Utsman Menangis Mengingat Kubur

blank

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Ustman bin Affan adalah khalifah ketiga dari Khulafa’urasyidin. Si pemilik dua cahaya, yang menikahi dua putri Rasulullah saw yaitu As-Sayyidah Ruqayyah, setelah kematiannya tahun ke-2 H, Ustman kembali menikahi saudarinya, Ummu Kultsum yang belum dikenalnya. Ada seseorang yang menutup pintu rumahnya yang di dalamnya ada dua putri seorang Nabi selain Ustman bin Affan sendiri.

Beliau selalu menangis jika melintasi tanah pekuburan sehingga membasahi janggutnya. Hambanya, Hani, berkata pada suatu hari, “Engkau menyebut Surga dan Neraka tapi engkau tak menangis, sementara jika menyebut kubur engkau menangis?” ustman berkata “saya mendengar Rasulullah saw bersabda, kuburan adalah tempat pertama dari tempat-tempat di akhirat. Jika selamat darinya, mudahlah selanjutnya. Jika tidak, selanjutnya adalah azab yang lebih meringankan.’ saya tidak pernah melihat pemandangan sekalipun kecuali bahwa pemandangan kuburan lebih menakutkan.”

Hani berkata kembali, “saya mendengar Ustman membaca syair diatas kubur.”

jika selamat darinya, selamatlah dari pemilik keagamaan jika tidak, saya tak urus keselamatanmu.

Saya berkata, begitulah para Sahabat memahami sabda-sabda Rasulullah saw bahwa sesungguhnya kubur adalah tempat pertama dari kampung Akhirat yang di dalamnya manusia, yang akan ditanya perihal agama, Nabi, dan kitabnya. Jika ia mampu menjawab, selamatlah Ia dan lepaslah Ia dari pos yang sangat penting itu. Tetapi jika lidahnya keliru dan berkata, “Saya tidak tahu,” rugi dan sengsaralah Ia…
Ada yang berkata bahwa sesungguhnya seorang Muslim telah mengetahui secara otomatis apa agamanya, siapa Nabinya, dan apa kitab Al-Qur’an. Tapi kami berkata bahwa semuanya bergantung kepada amal yang diperbuat di dunia. Jika seorang muslim telah mengetahui agamanya dan beramal karena itu, jawaban menjadi gampang dan mudah. Tetapi jika muslim hanya sebagai nama, kelak ia lupa agama, lupa Nabi, dan lupa apa kitabnya ketika berada di Alam kubur.

Ketahuilah bahwa seseorang wafat sesuai dengan bagaimana Ia hidup dan dibangkitkan kelak sesuai ketika Ia wafat.

Tangisan karena takut kepada Allah swt adalah ibadah dan kerendahan hati. Pengakuan terhadap segala dosa dan kesalahan, merupakan pendekatan yang teragung kepada-Nya.
(WARDAN/Rabiah Adawiyah)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
TK Darunnajah Jakarta

Pentingnya Ilmu

Ilmu adalah cahaya yang menyinari disaat gelap menerpa. begitu pentingnya ilmu sampai ungkapan sahabat yang mengatakan ” JIka kamu menginginkan kebahagian dunia tuntulah ilmu, jika