Menu

Waspadai Gangguan Bicara Pada Anak

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Anak-anak yang mengalami gangguan bicara dan gangguan bahasa (delay speech) merupakan salah satu kelainan dalam perilaku komunikasi yang ditandai dengan kesalahan dalam proses bunyi bicara anak. Perkembangan bahasa sangat dipengaruhi oleh kondisi serta situasi keadaan lingkungan sekitar. Perkembangan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan bicara.

Dari segi klinis, gangguan bicara pada anak berhubungan dengan penyebab lainnya. Beberapa kelainan tersebut diantaranya adalah:

1. Disatria. Merupakan jenis kelainan yang terjadi akibat kerusakan susunan syaraf pusat yang menyebabkan kelumpuhan, kekakuan, kelemahan atau juga gangguan pada koordinasi otot-otot alat komunikasi/ucap atau organ bicara.

2. Dislalia. Merupakan gejala gangguan bicara karena kurang atau tidak mampu dalam memperhatikan bunyi ucapan yang diterima, sehingga konsep bahasanya tidak terbentuk.

3.Disaudia. Gangguan ini merupakan gangguan bicara yang disebabkan oleh gangguan pendengaran anak.


4. Disglosia. Disglosia adalah gangguan bicara karena adanya kelainan dalam struktur organ bicara dan struktur organ artikulasi, seperti sumbing langitan, anomaly (kelainan bentuk lidah)


5. Dislogia. Merupakan satu bentuk kelaian bicara yang disebabkan oleh kemampuan kapasitas berpikir atau taraf kecerdasan di bawah normal.

Orangtua harus waspada dan khawatir jika anak mengalami keterlambatan bicara yang berat dengan tanda-tanda sebagai berikut:

– Sampai dengan usia 10 minggu, anak tidak mau tersenyum sosial.

– Pada usia 3 bulan, anak tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban.

– Pada usia 6 bulan, anak tidak mampu memalingkan mata dan kepalanya terhadap suara yang datang dari belakang atau sampingnya.

– Sampai dengan usia 8 bulan, anak tidak ada perhatian terhadap lingkungan sekitarnya.

– Pada usia 10 bulan, anak tidak memberi reaksi terhadap panggilan namanya sendiri.

– Pada usia 15 bulan, anak tidak berbicara, tidak mengerti dan memberikan reaksi terhadap kata-kata jangan, dadah dan sebagainya.

– Pada usia 18 bulan, anak tidak dapat menyebutkan 10 kata tunggal.

– Sampai usia 20 bulan, anak tidak mengucapkan 3-4 kata.

– Pada usia 21 bulan, anak tidak memberikan reaksi terhadap perintah (misal: duduk, kemari, berdiri).

– Pada usia 24 bulan, anak tidak dapat menyebutkan bagian-bagian tubuh dan belum mampu mengetengahkan ungkapan yang terdiri dari 2 kata.

– Setelah usia 24 bulan, anak hanya memiliki perbendaharaan kata yang sangat sedikit atau tidak memiliki kata-kata huruf z pada frase.

– Pada usia 30 bulan, ucapan anak tidak dapat dimengerti oleh anggota  keluarganya.

– Pada usia 36 bulan, anak belum dapat menggunakan kalimat-kalimat sederhana, belum dapat bertanya dengan menggunakan kalimat tanya yang sederhana, dan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh orang di luar keluarganya.

– Pada usia 3,5 tahun, anak selalu gagal untuk menyebutkan kata akhir (misalnya ‘ca’ untuk cat, ‘ba’ untuk ban, dan lain-lain).

– Setelah usia 4 tahun, anak berbicara dengan tidak lancar (gagap).

– Setelah usia 7 tahun, anak masih suka melakukan kesalahan dalam pengucapan.

– Pada usia berapa saja terdapat hipernasalitas atau hiponasalitas (sengau atau bindeng) yang nyata atau memiliki suara yang monoton tanpa berhenti, sangat keras, tidak dapat didengar, dan secara terus-menerus memperdengarkan suara serak.

 

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Putri Al-Manshur Darunnajah 3 Serang Banten

Praktek Manasik Haji

Serang, (18/02/20) seluruh santriwati kelas 3 Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah melaksanakan kegiatan Praktek Manasik Haji. Kegiatan Praktek Manasik Haji adalah salah satu materi dalam

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

STAI Darunnajah Gelar Lomba Dakwah Haji Se-Jabodetabek,

STAI Darunnajah Jakarta akan menggelar Lomba Dakwah Haji se-Jabodetabek pada tanggal 7 Maret 2020. Dalam menggelar acara ini, STAI Darunnajah bekerjasama dengan Forum Komunikasi Alumni