Adab Berdoa
Menu

Adab Berdoa

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Doa memiliki adab-adab yang wajib bagi orang yang berdoa untuk berhias dengannya dan bersungguh-sungguh newujudkannya agar apa yang diminta bisa terkabulkan dan hajatnya terlaksana. Di antara adab-adab tersebut ialah;

1) Memanfaatkan waktu-waktu yang diberkahi

Waktu-waktu yang diberkahi misalnya adalah hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat dan waktu sahur

2) Memanfaatkan kondisi-kondisi yang utama

Dalam hal ini kondisi yang utama untuk digunakan berdoa misalnya adalah pada waktu sujud, saat perang sedang berkecamuk, turun hujan, dan waktu antara adzan dan iqamah.

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda;

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهَوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ

“Waktu terdekat antara hamba dengan Rabb nya ialah di saat ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa kepada-Nya.” (HR Muslim, Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)

3) Menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan

Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah mendatangi tempat wukuf di Arafah, lalu beliau menghadap kiblat dan terus berdoa hingga matahari terbenam (HR Muslim)

4) Merendahkan suara antara keras dan berbisik.

Sebagaimana diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy’ary berkata, “Kami datang bersama Rasulullah, ketika sudah dekat Madinah, beliau bertakbir dan para sahabat pun ikut bertakbir namun mereka dengan mengangkat suara. Maka Rasulullah saw bersabda;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّ الَّذِيْ تَدْعُوْنَهُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ أَعْنَاقِ رِكَابِكُمْ

“Wahai manusia, sungguh Zat Yang kalian seru bukanlah tuli dan bukan pula ghaib. Sungguh, Zat Yang kalian seru (dekatnya) seperti antara kalian dan leher binatang kendaraan kalian. (HR Abu Daud)

5) Tidak membuat-buat sajak dalam berdoa.

Seseorang yang berdoa hendaklah berada dalam keadaan berendah diri. Membuat-buat sajak dengan bersusah payah pada kondisi ini tidaklah sesuai. Allah swt berfirman;

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (٥٥)

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raaf: 55)

Hal ini apabila sajak dibuat dengan susah payah. Namun, apabila muncul dengan sendirinya, maka bukanlah hal yang terlarang sebagaimana ada pada banyak doa Rasulullah saw

6) Berendah diri, khusyuk, cemas, dan penuh harap.

Allah swt berfirman;

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (٩٠)

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS Al-Anbiya: 90)

7) Meminta dengan kesungguhan serta yakin akan dikabulkan dan benar-benar dalam berharap.

Abu Huraairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Berdoalah kepada Allah dan yakinlah doa kalian akan diijabahi. Sebab Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang kosong dan lalai.” (HR Tirmidzi dan Hakim)

8) Mendesak dalam berdoa serta mengulanginya tiga kali dan tidak menganggap lambat terkabulnya doa.

Ibnu Mas’ud menjelaskan apabila Rasulullah saw berdoa, beliau saw mengulanginya tiga kali. Dan apabila meminta, beliau juga mengulanginya tiga kali.

9) Membaca shalawat kepada Rasulullah saw.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah dan Abu bakar, Umar juga bersamanya. Ketika aku duduk (usai shalat), aku memuji Allah dan bershalawat atas Rasulullah saw, kemudian aku berdoa untuk diriku. Maka Rasulullah pun bersabda, ‘Mintalah niscaya kau akan diberi, mintalah niscaya kau akan diberi’.” (HR Tirmidzi)

Sahl bin Abdillah mengatakan, “Bershalawat atas Rasulullah ialah ibadah yang paling utama. Sebab, Allah sendiri mengerjakannya, juga para malaikat, kemudian Dia memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk bershalawat. Sementara itu, ibadah-ibadah yang lain tidak demikian.”

Abu Sulaiman Ad-Darany berkata, “Barangsiapa yang ingin berdoa memohon suatu keperluan kepada Allah, hendaklah ia memulainya dengan bershalawat atas Nabi, kemudian baru meminta keperluannya, lalu menutupnya dengan bershalawat atas Nabi. Sebab, Allah menerima doa yang terletak diantara dua shalawat, dan Dia Maha Pemurah dari menolak doa yang terletak antara keduanya.

Said bin Musayyib meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab r.a. berkata, “Doa akan bertahan di bawah langit sampai pemiliknya bershalawat atas Nabi. Apabila sudah bershalawat, maka doa baru akan diangkat.”

10) Tidak mengiringi doa dengan masy’iyah (ucapan; apabila berkehendak).

Seperti seseorang yang berdoa, “Ya Allah, ampunilah aku bila Engkau berkehendak. Ya Allah, berilah rezeki kepadaku bila Engkau berkehendak, dan sebagainya.” Sebab Rasulullah saw bersabda;

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلاَ يَقُوْلَنَّ : اَللهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa maka hendaklah ia berdoa dengan sunguh-sungguh, dan jangan sekali-kali ia mengatakan, ‘Ya Allah, bila Engkau berkehendak maka berilah aku,’ sebab, tidak ada satu pun yang dapat memaksa-Nya’.” (HR Al-Bukhari dari Anas bin Malik)

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari, “Maksudnya, bahwa yang perlu digantungkan pada kehendak adalah apabila yang diminta tidak ada unsur paksaan sehingga dengannya sesuatu jadi ringan, dan dimaklumi bahwa tidak diminta darinya kecuali dengan ridha-Nya. Adapun Allah, maka Dia Mahasuci dari hal tersebut. Dan dikatakan bahwa maksud dilarangnya hal tersebut ialah karena didalamnya tersirat ketidakbutuhan terhadap apa yang diminta.”

11) Jangan berdoa (jelek) atas diri kalian.

Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda;

لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوْا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيْهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

“Janganlah kalian berdoa (yang jelek) atas diri kalian, dan jangan berdoa (yang jelek) atas anak-anak kalian, dan janganlah kalian berdoa (yang jelek) atas harta kalian, jangan sampai kalian bertepatan dengan satu waktu (mustajab) dari Allah yang akan dikabulkan semua permintaan sehingga doa kalian pun juga dikabulkan.” (HR Muslim)

Karena itu wahai saudaraku, hindarilah mendoakan (kejelekan) atas dirimu, anak dan hartamu. Sebab, terkadang doa yang kau panjatkan bertepatan dengan waktu mustajab sehingga dikabulkan. Lantas apabila sudah terjadi apa yang dikhawatirkan, kau pun menyesal padahal penyesalan di akhir tiada guna. Akan tetapi, biasakanlah lisanmu untuk berdoa dengan doa yang baik.

[WARDAN/@abuadara]____________________

Seperti yang disampaikan pada Talim Bakda Shalat Isya di masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining oleh santri Kelas 6 TMI

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Idul Adha Di Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14

Pada perayaan Hari Raya Idul Adha 1441 H, Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 melaksanakan kurban dengan menyembelih sebanyak 2 ekor sapi dan 28 ekor

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Peran Orang Tua Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Adanya Pandemi Covid-19 mengharuskan para anak-anak harus mengikuti pembelajaran jarak jauh, dengan begitu dukungan orang tua atau wali murid menjadi sangat penting bagi keberlanjutan pendidik