Darunnajah Cipining selalu saja memiliki kelebihan. Kali ini hal tersebut terbukti dengan banyaknya alternatif kegiatan yang dilakukan sebagai pengalihan aktivitas saat belajar formal di kelas tidak memungkinkan. Bertepatan dengan pelaksanaan ujian sekolah bagi siswa (santri) kelas IX MTs selama 8 hari (14-22/3) yang juga berbarengan dengan ujian akhir madrasah aliyah kelas XII, santri kelas VII, VII, X, XI sibuk meyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler.

Mengapa pengalihan kegiatan ini suatu kelebihan?  Sekurang-kurangnya ada 2 hal yang mendasari hal tersebut. Darunnajah Cipining sebagai lembaga pendidikan, berusaha mengembangkan kemampuan santri dalam 3 ranah, koqnitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam bahasa yang berbeda, pencapain pendidikan tersebut dapat diukur dengan memiliki 3 penambahan, 1) tambah pintar 2) tambah terampil, dan 3) tambah baik.

Kepandaian dan kecerdasan santri bisa diukur melalui perolehan nilai yang didapatkan usai pelaksanaan ujian. Di sekolahan, proses ini sangat mudah dilihat, baik secara ulangan harian, blok, kompetensi, maupun semesteran. Bagaimana dengan santri yang tidak berpeluang dalam prestasi akademik? Untuk itu, setiap kali Darunnajah Cipining membagikan raport kepada para santri yang saat itu juga didampingi oleh para walinya masing-masing, pesantren memiliki taktik berbeda.

Taktik tersebut adalah menampilkan bentuk kebolehan dan keterampilan santri dalam berbagai bidang. Pada moment ini, pesantren tidak ingin mengecewakan wali santri, selain prestasi akademik, pesantren juga memberikan prestasi nonakademik. Wali santri dalam kesempatan ini dapat melihat putra-putrinya berprestasi dalam berpidato, bernyanyi, bermain peran, dan kompetensi keterampilan lain.

Serta dalam rangka mengasah keterampilan inilah pesantren kemudian menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang dijalankan oleh masing-masing pengurus organisasi santri di areanya masing-masing. Maka dalam 7 hari ke depan, berbagai bakat dan skill santri akan diasah melalui aneka lomba, baik seni maupun olah raga maupun formulasi dari keduanya.

Menjadi kelebihan juga karena Darunnajah Cipining mampu menggabungkan dan mengelola para santrinya. Sejatinya ada 2 sistem santri, pertama adalah santri berasrama dan kedua santri nonasrama. Bagi santri berasrama, program ekstrakurikuler seperti ini tergolong mudah. Bagi santri nonasrama, bukan masalah mudah atau tidak mudah, namun pada sistem kebiasaan di sekolah-sekolah lain, saat-saat seperti ini adalah saat libur.

Dengan i’tikad yang baik, apapun yang diselenggarakan di pesantren Darunnajah adalah bentuk pendidikan dan pengajaran yang tendensinya adalah proses pendidikan itu sendiri. Semoga pencapaian yang dihasilkan dari semua kegiatan tersebut adalah maslahah bersama. Amin (billah/Wardan)