Yang Perlu di Perhatian Sebelum Bercanda

bercndaSiapa yang tidak suka bercanda? Bercanda merupakan salah satu hoby manusia untuk menghilangkan kejenuhan dan menjadikan suasana lebih hidup. Namun ada orang yang bercanda berlebihan sehingga bukan kenyamanan yang tercipta namun sebaliknya ketegangan bahkan sampai menimbulkan rasa dendam, itulah hasil dari bercanda yang berlebihan dan tidak sesuai etika.

Lalu seperti apa cara bercanda yang di perbolehkan? Yaitu bercanda seperti yang telah di contohkan oleh kekasih Allah Rasulullah saw. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatanngan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”. (QS Al Ahzab: 21).

Apakah nabi Muhammad saw sebagai seorang Rasulullah pernah bercanda? Tentu saja pernah. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw”, “Wahai Rasululullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah saw bersabda, “Tentu, hanya saja aku akan berkata benar”. (HR Ahmad)

Seperti apa bercanda yang di contohkan oleh Rasulullah saw? dan apa yang harus kita perhatikan sebelum bercanda? berikut sedikit ulasannya;

  • Bercanda dengan niat baik

Setiap bercanda pastikan kita dilandaskan dengan niat baik, untuk memecah kesunyian agar lebih frash kembali, memberi semangat kepada teman yang sedang lesu dan lain sebagainya. Tentunya harus melihat sikondisi bersama kita bercanda dan kapan waktunya kita bercanda.

  • Bercanda tidak berlebihan

Tujuan bercanda adalah untuk mencairkan suasana agar tidak terkesan hampa, untuk menciptakan suasana yang nyaman tentunya harus dengan candaan yang ringan dan enak untuk di terima semua orang tidak berlebihan karena dapat menyinggung bahkan menyakiti hati orang lain. Salah satu yang dilarang berlebihan yakni tertawa. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu terlalu banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati”. (HR Tirmidzi)

  • Bercanda tidak mengandung unsur dusta/kebohongan

Dalam bercanda tentunya kita harus mampu untuk memilih kata-kata yang tepat dan tidak mengada-ada bahkan mengandung kebohongan didalamnya. Rasulullah saw bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa”. (HR Ahmad)

  • Bercanda tidak mengandung unsur hinaan/mencela

Kita tidak boleh bercanda di depan umum dengan niat untuk menjelekkan orang lain atau merusak nama baik orang lain. Rasulullah saw bersabda, “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain, boleh jadi wanita-wanita yang diolok-olok lebih baik dari wanita yang mengolok-olok dan janganlah kamu memanggil denngan geler-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan yang buruk sesudah beriman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS Al Hujarat: 11)

Yang termasuk menghina adalah kita bercanda dengan memakai gelar/nama panggilan yang tidak baik, karena nama adalah sebuah do’a.

  • Tidak bercanda dalam hal nikah

Bagi muslim yang sudah menikah harus berhati-hati ketika hendak bercanda dengan pasangannya jangan sampai bercanda dalam hal nikah, talak dan rujuk. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tiga perkara yang sungguh-sungguhnya dan main-main di pandang sungguhan yaitu nikah, talak dan rujuk”. (HR Tirmidzi)

  • Tidak bercanda dalam urusan agama

Sebagai seorang muslim tentunya kita harus memuliakan agama islam, menjaga dan mensucikan syiar-syiarnya. Sangat terlarang jika kita bercanda menggunakan urusan agama karena bisa saja akan merusak keimanan kita, bahkan terjerumus pada isthza’ (penghinaan) terhadap Allah swt, para malaikat Nya, Nabi Nya dan umat islam.

  • Tidak bercanda menggunakan benda tajam

Sangat berbahaya bila bercanda menggunakan benda tajam, karena bisa jadi ketika kita sedang bercanda syitan membisaikan dan merayu kita sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Wallahu ‘alam

Disarikan dari ta’lim ba’da shalat ashar oleh ustadz Abdul Munir S.Pd.I

Masjid Kampus 2 Darunnajah Cipining, Ahad 4/9/2016.

(Wardan/MAS)