Kemandirian: Itulah yang Diajarkan Pesantren
Oleh: Akbar Zainudin | 11 December 2011 | 04:26 WIB

Hari Jum’at sore, 9 Desember 2011, bertempat di Warung Darmin, di Jalan Duren III, berlangsung peluncuran buku “Virus Entrepreneruship Kyai”, karya Ir. Muhammad Ridlo Zarkasyi, Putra KH. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Gontor. Memang, dari seluruh putra-putri KH. Imam Zarkasyi, Pak Ridlo inilah, begitu beliau biasa dipanggil, yang murni menjadi pengusaha. Kakak-kakaknya sebagian besar meneruskan jejak Bapaknya, menjadi pengasuh pesantren dan akademisi.

Mendengar kata entrepreneurship, atau kewirausahaan, tentu yang terbayang di pikiran kita adalah orang-orang yang mengembangkan berbagai usaha di banyak bidang. Mereka adalah pengusaha, yang membuka pabrik, berdagang, ataupun mengembangkan usaha lain.

Nah, menariknya, semangat kewirausahaan ini ternyata juga tumbuh di kalangan pesantren, terutama pesantren Gontor. Menurut Prof. Dr. Dawam Raharjo, salah seorang pembahas sore itu, sosok seorang Kyai adalah sosok social entrepreneur, atau yang sering disebut sebagai wirausahawan sosial.

Seorang wirausahawan sosial ala Kyai adalah orang-orang yang mampu menularkan semangat wirausaha kepada para santri dan masyarakat sekitar, sehingga mereka mau menjadi wirausahawan. Para Kyai mengembangkan berbagai usaha di lingkungan sekitar pesantren sehingga kemajuan pondok tidak hanya dirasakan oleh santri, tetapi juga berimbas pada masyarakat sekitar.

Nah, semangat yang diwariskan oleh seorang Kyai adalah semangat untuk HIDUP MANDIRI. Pesantren mengajarkan berbagai keterampilan hidup agar santri bisa membangun hidupnya sendiri. Pesantren mengajarkan agar orang bisa hidup MANDIRI. Kemandirian inilah yang sebenarnya menjadi sikap mental dasar yang penting untuk menopang hidup seseorang menjadi pengusaha.

Karena itulah, bahkan sikap KH Imam Zarkasyi sendiri terlihat agak ekstrim terhadap orang-orang yang hidup sebagai pegawai. Mungkin, kata Prof. Dawam, hal itu sebagai akibat pada zaman dahulu agak sulit bagi alumni pesantren, termasuk Gontor, untuk menjadi pegawai. Tetapi zaman sudah berubah sekarang, di mana surat keterangan lulus dari pesantren sudah bisa digunakan untuk mendaftar ke perguruan tinggi.

Tetapi yang lebih penting dari itu semua, adalah sikap kemandirian yang dimiliki oleh kalangan pesantren adalah sikap dasar yang memang harus dimiliki setiap orang. Sikap kemandirian ini menjadi faktor mendasar yang bisa memunculkan keberanian mulai usaha.

Faktor lain yang diajarkan pesantren, khususnya Gontor, menurut Hamid Husein, pemilik Indo Noni, perusahaan obat herbal berbasis mengkudu, adalah sikap disiplin yang sangat kuat. Selain pesantren, tidak ada orang diajarkan disiplin untuk bangun pagi mulai sekitar jam 03.00, makan dan mandi antri, dan tidak boleh terlambat masuk kelas, berangkat ke masjid, dan berbagai hal lain yang sudah dibatasi. Disiplin inilah yang membentuk mentalitas seseorang agar kuat menghadapi berbagai masalah dan cobaan.

Hal kedua yang diajarkan pesantren, khususnya Gontor adalah kejujuran dan menjaga integritas. Orang tidak bisa untuk hidup dan bekerjasama dalam waktu lama jika tidak didasarkan atas kejujuran. Kejujuran adalah kunci menuju keberhasilan masa depan.

Hal ketiga yang diajarkan adalah berani memulai, terus bekerja dengan baik, hingga akhirnya menimbulkan prestasi yang terus maju dan berkembang. Jangan pernah berhenti berkreasi, karena kreativitas kita itulah yang akan membuat orang mau menggunakan produk atau jasa kita, sekaligus menjadi pembeda dan keunggulan bersaing kita dengan produk atau jasa orang lain.

Buat para santri yang masih di pesantren, atau kawan-kawan yang sudah lulus, sikap mental MANDIRI ini bisa menjadi modal utama untuk kita melangkah selanjutnya. Tinggal bagaimana menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Sikap mental KEMANDIRIAN itulah, yang menjadi salah satu tema utama buku “Virus Entrepreneurship Kyai ini. Tinggal bagaimana para alumninya mampu berbuat lebih banyak dengan landasan sikap mental ini, untuk berusaha dengan segala kemampuan masing-masing, memberi kontribusi bagi bangsa dan negara

Jadi, tidak perlu khawatir kalau saat ini melamar pekerjaan susah, apalagi jadi pegawai negeri. Karena para santri dibekali sikap mental kemandirian. Tinggal bagaimana, dengan semangat “Man Jadda Wajada”, dan modal “Yahanu” (Percaya diri ala Pondok), kita bisa memulai usaha untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan.

Salam Man Jadda Wajada

AKBAR ZAINUDIN

Penulis buku-buku motivasi:

Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life (Gramedia: Jakarta, 2010)
Man Jadda Wajada2: Buka Pintu-Pintu Keberhasilan Anda (Gramedia: Jakarta, 2011)
10 Jalan Sukses: Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada (Mizania: Jakarta, 2011)