Modernisasi Pendidikan Pesantren Harus Tetap Jaga Nilai Luhur

Modernisasi Pendidikan Pesantren Harus Tetap Jaga Nilai Luhur

Pertemuan bersejarah Forum Komunikasi Pesantren Mu’adalah (FKPM) dan Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) se-Jawa Barat di Pesantren Al Basyariyah Bandung menghadirkan gagasan penting tentang masa depan pendidikan pesantren. Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, Ketua FKPM Nasional, menegaskan pentingnya mempertahankan sistem pendidikan pesantren yang komprehensif di tengah arus modernisasi.

 

“Sistem dan kurikulum Gontor itu komprehensif, holistik karena merupakan sistem dan kurikulum kehidupan,” tegas Prof. Amal dalam pertemuan yang dihadiri puluhan pimpinan pesantren se-Jawa Barat. Beliau menekankan bahwa modernisasi fasilitas tidak boleh mengorbankan nilai-nilai kemandirian yang menjadi ruh pendidikan pesantren.

 

  1. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, menambahkan bahwa pesantren harus teguh menjaga identitasnya. “Dunia sudah terbalik maka pesantren jangan ikut terbalik. Dunia sudah rusak maka pesantren jangan ikut rusak,” ujarnya dengan tegas.

 

Dalam forum tersebut terungkap bahwa Jawa Barat kini memiliki 31 pesantren mu’adalah, dengan rincian 25 pesantren mu’allimin dan 6 pesantren salafiyah. Sepuluh pesantren lainnya sedang dalam proses visitasi Kementerian Agama RI untuk mendapatkan status mu’adalah.

 

  1. Dr. Zulkifli Muhadl, Ketua Umum FPAG, mengungkapkan target ambisius menjelang perayaan 100 tahun Gontor pada 2026. “Setidaknya harus sudah ada 200 pesantren Mu’adalah dan gerbongnya ada di Jawa Barat,” katanya penuh optimisme.

 

Tuan rumah pertemuan, KH. Zen Saeful Azhar, M.Pd dari Pesantren Al Basyariyah Bandung, memberi contoh nyata keberhasilan penerapan sistem mu’adalah. “Dari total 3.600 santri kami, 1.600 santri sudah mengikuti program mu’adalah,” ungkapnya.

 

Para pemimpin pesantren sepakat bahwa kunci keberhasilan sistem pendidikan pesantren terletak pada keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai tradisional. Mereka menekankan pentingnya menjaga kemandirian dalam berbagai aspek, mulai dari kelembagaan hingga pendanaan.

 

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi pesantren di Jawa Barat untuk memperkuat komitmen dalam mengembangkan pendidikan Islam yang berkualitas. Tantangan ke depan adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai luhur pesantren sambil terus beradaptasi dengan tuntutan zaman modern.

 

Modernisasi pendidikan pesantren harus dilakukan tanpa kehilangan jati diri. Inilah pesan kuat yang mengemuka dari pertemuan bersejarah ini, sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh komponen pendidikan pesantren di Indonesia.

Pendaftaran Santri Baru