Search
Close this search box.
Modernisasi

Tak Hanya Menyajikan Modernisasi, ‘Negeri Kangguru’ Kaya Nilai Islam

Tak Hanya Menyajikan Modernisasi, ‘Negeri Kangguru’ Kaya Nilai Islam

Modernisasi

modernisasi

Selama Pandemi ini, Pondok Pesantren Darunnajah mengadakan acara internasional yang melibatkan tamu dari berbagai Negara. Acara Darunnajah Menyapa Dunia (DMD), sudah dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dan akan diadakan lagi pada hari tertentu. Acara DMD ini melibatkan Alumni dan Tamu dari luar negeri untuk memberikan motivasi dan membagi pengalaman tentang kehidupan mereka disana.

Pada tanggal 9 September 2020, bertepatan pada hari Rabu, Darunnajah menyapa Brother Abrar Chowdury, seorang dokter di Australia yang pernah belajar mengaji di Darunnajah pada masa kecilnya. Negara yang berada diantara Lautan Pasifik dan India ini, merupakan Negara yang cukup besar. Islam adalah yang ketiga terbesar di Australia, setelah Kristen dan Buddha. Pada tahun 2001, kira-kiranya 281,600 atau 1.5% penduduk negara ini mengakui diri mereka sebagai Muslim, dan semakin berkembang sampai saat ini.

Ka Abrar Chowdury bercerita tentang pengalaman beliau berpindah ke Australia. Dimana Ka Abrar melihat selain modernisasi ada banyak perbedaan dalam ajaran Islam. Setelah penelitian dan referensi yang banyak, Ka Abrar menyimpulkan bahwa banyaknya kultur dan tradisi bisa memperngaruhi ajaran sebuah agama. Misalnya dari aspek Mazhab. Indonesia dan Malaysia menganut Mazhab Syafi’i. Sedangkan Negara-negara Afrika mayoritas menganut Mazhab Maliki. Selain agama, tradisi bisa mempengaruhi suatu komunitas di bidang lain. Seperti aksen berbicara, adat istiadat, hukum dan norma, dan lain sebagainya.

blank

Menurut Ka Abrar, hambatan bagi kaum muslim di Australia adalah, mayoritas muslim menganggap bahwa budaya dan agama tidak bisa disetarakan. Karena ada budaya yang mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya dalam berpakaian. Beberapa Negara memiliki baju adat yang memperlihatkan aurat. Selain budaya yang memang asli, tantangan modernisasi dibidang kultur berpakaian pun juga menjadi hambatan

“Culture is fine with religion, as long as it doesn’t violate its law.”

“Budaya dibolehkan dalam agama, asalkan tidak merusak norma agama tersebut,” ujar Ka Abrar.

Ka Abrar menyimpulkan bahwa, Budaya dan Tradisi sangat berkesan dalam agama. Jika budaya tersebut masih memauthi syar’iat Islam, silahkan kita ikuti. Namun, jika budaya tersebut melenceng dari ajaran Islam, sebaiknya ditinggalkan.

Mengingat bahwa modernisasi di australia pun tak jauh beda dengan negara negara yang ada di amerika dan eropa, menjadi sebuah kekuatan baru jika islam dapat bertumbuh dengan pesat di negeri kangguru tersebut.

Ditulis oleh Mumtaz Cikal Ramadhan, Santriwan Kelas Akhir Tarbiyatul Mua’llimin Wal Mua’llimat Al Islamiyah Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta.

 

Pendaftaran Siswa Baru Pesantren Darunnajah