DNKIndergarten, 10/09
Vomitus atau muntah merupakan proses yang alamiah, untuk mengeluarkan sesuatu yang dianggap kurang baik bagi tubuh kita.
Makanan atau minuman yang tidak sesuai dengan kondisi badan seseorang, maka ia secara refleks ia akan mengeluarkannya dari pintu depan ( mulut ) berupa muntah atau melalui pintu belakang ( dubur, anus ). Terdapat dua tipe muntah yaitu yang akut dan kronis. Batasan muntah kronis apabila muntah lebih dari 2 minggu.
Sering kali orang menjadi panik karena ia muntah atau diare. Padahal itu merupakan suatu tanda bahwa di dalam tubuhnya ada benda yang berbahaya yang mesti dikeluarkan. Badan kita mempunyai mekanisme pertahanan tubuh.
Pada orang dewasa, refleks Batuk cukup efektif untuk mengeluarkan lendir atau dahak dari dalam saluran pernafasan. Pada Bayi atau anak kecil refleks batuk belum kuat sehingga upaya untuk mengeluarkan lendir itu dilakukan dengan cara Vomitus atau muntah.
Orang tua sang bayi panik karena anaknya muntah. Padahal ituproses yang normal yang dianggap kejadian yang tidak normal. Mereka membawa bayinya kepada dokter langganannya. Bisa dokter Ahli anak atau dokter umum, karena di tempatnya belum ada Ahli Anak. Dokter yang baik akan memberikan sirup pengencer lendir ( mukolitik ), bukan obat untuk menghentikan muntah ( antivomitus ). Kalau perlu diberikan juga sirup antibiotika untuk mengatasi infeksi saluran penafasanyang membuat lender dalam saluran pernafasan banyak diproduksi sebagai proteksi tubuh terhadap saluran pernafasan. Lendir untuk mengikat benda asing ( debu, bakteri dll ).
Mekanisme Terjadinya Muntah
Muntah terjadi melalui mekanisme yang sangat kompleks. Terjadinya muntah dikontrol oleh pusat muntah yang ada di susunan saraf pusat (otak) kita. Muntah terjadi apabila terdapat kondisi tertentu yang merangsang pusat muntah. Rangsangan pusat muntah kemudian dilanjutkan ke diafragma (suatu sekat antara dada dan perut) dan otot-otot lambung, yang mengakibatkan penurunan diafragma dan kontriksi (pengerutan) otot-otot lambung. Hal tersebut selanjutnya mengakibatkan peningkatan tekanan di dalam perut khususnya lambung dan mengakibatkan keluarnya isi lambung sampai ke mulut.
Beberapa kondisi yang dapat merangsang pusat muntah di antaranya berbagai gangguan di saluran pencernaan baik infeksi (termasuk gastroenteritis) dan non infeksi (seperti obstruksi saluran pencernaan), toksin (racun) di saluran pencernaan, gangguan keseimbangan, dan kelainan metabolik.
Penanganan Muntah di Rumah
Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan di rumah apabila anak anda muntah:
* Tetap tenang dan jangan panik.
* Jangan memberikan obat muntah tanpa anjuran dokter. Diskusikan dengan dokter mengenai risiko dan manfaatnya bila akan memberikan obat muntah.
* Posisikan anak pada posisi telungkup atau miring (miring ke kiri atau ke kanan) untuk menghindari isi muntahan masuk ke saluran napas.
* Perhatikan tanda-tanda dehidrasi. Dehidrasi adalah keadaan tubuh kekurangan cairan. Dehidrasi dapat terjadi apabila anak muntah terus-menerus. Dehidrasi yang berat dapat mengancam nyawa.
* Tetap berikan cairan. Pemberian cairan (minum) sangat penting untuk mencegah anak dehidrasi. Apabila anak menolak, tetap bujuk anak untuk minum. Untuk Bayi, bila anda masih menyusui, berikan ASI. Dokter mungkin akan menambahkan cairan elektrolit (oralit). Bila bayi anda mendapatkan susu formula, dokter mungkin akan menggantikan sementara susu formula dengan oralit selama 12-24 jam pertama, atau menganjurkan untuk memberikan susu formula yang 2 kali lebih encer dibandingkan susu formula yang biasa diberikan. Untuk anak yang lebih besar dapat diberikan air, air bercampur gula (1 sendok teh gula dalam 120 ml air), dan oralit. Berikan cairan dalam jumlah sedikit-sedikit tapi sering (1 sendok teh tiap 1-2 menit). Apabila toleransi anak baik (tidak muntah lagi), tingkatkan jumlah cairan secara bertahap. Apabila anak tetap muntah, tunggu 30-60 menit terhitung sejak muntah terakhir, lalu berikan 1 sendok teh cairan tiap 1-2 menit. Pemberian cairan dalam jumlah sedikit namun frekuensinya sering relatif lebih mudah ditoleransi anak dari pada pemberian dalam jumlah banyak sekaligus.
* Modifikasi pola makan. Hindari pemberian makanan yang padat/keras dan berlemak karena makanan tersebut relatif lebih lama dicerna dan dapat merangsang muntah.