Tulisan ini adalah hasil Transkrip dari Ceramah Ust KH Zainuddin MZ;

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ، سيدنا ومولانا محمد وعلى آله وأصحابه المجاهدين الطاهرين ، أما بعد :

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, pada pertemuan terdahulu kita sudah membicarakan orang-orang yang menjadi teman-teman setan dalam kehidupan di dunia ini. Maka pada pertemuan kali ini kita akan membicarakan tentang siapa yang menjadi musuh-musuh setan di dalam kehidupan. Dengan satu catatan, berbahagialah mereka yang menjadi musuh-musuh setan. Tetapi celakalah mereka yang menjadi teman-teman setan. Bagaimanapun juga dalam kehidupan ini, apabila orang telah memproklamirkan bendera permusuhan kepada kita, maka kita tentu seharusnya bersikap waspada dan mawas diri. Demikian juga iblis dan seluruh bala tentaranya yang terdiri daripada setan-setan, mereka telah mengibarkan bendera permusuhan kepada Nabi Adam dan anak cucunya, kepada kita umat Rasulillah Saw. Akan sengsara dan celaka jika kepada iblis dan setan yang telah nyata-nyata mengibarkan bendera permusuhan itu kita mengadakan toleransi, mengadakan kerjasama dan menjadi budak yang memperturutkan kemauan daripada iblis dan setan. Siapa yang menjadi musuh-musuh setan dalam kehidupan ini? Inilah pertanyaan berikutnya yang diajukan oleh baginda Rasul kepada iblis.

“Hai iblis, kalau teman-temanmu seperti yang telah engkau jelaskan tadi, sekarang cobalah beritahu saya, siapa di antara umatku yang menjadi musuhmu dalam kehidupan ini?”

Atas pertanyaan ini iblis la’natullah menjawab, “Ya Rasul, musuh-musuhku di antara umatmu; pertama,

أنت يا محمد

“Musuhku yang pertama adalah engkau, wahai Muhammad.”

Kenapa iblis mencatat Nabi Muhammad sebagai tokoh nomor satu dalam deretan musuh-musuhnya? Mudah dipahami, pertama, keberadaan Rasul merupakan rahmat lil ‘alamin, rahmat bagi lingkungan. Yang kedua, beliau berfungsi menyelamatkan manusia dari tempat yang gelap gulita, dari tempat kesesatan menuju tempat yang terang benderang penuh berisi petunjuk dan hidayah dari Allah Swt. Maka menurut iblis inilah manusia perintang pertama atas segala daya dan usahanya menggelincirkan manusia ke jalan yang dimurkai oleh Allah Swt. Kalau kita baca sejarah, risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini memang merupakan risalah yang membawa rahmat oleh alam sekitarnya. Ada sedikit perbedaan dengan risalah-risalah sebelum beliau. Sepertinya risalah yang dibawa oleh para rasul terdahulu itu mempunyai efek yang langsung pada kehidupan di dunia ini. Nabi Nuh misalnya menyampaikan agama. “Hai umatku, ini agama.” Umat menentang, turun banjir yang menenggelamkan orang-orang kafir. Azab diturunkan pada waktu itu juga pada saat nabinya masih hidup. Jadi azabnya itu jenis cash, kontan. Nabi Shaleh. “Hai umatku, ini agama.” Mereka menolak, turun gempa bumi yang amat hebat menggulung orang-orang kufur. Nabi Musa, “Hai umatku, ini agama.” Mereka menolak, sebagian ditenggelamkan di lautan merah. Sedangkan sebagian lain dikutuk menjadi monyet-monyet yang hina seperti diceritakan dalam al-Quranul Karim. Lain dengan Rasulullah Saw., bagaimanapun kurang ajarnya umat yang dihadapi oleh beliau, bagaimana pun menentangnya jamaah yang dihadapi oleh beliau, azab tidak turun sepanjang beliau masih hidup. Ini merupakan jaminan dari Allah,

وما كان الله ليعذبهم وأنت فيهم

“Allah sama sekali tidak akan menurunkan azab selama engkau wahai Muhammad masih hidup di tengah-tengah umatmu.”

Jadi keberadaan Nabi Muhammad merupakan jaminan keselamatan bagi umatnya. Selama beliau masih hidup, azab tidak turun, bagaimana pun kurang ajarnya umat. Di sini sedikit bedanya dengan nabi-nabi terdahulu.

Juga perbedaan dalam pola dakwah. Nabi Nuh ketika dakwahnya ditolak oleh umat, keluar doanya meminta umatnya ditenggelamkan. Tetapi Nabi kita ditontari batu oleh umat, malah beliau mendoakan umatnya agar memperoleh hidayah. Oleh sikap yang semacam ini wajar lalu iblis menganggap Nabi Muhammad sebagai musuh rangking pertama.

Yang kedua, siapa musuhmu di antara umatku? Yang kedua, kata iblis, musuhku Muhammad,

إمام عادل

“Pemimpin yang adil.” Itu yang akan menjadi musuhku di dunia ini. Putus asa iblis menghadapi pemimpin yang adil. Tipu dayanya tidak terkena. Segala tingkah polahnya tidak diperturutkan. Imam yang adil, pemimpin yang adil, merupakan musuh daripada iblis la’natullah ‘alaih. Apa sebabnya? Karena pemimpin yang adil mempunyai dampak dalam kehidupan di dunia ini; melindungi orang banyak, menentramkan orang banyak. Makin aman, tentram, situasi dan kondisi, makin mudah orang melaksanakan ibadah. Makin tekun orang melaksanakan ibadah, makin dekat dia dengan Allah. Makin dekat manusia dengan Allah, makin jauh dia dari iblis. Sebab dua hal ini selalu kontradiktif. Jika kita jauh dari Allah, tentu dekat dengan iblis. Jika kita jauh dari iblis, harus dekat tentu dengan Allah. Dan begitu selanjutnya.

Dalam kaitannya dengan kehidupan kita sekarang, saudara-saudara, di sinilah perlunya mempersiapkan manusia. Membangun manusia itu jauh lebih sulit daripada membangun jembatan. Membangun manusia itu lebih sulit daripada membangun gedung-gedung bertingkat. Termasuk membangun dan mempersiapkan calon-calon pemimpin yang adil di masa yang akan datang. Membangun jembatan penting. Tapi lebih penting daripada membangun jembatan adalah membangun manusia yang bikin jembatan. Sebab kalau manusia yang bikin jembatan tidak dibangun lebih dahulu, saya khawatir jembatannya nanti habis dimakan oleh yang bangun jembatan. Mengaspal jalan raya, penting. Lebih penting daripada mengaspal jalan raya, membangun manusia yang mengaspal jalan itu. Sebab kalau manusia yang mengaspal jalan bermental rusak dan bejad, saya khawatir jalan belum selesai aspalnya habis dimakan oleh yang ngaspal. Inilah pentingnya membangun manusia pembangunan. Semua tugas-tugas besar, semua pekerjaan-pekerjaan yang baik harus berangkat dari niat yang baik, berangkat dari hati yang bersih. Siapa pun adanya kita, apapun profesi kita. Yang jadi kyai, marilah berangkat dari niat yang bersih. Yang jadi muballigh, marilah berangkat dari niat yang bersih. Niatnya itu mau menghidupkan Islam atau mau cari hidup jual Islam. Kalau mau menghidupkan Islam, mari sama-sama kita berjuang. Tapi kalau mau cari hidup dengan menjual Islam, minggir saja daripada nanti bikin malu. Yang mengurus masjid mari berangkat dari niat yang bersih. Ngurus masjid itu niatnya mau menghidupkan masjid atau mau cari hidup di dalam masjid. Kalau mau menghidupkan masjid, mari. Tapi kalau mau cari hidup di dalam masjid, tolong minggir saja daripada nanti bikin aib. Yang jadi orang alim mari berangkat dari niat yang bersih. Jangan memperjual belikan fatwa; yang halal dikatakan haram, yang haram jadi samar-samar. Nanti membingungkan umat. Berangkat dari niat yang bersih membangun manusia pembangunan. Ini barangkali istilah yang lebih kena.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, setiap kita pada hakikatnya punya bakat. Secara fitrah yang kita bawa bakat apapun kita ini punya. Saudara punya bakat jadi pemimpin, saudara pun punya bakat jadi pengkhianat. Saudara punya bakat jadi orang shaleh, saudara juga punya bakat jadi orang salah. Saudara punya bakat jadi orang besar, saudara pun punya bakat jadi orang hina. Seluruh bakat ada di dalam diri kita. Tinggal nanti pertumbuhannya mana yang lebih subur. Saudara punya sifat berani, saudara pun punya sifat takut. Seberani-beraninya orang mesti ada sifat takutnya. Nanti mana yang tumbuh lebih subur. Kalau takutnya tumbuh lebih subur, dia akan jadi orang penakut. Kalau beraninya yang tumbuh lebih subur, dipupuk oleh lingkungan, pendidikan, dan sebagainya, dia akan tumbuh jadi orang pemberani. Oleh karena itu agama merupakan lingkungan yang subur untuk menumbuhkan benih-benih yang baik yang kita bawa bersamaan dengan lahirnya kita ke alam dunia ini. Setiap kita, saya, saudara, punya bakt jadi pemimpin, punya bakat pengkhianat, punya bakat jadi pengabdi, punya bakat jadi koruptor, punya bakat jadi pemelihara, punya bakat jadi perusak. Tinggal nanti lingkungan, pendidikan, yang menumbuhkan, mana yang tumbuh lebih subur. Kalau lingkungan saudara lingkungan maling, maka sifat pengkhianat akan tumbuh lebih subur. Nanti kalau saudara jadi pemimpin insya Allah korupsi. Lingkungan yang menumbuhkan. Sifat mengabdi, sifat berbuat tanpa pamrih, kalah. Dikalahkan oleh sifat pengkhianat dan korupsi itu yang dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya. Oleh karena itu secara dini agama menanamkan, menyuburkan, fitrah-fitrah yang baik yang kita bawa bersamaan dengan hadirnya kita dalam kehidupan ini. Sebab itu seorang penyair bernama Syauqi mengatakan dalam sebait syairnya,

ولدتك أمك ياابن آدم باكيا والناس حولك يضحكون سرورا

“Hai manusia, pada saat kamu dilahirkan, kamu menangis dan orang lain di sekelilingmu ketawa.”

Kakek senyum dapat cucu baru. Paman gembira dapat keponakan baru. Sementara kita yang lahir menangis. Betul apa bener? Apa ada saudara yang begitu dilahirkan terus nyengir? Saya kira kabur dukunnya itu. Setiap kamu hai manusia lahir dalam keadaan menangis orang sekelilingmu tertawa. Karena itu katakan kepada mereka yang senyum di sekelilingmu, hai manusia, “Pada saat saya dilahirkan saya menangis dan kamu semua tertawa. Baik manusia. Tapi nanti pada suatu saat harus terjadi kebalikannya. Kalau di kala saya lahir saya mengangis dan kau semua senyum, nantilah manusia kalau suatu saat saya meninggalkan alam dunia ini, saya akan berangkat dengan senyum dan kalian semua akan berurai air mata. Kalau perlu dari Sabang sampai Merauke kibar bendera setengah tiang.” Kalau perlu. Jangan terbalik. Kita mati melotot, orang malah gembira. Karena hidup selalu membawa sifat-sifat yang merusak. Inilah orang kedua yang menjadi musuhnya iblis dan beruntung menjadi musuh iblis. Siapa? Imamun ‘adil, pemimpin yang adil.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, yang ketiga, musuh iblis,

غني متواضع

“Orang kaya yang rendah hati.”

Orang kaya yang tidak sombong. Kaya apa saja. Baik kaya oleh karena ilmu. Orang yang kaya karena ilmu disebut orang alim. Baik kaya karena materi. Orang kaya karena materi dinamakan hartawan. Baik kaya karena kedudukan. Orang yang kaya karena kedudukan dinamakan pejabat. Orang kaya yang rendah hati itu musuh iblis. Beruntung dia menjadi musuh iblis. Iblis tidak senang ada orang kaya tidak sombong. Tapi iblis paling seneng kalau ada orang kaya sombong. Lebih seneng lagi iblis kalau ada orang miskin sombong. Masya Allah. Orang kaya sombong walaupun iblis seneng, orang masih bilang, “Pantas aja dia sombong, kaya. Apaan aja punya.” Udah miskin sombong, kira-kira yang disombongin apaan. Dalam segala bentuknya sombong ini Allah tidak seneng. Tapi iblis seneng. Kenapa? Karena sponsor sombong iblis. Kan yang pertama kali sombong iblis tho! Ketika disuruh sujud kepada Nabi Adam, dia gak mau. Ini kesombongan pertama yang terjadi dalam sejarah. Ketika ditanya, “Kenapa kau tidak mau sujud, iblis?” “Ah, saya kan dibikin dari api. Adam dari tanah. I’m the best. Saya lebih hebat daripada Adam. Adam baru kemarin dibikin. Saya sudah lama.” Kata Allah, “Kamu sombong iblis. Ini surga bukan tempat orang sombong. Keluar!” Terusir dia dari surga. Jadi, kesombongan pertama adalah kesombongan yang dilakukan oleh iblis dan dia tanamkan itu kepada kita supaya jadi orang sombong. Karena itu sombong ilmu, Allah gak seneng, tapi iblis seneng. Mentang-mentang ada ilmunya, “Nih, satu-satunya ustadz di sini ya. Semua mesti ngaji sama gue. Kalau gak ngaji sama gue, Islamnya kurang tapi bener.” Sombong karena ilmu. Sombong karena pangkat. Mentang-mentang pake bintang di pundak, jalan pundak duluan. Yang wajar saja hidup ini. Sombong harta pun begitu.

Kaum Muslimin rahimakumullah, orang kaya yang rendah hati dimusuhi oleh iblis, tapi dicintai Allah, dicintai Rasul, dicintai malaikat. Caranya bagaimana? Kembali kepada satu kesadaran bahwa pada saat terlahir ke alam dunia ini, tidak ada yang pernah kita bawa. Kalau sekarang kita punya rumah, punya kebun, punya kendaraan, punya pabrik, punya segala macam benda, apa itu? Titipan. Pada suatu saat akan diambil kembali oleh yang menitipnya. Kalau titipan itu pandai kita jaga, pandai kita syukuri, titipan akan makin banyak. Sama juga kita dalam kehidupan. Kalau orang bisa kita percaya, saya mau pergi ke luar negeri. Rumah saya titip kepada tetangga. Saya pulang dari luar negeri, isi rumah tetap, tidak berkurang, malah dibersihi malah disapu, dihilangkan kotorannya, tentu bukan main syukur saya, girang saya. Akan bertambah kepercayaan saya untuk menitipkan apa saja. Ini makna,

لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد

“Kalau kamu pandai bersyukur, aku tambah nikmat. Tapi kalau kamu ingkar, azabku teramat pedih.”

Artinya apa? Nikmat bisa berubah menjadi azab kalau kita tidak pandai mensyukurinya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, orang yang kaya ilmu lalu rendah hati, tidak selalu ingin menonjolkan diri. Kadang-kadang yang tanggung ini yang bikin berabe. Alim bener enggak, geblek bener juga enggak. Yang sedikit-sedikit mau nonjolin diri. Kalau gak jadi imam, gak mau ke masjid. Gak jadi imam, gak mau ke mushalla. Pokoknya kalau gak jadi imam, marahan ama mushalla. Macam mana?

Saudara-saudara kaum Muslimin, rendah hati, tidak selalu ingin menonjolkan. Sebab orang yang selalu ingin menonjolkan dirinya, biasanya orang yang kekurangan kepercayaan kepada kemampuan dirinya sendiri. Dia selalu ingin dinomorsatukan. Dia selalu ingin ditempatkan pada rangkit teratas. Dia tidak percaya diri. Orang yang percaya diri dapat bersikap wajar dalam kehidupan. Begitu juga kaya karena harta, dengan menyadari bahwa harta bagaimana pun banyaknya titipan dari Allah. Pada suatu saat akan kembali. Dia harus dimanfaatkan sesuai dengan kehendak yang menitipnya. Begitu juga kaya oleh karena pangkat, kedudukan, dan jabatan. Pada suatu saat jabatan itu akan hilang dari diri kita. Karenanya sering saya jelaskan bahwa pangkat di dunia ini yang paling tinggi pensiun. Titel yang paling akhir almarhum. Saudara setuju atau tidak, titel itu akan saudara dapat. Bagaimana pun kita cinta kepada pangkat, kedudukan, toh pada akhirnya atau suatu saat akan sampai pada posisi yang namanya pensiun. Kalau sadarlah kita pada pemikiran kearah sana, maka untuk mencapai kekayaan, baik kekayaan harta, kekayaan kedudukan, tidak lalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tapi, dibatasi oleh norma dan kaidah yang harus dia taati, baik kaidah agama, maupun kaidah bernegara. Inilah orang ketiga yang menjadi musuhnya iblis. Orang kaya yang rendah hati. Orang kaya yang tidak sombong.

Yang keempat, saudara-saudara,

تاجر صادق

“Pedagang, pengusaha, yang jujur.” Iblis gedek betul, benci bukan main, sama pengusaha, sama pedagang, yang jujur, yang tidak ngurangi timbangan, tidak nipu pembeli, tidak barang yang jelek dibilang bagus, atau yang bagus di atas yang jelek di bawah, atau dicampur yang baik dengan yang jelek supaya kelihatan semuanya jadi baik. Semua orang ingin untung. Tidak ada kecuali. Siapa pun orangnya. Dan itu wajar. Setiap manusia ingin mendapat keuntungan. Kalau perlu dengan modal minimal mencapai keuntungan maksimal seperti yang diajarkan oleh teori ekonomi. Itu kan yang namanya produktif kan. Satu usaha dinamakan produktif, bagaimana kita mengeluarkan modal minimal bisa mencapai keuntungan maksimal. Silahkan! Bahwa manusia ingin untung. Itu insting, naluri, fitrah. Tidak ada orang yang mau rugi. Tapi cara mencapai keuntungan itu yang membedakan antara seorang muslim dengan yang bukan muslim. Sudah pernah saya sampaikan apabila kaum pengusaha, para pedagang, sudah dijangkiti penyakit yang tidak jujur, yang akan timbul adalah kekacauan ekonomi. Kekacauan ekonomi bisa menimbulkan revolusi sosial. Dan revolusi sosial merupakan kiamat satu generasi. Semua kericuhan hampir bermuara dari perut. Dan itu ekonomi. Orang nodong, perut. Orang korupsi, perut. Ya walaupun korupsi kalau sudah kelas kakap tidak lagi sekedar urusan perut. Ya perut apa yang diurusin kalau korupsinya milyaran itu? Perut jin barangkali.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, oleh karena itu pedagang yang jujur, pengusaha yang jujur, ini merupakan musuh iblis. Iblis tidak seneng kalau ada pengusaha yang jujur. Iblis tidak senang kalau ada pedagang yang jujur. Tapi iblis akan tepuk tangan kalau pedagang sudah selingkuh, kalau pengusaha sudah nipu. Ada orang bilang, “Ah, sekarang mah kalau jujur-jujur bener gak makan apa-apa donk kita. Sebab katanya jangan lagi nyari yang halal, sekarang ini yang haram aja seret.” Rupanya sering masang undian gak pernah kena, lalu bilang, “Jangan yang halal. Yang haram aja gak kena-kena.” Sebenarnya bukan itu masalahnya, saudara-saudara. Bukan itu masalahnya. Masalahnya ialah bahwa kejujuran membawa keberkahan. Ini kalau kita berfikir dengan kaca mata agama. Keberkahan merupakan sumber ketenangan dan ketengangan ini tidak bisa dibeli dengan materi yang bagaimana pun banyaknya. Walaupun kita punya percetakan duit, ketenangan itu gak bisa dibeli. Jangankan cuma punya duit banyak, percetakan duit saudara punya mau membeli ketenangan yang berasal dari keberkahan, sulit. Jadi, kejujuran membawa keberkahan. Keberkahan membawa ketenangan. Jangan macam dulu tukang sol sepatu ditanya oleh temannya, “Bang ngesol satu hari dapat berapa?” “Dua ratus. Dua ratus rupiah.” “Sembahyang gak?” “Enggak.” “Islam?” “Islam. Kalau Islam mah.” Kata temannya, “Sembahyang deh. Kali aja besok dapat rezeki lebih banyak.”  “Yang bener?” “Iya. Sebab kalau orang shalat itu Allah deket. Nanti rizkinya ditambah.” “Beneran?” “Bener.” Subuh, sembahyang dia. Habis sembahyang, sarapan, berangkat ke tempat dia ngesol, mangkal. Dari pagi sampai jam sebelas belum ada juga yang ngesol. Mulai bimbang hatinya. “Katanya kalau sembahyang rezeki tambah. Tadi sembahyang Subuh sampai gini hari belum ada yang ngesol! Ah, cobaan kali? Sabar.” Datang shalat Dzuhur. Shalat Dzuhur. Habis Dzuhur nunggu lagi. Belum juga ada yang datang ngesol. Udah mau pulang hampir maghrib baru datang satu orang dandanin sandal jepit putus. Sudah, bayar 25 rupiah. Pulang dia si tukang sol ini, ketemu sama temennya yang nyuruh shalat tadi. Ditanya, “Bagaimana penghasilan ini hari?” Dijawab, “Gua kapok deh sembahyang. Kemarin gak sembahyang dapat 200. Sekarang begitu sembahyang jigo.” Dia tidak sadar bahwa dari kaca mata agama 25 rupiah yang membawa berkah jauh lebih baik ketimbang 200 uang panas dari kaca mata agama. 25 rupiah yang membawa berkah lebih baik daripada 200 rupiah tapi panas. Sebab panas menjauhkan kita dari ketenangan. Itulah sebabnya maka pedagang yang jujur, pengusaha yang jujur, menjadi musuh setan. Dan beruntung. “Ah, sekarang jadi pengusaha jujur-jujur gak dapat proyek, pak. Kalau gak bisa semar semir semur.” Padahal agama sudah menjelaskan,

الراشي والمرتشي في النار

“Orang yang nyogok dan orang yang disogok, dua-duanya neraka.”

Kenapa? Join. Join termasuk ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan, bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan kesalahan. Kalau hadiah? Lain hadiah. Kalau shadaqah? Lain shadaqah. Tapi yang namanya semir, suap, ar-rasyi wal murtasyi fin nar.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, jadi pedagang yang jujur, pengusaha yang jujur, merupakan salah satu roda perekonomian. Kegoncangan ekonomi akan menimbulkan dampak sosial yang sangat luas dan komplek, yang pada giliran puncaknya dampak paling negatifnya dia sanggup menggerakkan terjadinya revolusi sosial. Bukankah sebagian besar gerak hidup manusia dimotivasi oleh keinginan untuk mempertahankan kelangsungan hidup? Dan kelangsungan hidup artinya mulut. Mulut itu artinya perut. Dan itu artinya makan. Setelah itu mungkin baru sandang, baru dia berpikir pakaian dan sebagainya. Jadi karena dia merupakan penggerak roda ekonomi, pedagang yang jujur, pengusaha yang jujur, mutlak diperlukan dalam kehidupan ini. Sebab sekali lagi, kejujuran akan membawa keberkahan. Keberkahan memberikan ketenangan dalam kehidupan. Oleh karenanya kita umat Islam biarin duit kita banyak asal berkah. Itu tentu idealnya. Ketimbang dikit tidak berkah lebih baik ya banyak ya berkah. Dan keberkahan itu datang lewat kejujuran. Kejujuran ini sudah dicontohkan oleh Rasul pada saat beliau berniaga ke negeri Syam di kala berumur 9 tahun bahkan di kala berumur 25 tahun ketika membawa dagangan sayyidatuna Khadijah yang kelak jadi istri beliau.