Pengantar Redaksi Wardan di tangan pembaca yang budiman. Awal semester gasal ini suasana Darunnajah Cipining tampak lebih semarak. Sebanyak 74 santri TMI Darunnajah I Ulujami ikut bergabung selama 2 pekan dan 3 bulan dalam program Isyrafut Tafawwuq dan Isyrafus Suluk. Dari segi pendidikan dan pengasuhan hal ini memberi warna tersendiri. Lalu ada kegiatan pelatihan Taruna Siaga Bencana (Tagana), yang mengiringi berakhirnya rangkaian kegiatan Pekan Olahraga Seni dan Pramuka (Pramuka), awal Agustus silam. Waktu yang terasa singkat dengan adanya jeda liburan Idul Fitri tidak menyurutkan aktivitas dan kiprah para santri dalam pelbagai kegiatan, baik di dalam maupun di luar Darunnajah Cipining. Tercatat para santri mengikuti beberapa lomba dan pesta pramuka di Pondok Modern Darussalam Gontor, Pesantren Darul Qolam Tangerang, Seleksi Popda Provinsi Jabar, MTQ tingkat Kabupaten Bogor, dan sebagainya. Di penghujung semester, seraya menghadapi ujian dan ulangan umum, para santri sibuk menyelenggarakan rangkaia kegiatan pergantian pengurus Organisasi Santri/Siswa dan Gugus Depan Pramuka. Santri Kelas VI TMI pun sudah memulai program karantina guna persiapan kegiatan Praktik Dakwah dan Pengembangan Masyarakat (PDMP) yang akan dilaksanakan Januari 2008. Patut kita syukuri pula, menjelang akhir semester ini 10 orang guru telah menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) bidang Pendidikan Agama Islam, Ekonomi, Sistem Informasi; sementara 2 orang guru lainnya lulus program D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Islam. Dari segi prasarana dan sarana, 2 unit rumah guru telah selesai dibangun di lokasi asrama putri, dan kini telah ditempati. Peningkatan dan pembangunan kamar madi baru juga tengah dilakukan. Di samping Waserda putra juga sedang dibangun gedung untuk unit usaha tailor, barber shop, foto kopi dan ATK. Idul Fitri dan Idul Adha tahun ini juga semarak dengan beberapa kegiatan, terutama halalbihalal, santunan fakir miskin dan yatim piatu, dan penyembelihan hewan dan penyaluran daging kurban. Masih banyak lagi hal yang bisa disimak melalui lembaran-lembaran berikut. Selamat membaca. mengikuti ujian semester gasal, memperoleh ilmu yang bermanfaat dan prestasi yang cemerlang. lhamdulillah, tidak berhenti kita memuji dan bersyukur kepada Allah. Salah satu kesyukuran itu adalah hadirnya kembali Semoga pimpinan pesantren, para staf dan guru, para santri, serta segenap warga Darunnajah Cipining senantiasa dilimpahi taufiq dan inayah oleh Allah swt, dan amal usaha mereka diridhai-Nya. Semoga segenap orang tua/wali santri/murid diberi kelancaran usaha dan rizqi yang halal lagi berkah guna mendukung pendidikan putra-putri mereka. Semoga Darunnajah Cipining semakin banyak berjasa, di bidang pendidikan khususnya, bagi kejayaan agama, nusa dan bangsa Indonesia tercinta. Amin ya Rabbal ‘alamin. [Redaksi] siapapun dia, dari suku, bangsa atau ras apapun ia berasal”. Dengan kata lain: ikatan primordial apapun (baik yang bersifat tradisional konvensional seperti ras, suku atau etnis; maupun yang bersifat modern kontemporer seperti status sosial-ekonomi, profesi, organisasi, partai dan sebagainya) tidak akan memberikan added-values dan competitive advantages bagi individu atau komunitas tertentu atas yang lain di hadapan Allah, jika tanpa disertai takwa. Untuk menambah ilustrasi penjelas ada baiknya kita simak firman Tuhan yang merekam klaim orang-orang Yahudi dan Kristen (yang masing-masing berbangga) sebagai anak-anak Tuhan dan kesayangan antara orang-orang yang diciptakan-Nya”… (AlMaidah/5:18). Mungkin sebagian orang berpikir dan berkomentar: “Ah, (kata takwa) itu kan dogma atau doktrin agama yang normatif idealis, yang mengawang-awang dan tidak membumi! Bagaimana pula dengan hawa nafsu yang inheren dan sekaligus ciptaan Allah pula agar kita menikmati kehidupan ini dengan melepaskan keinginan-keinginannya sepuas dan semau kita?” Iman itu adalah ibarat akar pohon dan takwa adalah batang pohonnya. Sebagaimana dilukiskan dalam firman Tuhan pada surah Ibrahim/14:24-25, bahwa pohon yang baik dan Editorial bermanfaat itu adalah pohon yang kokoh akarnya dan setiap saat berbuah segar lagi manis sebagai rizki bagi yang menanam dan merawatnya. Oleh karena itu takwa harus membuahkan ihsan, yakni perbuatan dan usaha mutual konstruktif yang besar manfaatnya bagi diri pelaku dan orang lain. Ihsan secara teknis didefinisikan sebagai “menyembah (mengabdi kepada) Allah dalam arti seluas-luasnya seakan-akan hamba itu melihat-Nya. Dan jika tidak dapat melihat-Nya, maka –ia harus yakin bahwa— Dia (Tuhan) melihatnya”. Dengan pengertian itu, ihsan berarti perbuatan/amal usaha yang berstandar mutu tinggi dan merupakan produk dari individu dengan kualitas SDM tinggi pula. Mengapa? Karena pengertian ihsan sebagaimana tersebut di muka mensyaratkan adanya kemampuan dan sifat-sifat self-motivated, self directed, self-controlled dan strong personality yang stabil dan matang secara emosional. Harian umum Kompas (Jumu’ah, 16 Juli 1999) memberitakan kegiatan seminar yang mengangkat tentang pembangunan SDM. Intinya bahwa di Indonesia perhatian kepada kualitas SDM baru sekadar retorika. Hal itu terbukti dari indikator Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index-HDI) yang pada tahun 1999 ada pada urutan ke-105 di antara 174 negara di dunia, turun dari urutan ke-96 pada tahun 1998 yang lalu. Bahkan, tahun 2007 ini posisi negeri kita tercinta belum bergeser dari kisaran angka tersebut. Menyentak, memprihatinkan sekaligus perlu disayangkan memang hal itu. Tetapi, itulah realitasnya. Demi mendengar hal itu rasanya istilah kualitas, mutu (jaudah, nau’iyah -Arab) itu kembali menjadi asing di telinga kita, seakan kita belum pernah mendengarnya. Belum berhasilnya pelaksanaan Gerakan Disiplin Nasional-GDN; masih (dan semakin) banyaknya penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (pra sejahtera dan sejahtera I); terungkapnya kasus-kasus KKN yang bukan saja mengakibatkan kerugian materi tak terhingga, tetapi juga ternyata melibatkan hampir segala unsur masyarakat dan bidang kehidupan/pekerjaan; bertambah maraknya kasus tawuran dan perkelahian antarpelajar dan antarwarga; serta ambruknya tatanan perekonomian dan moneter; ini semua adalah indikator yang cetho welo-welo tentang masalah dimaksud. Apa gerangan faktor penyebabnya? Marilah kita kembali kepada topik pembicaraan tentang iman dan takwa tadi. Iman dalam definisi yang masyhur adalah pembenaran dan keyakinan dalam hati; deklarasi dengan lisan/ucapan; dan pengamalan dalam bentuk tindakan dengan segenap jiwa dan raga. Manifestasi ubudiyah sebagai amanat dan tujuan penciptaan manusia telah dirincikan oleh Tuhan dalam al-Kitab dan al-Sunnah, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Ibadah mahdhah (habl min-Allah), seperti: wudlu’, shalat, zakat, puasa dan haji; 2. Ibadah ghayru mahdhah (habl minan-nas), yang berupa muamalah, baik antarindividu maupun antarkelompok, seperti: nikah, jual beli (transaksi ekonomi), bekerja (profesi), interaksi sosial (bermasyarakat), penampilan diri, mencari rizki, politik dan ketatanegaraan, berorganisasi, penyelenggaraan pemerintahan, dan pelayanan publik. Semua hal itu harus ditunaikan atau dikerjakan dengan ihsan, berarti memenuhi standar kualitas yang tinggi. Tidak sekadar asal gugur kewajiban (bara’atudz-dzimmah) atau bahkan semaunya. Marilah kita coba rincikan hal-hal tersebut di muka, meskipun dengan agak singkat. A. Dalam hal ibadah mahdhah. 1. Shalat. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk mendirikan shalat, bukan sekadar mengerjakannya. Karena shalat yang ditegakkan/didirikan itulah yang akan dapat mencegah diri dari Editorial perbuatan keji dan munkar (Q.s. al- Sampai di sini kita dapat memahami ‘Ankabut/29:45), di samping itu ia keheranan dan kegusaran orang: “Mengapa si juga dapat melatih disiplin dan fulan itu masih juga melakukan maksiat dan membiasakan tepat waktu dalam kejahatan, padahal ia terlihat begitu rajin bekerja maupun berjanji (Q.s. An beribadah dan shalih?”. Nisa’/4:103), serta dapat menjadikan tenteram, karena shalat itu berfungsi B. Dalam tataran muamalah. juga sebagai dzikr (Q.s. Thaha/20:14 1. Nikah, berkeluarga dan keturunan. dan Al-Hadid/57:28). Yakni shalat Rasulullah s.a.w. memaparkan yang ditegakkan atas syarat dan berbagai kecenderungan dan vested rukunnya dengan sempurna, disertai interests orang dalam menikah. dengan sikap khusyu’ –hadirnya hati Umumnya mereka menikah (memilih yang dapat merasakan bahwa ia p a s a n g a n ) k a r e n a e m p a t benar-benar sedang menghadap Allah pertimbangan: harta, keturunan, Sang Pencipta. kecantikan, dan agama. Lalu beliau 2. Zakat, infak, sedekah dan sejenisnya. menegaskan agar diutamakan faktor Pemberian/zakat tidak boleh disertai a g a m a , n i s c a y a h a l -h a l l a i n dengan pamrih dan unsur riya’ (Q.s. (insyaallah) akan menjadi mudah. al-Baqarah/2:262-264). Begitu pun Islam juga memperhatikan kualitas materi yang diberikan haruslah baik generasi dengan memerintahkan ibu (Q.s. al-Baqarah/2:267, s. Alu menyusui bayinya sampai dengan Imran/3:92). Selain itu, harta yang b e r u m u r 2 t a h u n ( Q . s . a l k o t o r d a n h a r a m t i d a k b i s a Baqarah/2:233), menjaga kualitas dikeluarkan zakatnya. kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, 3. Puasa. Rasulullah mengingatkan serta tentunya agama anak (Q.s. An bahwa banyak orang yang berpayah Nisa’/4:9). payah berpuasa, namun mereka tidak 2. Jual beli, berdagang dan transaksi mendapat manfaat apapun dari ekonomi lainnya. Berdagang adalah puasanya itu, kecuali rasa lapar dan pekerjaan yang mulia. Namun harus haus (padahal tujuan puasa adalah diperhatikan unsur-unsur kejujuran, u n t u k m e n c a p a i t a k w a , A l – kerelaan, dan kewajaran dalam Baqarah/2:183). Hal itu disebabkan mengambil untung. Berdagang dan k a r e n a p e l a k u n y a s e k a d a r bertransaksi yang demikian adalah meninggalkan makan, minum dan cara mencari rizki yang sangat baik. syahwat secara lahiriah. Sementara itu Rasulullah mengecam orang yang masih banyak maksiat yang dilakukan m e l a k u k a n m a n i p u l a s i d a n oleh mata, telinga, tangan, kaki, hati kebohongan dalam jual beli. Allah dan anggota badan lainnya sewaktu ia s.w.t. juga mengancam dengan neraka “berpuasa”. dan laknat kepada orang yang curang 4. Haji. Haji yang diterima oleh Allah dalam hal timbangan dan takaran (Q.s. s.w.t. disebut haji mabrur. Pahalanya Al-Muthaffifin:1-3). tiada lain adalah surga. Tetapi haji 3. Dalam hal cara mencari rizki dan mabrur itu syaratnya harus terbebas m e m e n u h i k e b u t u h a n h i d u p . dari rafats, fusuq dan jidal (Q.s. al- Rasulullah mengajarkan agar kita Baqarah/2:197), yakni terhindar dari melakukannya dengan tetap menjaga perilaku dan ucapan kotor. martabat dan harga diri, karena (sesungguhnya) segala sesuatu itu Editorial berlaku sesuai ketentuan/takdir Allah s.w.t. (H.r. Ibnu ‘Asakir dari Abdullah bin Busr). 4. Berorganisasi dan membentuk golongan/kelompok, hendaknya hal itu ditujukan untuk mendukung kebaikan dan mengarah kepada peningkatan takwa, bukan untuk kejahatan, merusak, dan makar serta menyebar benih kebencian di antara sesama manusia. 7. Dalam hal menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan publik. Allah s.w.t. berfirman: 5. Dalam bekerja dan mendelegasikan pekerjaan. Islam mengajarkan keseriusan dan profesionalitas dalam bekerja, karena sesuai tuntunan Rasul, jika suatu urusan pekerjaan diserahkan kepada (dikerjakan oleh) orang yang bukan ahlinya, niscaya berakhir dengan kekacauan dan kebangkrutan. Allah s.w.t. mencintai orang yang profesional, bekerja menghasilkan produk yang berkualitas. 6. Berbicara, berjalan, berpakaian dan makan serta minum. Hendaknya seorang mukmin itu berbicara secukupnya dengan suara yang tidak lantang. (Q.s. Luqman/31:19). Dalam berjalan pun hendaknya ia bersahaja dan tawadlu’ (Q.s. Luqman/31:18). Berpakaian juga mesti menutup aurat namun indah dan serasi (Q.s. AlA’raf/7:26). Makan dan minum hendaklah dari sumber yang halal dan bahan yang bergizi cukup (Q.s. AnNahl/16:114). Dengan begitu kualitas dan harga diri orang mukmin itu tetap terjaga. “Sesungguhnya Allah s.w.t. memerintahkanmu untuk menunaikan amanat kepada ahli/pemilik yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil” (Q.s. An-Nisa’/4:58). Islam melarang tindakan sewenangwenang, penyelewengan, pilih kasih, penindasan dan sebagainya. Kepemimpinan itu amanat yang mesti dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Allah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, lagi Maha Mengetahui. Contoh perhatian Islam terhadap kualitas begitu banyak, tidak cukup ruang untuk merincinya di sini. Implementasi konkretnya telah begitu jelas dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat r.a. serta generasi salaf yang shalihin. Mestinya hal itu menjadi pengingat agar kita selalu meningkatkan kualitas diri dan takwa kita. Cukup pula kiranya ia untuk menjelaskan bahwa Islam mengajarkan kepada manusia untuk meraih prestasi dan menghargai kualitas. Oleh karena itu mestinya pula kita tidak merasa asing, apatis apalagi alergi terhadap kata kualitas. Prestasi dan predikat takwa itu bukanlah utopia yang mustahil, tetapi bukan pula warisan atau keturunan. Ia hanya mungkin diperoleh dengan usaha keras (effort) lahir dan batin serta tentunya adanya faktor hidayah (petunjuk ilahi). Wallahu a’lam bissawab. <<M. MUFTI AW Pulungan>> REDAKTUR: Pimpinan Redaksi: Muhammad Musta’in Billah, Sekretaris: Asmari Ichsan, Anton Septiono, S.Pd.I., Editor: M. Mufti Abdul Wakil, S.Pd.I., Reporter: Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I., Nasikhun, S.E., Ela Khulasoh, S.Sos., Imam Ghozali, Mukhrizal, Sarki, Setting dan Layout: Sholeh Ibnu Ahmad, S.Kom., Fotografer: Amin songgirin, S.H.I., Keuangan: TresnaAmalia,A.Ma., Distribusi: Amin Songgirin, S.H.I. & TresnaAmalia,A.Ma. REDAKTUR: Pimpinan Redaksi: Muhammad Musta’in Billah, Sekretaris: Asmari Ichsan, Anton Septiono, S.Pd.I., Editor: Muhamad Mufti Abd. Wakil, Reporter: Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I., Nasikhun, S.E., Ela Khulasoh, S.Sos., Imam Ghozali, Mukhrizal, Sarki, Setting dan Layout: Sholeh Ibnu Ahmad, S.Kom., Fotografer: Amin songgirin, S.H.I., Keuangan: Tresna Amalia, A.Ma., Distribusi: Amin Songgirin, S.H.I. & Tresna Amalia, A.Ma.
