Banyak hal-hal yang unik di dalam budaya pesantren. Salah satunya adalah eksistensi ujian syafahi (ujian lisan) yang mendahului ujian tahriri (ujian tulisan).
Ujian lisan tidak didapati didalam budaya sekolah umum setingkat.
Hal ini dikarenakan memang adanya titik berat yang berbeda didalam tujuan pendidikan keduanya.
Di dalam pendidikan pesantren yang berbasis sekolah berasrama (boarding school), titik berat pendidikan ada didalam pembangunan karakter dari santri, atau yg disebut “mental skills”.
Untuk itulah ujian lisan diadakan.
Mereka dilatih untuk mempersiapkan mental bagaimana menghadapi ujian dengan mandiri. Satu persatu menghadapi penguji yang duduk siap menghujani dengan pertanyaan-pertanyaan terkait pelajaran.
Tidak hanya itu, sikap akhlak pun mendapat perhatian khusus didalam ujian lisan. Bagaimana bersikap ketika memasuki ruangan, bagaimana bersikap ketika meninggalkan ruangan dsb.
Dalam ujian lisan, hanya beberapa materi pelajaran yang diujikan, yaitu yang berkaitan dengan durus kasbil maharah, yaitu lughowiyah (Bahasa, Arab dan Inggris) dan diniyah (Ibadah ‘amaliyah).
Khusus kemampuan bahasa (Arab dan Inggris), titik berat keahlian adalah dalam keahlian berbicara (speaking) dan membaca (reading), dua keahlian yang memang digalakkan didalam dunia pendidikan pesantren modern.
Hal ini mengingat memang begitulah seharusnya kemampuan berbahasa seseorang berkembang terlebih dahulu dengan dua keahlian tersebut sebelum memasuki tata bahasa.





