang untuk menghadirkan penjelasan agama yang berpijak pada dasar keilmuan yang kuat masih sangat terbuka. Alumni pesantren dengan bekal keilmuan yang matang berada pada posisi yang baik untuk ikut mengisinya.
Pertimbangan kelima adalah kemandirian ekonomi yang nyata. Kreator konten edukasi yang berhasil biasanya memiliki penghasilan dari berbagai sumber. Pendapatan dari platform, kelas berbayar, buku, atau undangan mengajar. Sebagian kreator bahkan memperoleh penghasilan yang cukup besar dari jalur ini.
Pertimbangan keenam adalah fleksibilitas yang memungkinkan menjaga keseimbangan hidup. Kreator bisa mengatur waktu kerjanya sendiri sehingga bisa menyediakan waktu untuk keluarga dan ibadah.
Modal yang Dibawa dari Pesantren
Modal pertama adalah substansi keilmuan yang mendalam. Ini adalah pembeda yang paling menentukan. Konten yang hanya bersandar pada teknik penyajian tanpa kedalaman ilmu cenderung cepat kehabisan bahan. Sebaliknya, penguasaan materi yang kokoh memungkinkan sebuah karya terus berkembang dan tidak mudah kering.
Alumni pesantren memiliki sumur substansi yang sangat dalam. Bertahun-tahun mempelajari tafsir, hadits, fiqih, dan berbagai cabang keilmuan memberi bahan yang tidak akan habis selama puluhan tahun berkarya. Kedalaman ini membuat konten mereka bisa terus berkembang.
Modal kedua adalah kemampuan menyampaikan yang terlatih. Tradisi muhadhoroh melatih santri berbicara di depan orang secara rutin selama bertahun-tahun. Kemampuan menyusun penjelasan, menjaga perhatian pendengar, dan menyampaikan dengan jelas menjadi keterampilan yang sudah terbangun.
Modal ketiga adalah kemampuan menjelaskan hal rumit dengan sederhana. Tradisi pesantren mengajarkan bahwa ilmu harus disampaikan sesuai kemampuan pendengar. Santri terbiasa menjelaskan konsep yang rumit kepada adik kelas dengan bahasa yang lebih sederhana. Keterampilan ini justru menjadi inti dari konten edukasi yang baik.
Modal keempat adalah kredibilitas yang bisa diverifikasi. Penonton semakin selektif tentang siapa yang mereka percaya. Kreator dengan latar pendidikan yang jelas dan bisa diverifikasi lebih dipercaya dibanding yang tidak jelas latarnya. Alumni pesantren dengan sanad keilmuan yang jelas memiliki kredibilitas yang kuat.
Modal kelima adalah kerendahan hati yang justru menarik penonton. Kreator yang terkesan sombong atau merasa paling benar biasanya kehilangan penonton dalam jangka panjang. Alumni pesantren dengan karakter tawadhu biasanya membangun hubungan yang lebih tahan lama dengan penontonnya.
Modal keenam adalah konsistensi yang terlatih. Membangun kanal edukasi menuntut produksi konten yang konsisten selama bertahun-tahun sebelum benar-benar berkembang. Banyak yang berhenti di tengah jalan. Karakter konsisten yang terbangun selama mondok menjadi modal untuk bertahan.
Bidang Konten yang Terbuka
Pengajaran bahasa Arab termasuk ranah dengan kebutuhan yang sangat besar. Banyak orang ingin belajar bahasa Arab untuk memahami Al-Quran namun belum memiliki akses ke guru yang baik. Konten pengajaran bahasa Arab yang sistematis pun banyak dicari.
Ilmu agama adalah ranah yang paling banyak diisi sekaligus paling menuntut kualitas. Konten tentang fiqih, tafsir, hadits, atau akhlak yang disampaikan dengan dasar keilmuan yang benar sangat dibutuhkan di tengah derasnya arus informasi yang belum jelas sumbernya.
Ada pula pengajaran mata pelajaran umum yang jangkauannya luas. Konten yang menjelaskan matematika, fisika, atau kimia dengan cara yang mudah dipahami membantu sangat banyak pelajar. Sebagian alumni pesantren yang kuat di bidang sains menekuni area ini.
Persiapan ujian dan beasiswa menjadi tema yang banyak dicari. Konten yang membantu orang mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi atau meraih beasiswa memberi dampak nyata pada masa depan mereka.
Pengembangan diri dengan kerangka Islami adalah ranah yang terus tumbuh. Konten tentang manajemen waktu, kedisiplinan, atau pengembangan karakter yang disampaikan dari perspektif Islam menjadi kebutuhan banyak profesional muda Muslim.
Sementara itu, konten edukasi untuk anak masih terasa lengang. Bahan edukasi Islami yang berkualitas untuk anak-anak masih sedikit padahal kebutuhannya besar. Di sinilah terbuka peluang sekaligus tanggung jawab.
Bagi keluarga Muslim Jabodetabek kelas menengah-atas yang membayangkan anak berdampak luas, jenjang pesantren modern memberi substansi keilmuan dan kemampuan menyampaikan yang justru menjadi inti bidang ini. Yang perlu ditambahkan adalah penguasaan teknis produksi konten yang bisa dipelajari secara mandiri.
Perjalanan menjadi kreator konten edukasi seperti yang dibahas di sini memang menuntut substansi yang tidak bisa dibuat-buat. Yang efektif adalah kedalaman ilmu yang dibangun bertahun-tahun disertai kemampuan menyampaikan dengan sederhana. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan pondasi keilmuan tersebut bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk membantu anak mempersiapkan diri berkontribusi dengan cara yang sesuai zamannya.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.