Suasana asrama kampus 3 Pesantren Darunnajah 2 Cipining pada Ahad (26/7/26) tampak semarak full fighting spirit membahana. Ada gerangan apakah kiranya? Ya, ba’da Isya itu para santri lama yang baru sepekan datang dari liburan akhir tahun dan santri baru yang baru saja masuk pesantren, mendapat kunjungan dan tasyji‘ (motivasi) istimewa langsung dari Wakil Bupati Kabupaten Siak Riau.

Adalah Bapak Syamsurizal, S.Ag., M.Si., Wakil Bupati tersebut merupakan alumni TMI Pesantren Darunnajah 2 Cipining angkatan 2 lulus tahun 1995. Ia pada hari sebelumnya telah mengantarkan putrinya masuk kampus 1, mesantren di almameter tercinta. Putra pertamanya juga pesantren di sini dan telah lulus beberapa tahun silam. Pun demikian anak-anak lainnya ia pesantrenkan di pondok masyhur di Jawa Timur. Ia menegaskan di depan para santri bahwa semua anak-anaknya dikondisikan untuk dididik di pesantren: kawah candradimuka pendidikan Islam. Inilah ketersambungan sanad perjuangan tholabul ilmi.
Sadar bahwa audiensnya para santri maka ia sempat awali pencerahannya dengan guyonan lama sembari memperkenalkan diri: “…S.Ag….Sarjana Alam Ghaib….M.Si….Memang Sarjana itu?!……”, yang disambut gelak tawa para santri dan beberapa dewan guru. “…Namun demikian, sekarang bisa juga ya jadi Wakil Bupati!” ungkapnya disambut tepuk tangan meriah hadirin. Ia alumni S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Syari’ah Jurusan Jinayah Siyasah dan S2 Universitas Riau Fakultas Ilmu Politik Jurusan Manajemen Pemerintah Daerah.
Berikutnya, ia mengarahkan agar para santri kuat, betah, istiqomah belajar di pesantren sebagai pelaksanaan amanah orang tua. Ia juga memotivasi para santri agar aktif ikuti semua kegiatan yang ada di pesantren karena akan jadi bekal terbaik ketika terjun di masyarakat. Sebagaimana dulu ketika zaman santri ia aktif di Organisasi Pelajar Darunnajah Cipining (OPDC) yang sekarang sudah direvisi menjadi Organisasi Santri Darunnajah Cipining (OSDC), Koordinator Pramuka, Seni beladiri atau pencak silat, Santri Darunnajah Pecinta Alam (SAHPALA), hingga Teater Islam Santri Militan (TERISAM). Santri yang belum bisa agar jangan malu dan takut bertanya. Santri yang sudah bisa agar mengajari santri lainnya yang belum bisa. Tak lupa ia berpesan kepada para santri kakak-kakak kelas sebagai pengurus organisasi santri agar berlemah-lembut dan mengayomi para santri anggotanya.

Dengan penuh semangat, ia menyemangati para santri bahwa masing-masing manusia mempunyai kelebihan maka mau menjadi apa, sangat tergantung semangat dan cita-citanya sendiri. Ia berkisah sempat ingin jadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI, kini Tentara Nasional Indonesia/TNI-red) dengan alasan waktu itu ada cita-cita ingin jadi Bupati atau Wakil Bupati. Memang zaman itu untuk jadi Bupati atau Wakil Bupati maka jalurnya mayoritas via ABRI. Qodarallaahu, meski tidak jadi ABRI ternyata ia tetap jadi Wakil Bupati melalui jalur politik. “Kita harus punya ambisi tapi jangan ambisius….!” ungkapnya tegas. Ambisi maksudnya cita-cita dengan azam menghujam serta keinginan dengan tekad bulat nan kuat tetapi jangan ambisius alias ‘terlalu ngotot’ apalagi sampai menghalalkan segala cara.
Ia menekankan betul agar para santri percaya diri. Jangan mengandalkan pamor atau jabatan orang tuanya. Kemudian ia menukil sebuah Mahfudzat yang dibaca bersama-sama para santri: ليس الفتى من يقول كان أبي # ولكن الفتى من يقول هأناذا Bukanlah seorang pemuda itu yang mengatakan itu lho bapakku, tetapi seorang pemuda adalah yang berkata: ini saya! Namun demikian bukan berarti tidak menghormati orang tua karena do’a orang tua sangat berpengaruh untuk kesuksesan anak-anaknya.
Apa nasehat dari Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc., yang sangat terkesan di hatinya bahkan menjadi pedoman dalam menjalani roda kehidupannya? Ia menjawab: salah-satu nasehat Bapak Kiai yang sangat saya ingat dan dipraktekkan adalah Hadits Rasulullah Muhammad SAW: والله في عون العبد ماكان العبد في عون أخيه Dan Allah SWT senantiasa akan menolong hambanya, selama hamba tersebut masih menolong saudaranya. Kemudian ia berkisah betapa perjuangan dan pengorbanan di masyarakat, selama ia menjadi anggota DPRD Kabupaten selama 3 periode kemudian ikhtiar akan melanjutkan ke tingkat DPRD Propinsi hingga akhirnya mendapat amanah sebagai Wakil Bupati, benar-benar sesuai pengamalan dari nasehat Sang Kiai tersebut. “…Bukan saya merasa orang baik tetapi dengan membantu orang lain secara ikhlas seperti yang diajarkan Bapak Kia, kami merasa sangat banyak sekali pertolongan dari Allah…istilahnya kalau orang lain jadi pejabat karena sebar dolar maka kami sebar do’a… Mereka pakai jalur dompet, kami pakai jalur langit….beginilah konsep hablum minallaah wa hablum minannaas kami khatam dan kami praktikkan…..!” jelasnya panjang lebar secara menyakinkan.

Ia masih ingat kisah Bapak Kiai yang didengarnya langsung ketika menjelaskan nasehat Hadits tadi. Dulu, ketika Bapak Kiai akan kuliah di Makkah Al Mukarramah, sewaktu tiba di Bandara Jeddah belum ada sama sekali yang dikenalnya, juga belum tahu mau tinggal di mana. Nah, berkat kebaikan-kebaikan yang beliau lakukan dengan penuh keikhlasan pada waktu-waktu sebelumnya ketika masih di Indonesia, ternyata tiba-tiba ada orang Indonesia yang sedang di bandara tersebut ingin menjemput saudaranya. Kemudian mereka kenalan, ngobrol dan seterusnya dan akhirnya Bapak Kiai dibantu oleh mereka di awal-awal masa kuliah.Tidak semata bicara poin serius, idealis dan normatif, ia juga berbagi kisah pengalaman nyata bagaimana kondisi zaman itu pesantren yang belum lengkap fasilitasnya seperti sekarang ini. Dengan konfirmasi angkatan berapa kepada beberapa dewan guru yang ikut mendampingi di panggung aula; Ustadz Atijan Yani, M.Pd., angkatan 3 (Pengawas Pesantren), Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, M.Pd., angkatan 7 (Penjaminan Mutu Pendidikan), Ustadz Sholehuddin, S.Pd., angkatan 13 (Direktur Departemen Pengasuhan Santri Putra), Ustadz Husnul Mubarok, M.Pd., angkatan 14 (Direktur Departmen Dakwah & Humas), dan Ustadz Abdul Hakim Firanda angkatan 30 (Kepala Asrama Kampus 3), ia menceritakan beberapa pengalaman sarat pelajaran. Hadir juga di panggung aula, dua alumni kawan satu lating Bapak Wabup, Bapak Suhaedi, S.H., M.H., (Lawyer)dan Ustadz Sunardi, M.Pd. (ANS Pendidikan di Jambi), Keduanya juga sedang mengantarkan anak-anak mereka masuk pesantren almameter tercintanya. Bahkan Ustadz Sunardi menjelaskan ada tujuh anggota keluarganya terdiri dari anak, keponakan dan lainnya yang sedang mesatren di Darunnajah 2 Cipining. Allahu Akbar. Sungguh kepercayaan nan dahsyat.
Jelang selesai pencerahan, ia minta semua hadirin menyanyikan penggalan atau reff Hymne Oh Pondokku, Tiap pagi dan petang, kita beramai sembahyang, mengbadi pada Allah Ta’ala, di dalam kalbu kita, wahai pondok tempatku, laksana ibu kandungku, nan kasih serta sayang padaku, oh pondokku…..ibuku…... Tepuk tangan kembali membahana aula setelah selesai nyanyi bersama. Di akhir pencerahan, ia menutup dengan pantun indah: Jika pedang melukai tubuh, masih ada harapan sembuh, tetapi jika lisan melukai hati, kemana obat hendak dicari Ketika usai acara dan kami sampaikan apresiasi: “Keren, mantap muhadharahnya, penutupnya itu dulu sering kami dengar dari ‘Dai Sejuta Umat’ KH. Zainuddin MZ, ia menimpali ringan: “Emang iya ya, saya tahunya dari Komeng!”. Sesi selanjutnya, kami ngopi bersama-sama di saung H. Trimo, M.Pd. (Direktur Departemen Wakaf) yang juga shohib karibnya Bapak Wabup tersebut.
