Sebuah tonggak sejarah baru dalam dunia pendidikan Islam telah terancap kokoh. Pada hari Ahad, 16 Ramadhan 1446 H (16 Maret 2025), Pondok Pesantren Darul Muzari’in Al-Islamiyah secara resmi bertransformasi menjadi Pesantren Cabang Darunnajah yang ke-23. Ikrar wakaf yang berlangsung khidmat di Pesantren Darunnajah Jakarta ini menandai babak baru pengelolaan pesantren yang berlokasi di Cigeulis, Pandeglang, Banten.
Cikal bakal pesantren ini bermula dari mimpi besar Dr. H. M. Maftuh Basyuni (Menteri Agama RI 2004-2009) pada tahun 1998. Beliau mendirikan Darul Muzari’in yang bermakna “Rumah Para Petani”dengan visi visioner: mencetak santri yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga cakap dalam keterampilan pertanian.

Namun, wafatnya sang pendiri pada 20 September 2016 menjadi ujian berat. Pesantren mengalami stagnasi akibat kekosongan figur sentral dan kepemimpinan operasional. Lahan seluas 45 hektar belum tergarap maksimal, dan pengembangan program pendidikan sempat terhambat.
Menyadari pentingnya regenerasi demi kelangsungan visi almarhum, keluarga wakif yang dipimpin oleh Ibu Hj. Wiwik Zakiah Basyuni mengambil langkah strategis. Menggandeng Yayasan Darunnajah yang memiliki reputasi manajemen pesantren yang teruji (proven) dinilai sebagai solusi terbaik untuk melanjutkan estafet perjuangan.
Prosesi serah terima wakaf ini disaksikan langsung oleh keluarga besar Dr. Maftuh Basyuni, pengurus yayasan, serta tokoh pemerintah setempat. Bergabungnya Darul Muzari’in ke dalam jaringan Darunnajah bukan sekadar perubahan nama, melainkan sebuah upaya revitalisasi untuk menghidupkan kembali cita-cita luhur mencetak generasi santri agraris yang intelek. Kini, sebagai Darunnajah 23, pesantren ini siap menyongsong masa depan dengan manajemen yang lebih modern dan profesional.




