Oleh : Febrina Dwiyanti (Kelas XI MA Darunnajah Pabuaran)a href=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2011/02/wardati-lagi.jpg”>img class=”alignleft size-medium wp-image-656″ title=”wardati-lagi” src=”http://darunnajah3.com/wp-content/uploads/2011/02/wardati-lagi-214×300.jpg” alt=”” width=”214″ height=”300″ />/a>
Perlahan Aku membuka mataku…
Ku pandangi di sekelilingku sudut kamarku…huff…. Aku mulai bernafas lega…ku kira mimpi yang baru saja Aku alami adalah mimpi yang kesekian kali membuatku terbangun. Segera kuambil jam weker yang berada disamping tempat tidurku, ternyata pukul 01.25 Astaga….!! Ku pukul keningku, ku pandangi lagi seluruh sudut kamar, tak ada satu orangpun yang masih bangun hanya aku dan bunyi detak jam weker yang malah membuat bulu kudukku merinding. Segera ku tarik selimut ku hingga menutupi seluruh tubuhku. Aku tak ingin ada bayangan aneh tertawa-tawa di depanku atau sesosok tante berambut panjang bergaun putih kusam dan tidak menatapkan kakinya, melayang-layang lalu….ah… aku tak sangup lagi meneruskan bayangan yang mengerikan ini. Aku hanya terus mencoba memejamkan mataku dibalik selimut hangat ini, walau sangat aku sadari, tubuhku mulai mengeluarkan keringat karena aku memang sedang tidak kedingingan.
Lagi-lagi aku coba memejamkan mata, tapi rasa kantuk ini benar-benar sudah sirna. Oh…tidak, pasti ini akan jami malam panjang bagiku… dan yang pasti lagi, aku akan buat pulau kecil di atas meja belajarku esok pagi di kelas.
—
Kerumuman para siswi yang juga bisa dibilang santriwati sangat membuat sesak beberapa lokasi yang paling di incar mereka saat pagi hari, diantarannya dapur dan kantin, tapi berbeda dengan aku, aku memilih untuk em>ngantri/em> di kamar mandi dan sesekali mengetuk beberapa pintu kamar mandi sambil berkata “ba’daki”.
“Ya ampun…chika, ini udah jam berapa? Kamu masih ngantri mandi, subhanallah!” ucap seorang guru perempuan yang kusebut ustadzah. Beliau memandangiku, aku hanya cengir kuda sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
“hehee…tadi bangun jam 6 lewat bu…eh…udah bawa ember, gayung, malah ngantri bu….!!hehee”
“ckck…kamu itu, ya udah, cepat mandinya, nanti kamu telat masuk kelas” kata guru itu mengingatkanku, aku pun membalasnya dengan anggukan penuh semangat, setelah guru itu pergi meninggalkanku, juga bertepatan dengan keluarnya satu orang dari salah satu kamar mandi, tanpa basa-basi lagi langsung ku masuki dan mulai mandi.
Kring…kring…kring…
Tiga kali bel dibunyikan, bertanda bawah sudah waktunya juga semua masuk kelas dan memula pelajaran pada jam pertama…tapi… di depan pintu gerbang sekolah yang sepertinya akan segera ditutup rapat oleh seorang guru laki-laku yang sangat ku kenal menyebalkan ini, masih terlihat beberapa santri yang lari-lari agar tidak masuk kedalam perangkap tikus kecil yang disiapkan oleh sang ustadz untuk mereka…juga termasuk aku. Dengan semangat revolusi, aku lari dan berharap penuh masih bisa sempat masuk ke dalam, sebelum sang penjaga pintu menakutkan itu menutupnya.
Hop…finish!!! dengan seyum lega aku berhenti dan menoleh ke arah belakangku, menoleh ke si penjaga pintu beserta pintunya yang ternyata sudah tertutup rapat setelah aku masuk, betapa leganya aku, tidak dapat hukuman, tapi untuk santri-santri yang tidak sempat beruntung sepertiku.
Oh tidak… hanya kata, good luck yee…!!
Lalu aka mulai melangkahkan kedua kakiku menuju pintu kelasku yang berada di lantai dua yang berhadapan dengan kelas putra yang jaraknya 7 meter dari gedung kelas perempuan.
Setelah kaki ini lega menginjakkan kaki di kelas, dengan cepat ku sambar tempat dudukku yang berada di barisan ke dua dari depan meja guru.
“Nia…” aku menyapa teman sebangkuku yang sedang sibuk berkaca ria sadari tadi. Ia hanya membalasku dengan senyuman, lalu mulai berkonsentrasi kepada benda bulat kecil di tanganya, aku hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Aku memang tidak akan pernah heran dengan tingkah temanku yang satu ini, dia cantik dan memiliki bentuk tubuh yang kecil, tak heran klo dia sering mengikuti beberapa kegiatan di pondok yang tak jauh dengan menari, model, memasak, dan segala yang berbau perempuan. Tapi klo untuk kegiatan lain, apa lagi ilmu bela diri yang terdapat di sekolah, wah…jangan ditanya nia pasti akan memilih tidur di kamar dari pada ikut kegiatan seperti itu, katanya “gimana ane mau suka tuh ekskul, bajunya ja gede amat, ana mau di skeng, ga boleh, mending ga osah” keluhnya saat suatu hari aku dan beberapa temanku sedang ngobrol di halaman masjid.
Seketika lamunanku terbang, aku mulai teringat awal dimana aku bisa berada di pondok pesantren ini, saat itu aku sudah mendaftar di beberapa sekolah negeri yang sangat ku inginkan, tak pernah tersirat di pikiranku untuk menghuni sekolah yang berbau asrama atau sejenisnya..
Tapi suatu malam, mama memanggilku dan memberitau aku, bahwa aku harus bersekolah dan melanjutkan SMA ku di asrama.
Aku bahkan sangat membantah keinginan mama, aku tak ingin di ungsikan dan di buang ke tempat buruk itu, apapun fasilitasnya yang dipunya, bagiku asrama adalah tempat mengerikan yang ku kenal, tapi mama tetap memaksaku, dan meyakinkan aku, bahwa apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan, sampai papa juga ikut meyakinkanku…
Aku sangat sebal dan malah merasa benci kepada kedua orang tuaku, betapa jahatnya mereka membuangku seenaknya di tempat yang bukan inginku, sejadinya aku menangis, tetap satu pikiranku, tidak akan pernah.
Dengan cepat aku pergi ke kamarku dan membanting tubuhku di atas tempat tidur.
Paginya, mama mengetuk pintu kamarku, saatku buka pintu kamar, ku lihat mama begitu rapih dengan baju berlengan panjang dan kerudung yang serasi dengan warna baju mama, dengan heran aku bertanya
“mama mau kemana?”
“kamu siap-siap yach! Ini pakai kerudung mama, kita lihat dulu gimana pesantrennya, pasti ga seperti yang kamu bayangkan ko!” kata mama.
“engga, ga mau!” bantah ku dengan cepat.
“Chika, kamu harus mau, mama yakin kamu suka”, mama mencoba meyakinkanku.
“kenapa sich ma, mama sama papa maksa Chika banget buat hidup di penjara, klo Chika disitu, Chika ga bisa ketemu teman-teman chika disini, chika ga bisa jalan-jalan sama teman-temen chika, mama papa ngerti dong!, seru ku.
“Justru itu, biar kamu lebih terkontrol klo di asramain, biar ga keluyuran…aja kerja kamu klo pulang sekolah” kata papa dengan nada tinggi.
Dengan kesal aku membanting pintu kamarku dan menguncinya rapat-rapat. Bagiku ini sangat-sangat tidak adil, kenapa harus di asarma, masa aku harus menjalani masa remajaku di asrama, lagi-lagi air mataku menetes. Ku dengan papa dan mama menyebut namaku dan meminta aku membuka pintu, namun aku hiraukan begitu saja, sesaat kemudian papa dan mama menaiki mobil dan pergi. Aku takan penasaran kemana pergi, yang jelas aku harus memikirkan bagaimana caranya tidak di asramakan, sampai akhirnya aku malah tertidur.
Semakin hari, kedua orang tuaku makin mantap untuk menaruhku di asama. Tanpa ku sadari, mereka sudah mempersiapkan berbagai kebutuhan, dari kasur baru, seprei baru, ember, gayung, dan banyak lagi yang lain.
Apa aku harus pasrah? Tidak aku harus terus mencoba dan melawan, walau aku tau, aku akan jadi anak durhaka kalau aku melawan mereka.
Bersambung….