Tsamratus Safar Min Turkey Wa Qatar

Darunnajah-cipining.com Kamis malam, 30/4 tepatnya ba’da sholat Isya pimpinan telah kembali di Pesantren Darunnajah Cipining yang telah dipimpinnya sejak 18 Juli 1988 lalu. Bapak Kyai alumni Gontor dan Ummul Qura Makkah ini baru saja melakukan perjalanan sebelas hari ke Turkey dan Qatar. Fokus kunjungan pengurus Yayasan Darunnajah Jakarta adalah dalam rangka mengadakan kerja-sama dengan beberapa perguruan tinggi.

Menggunakan kesempatan berkumpulnya seluruh santri di Masjid Jami’, maka seusai sholat Jum’at bapak kyai menyampaikan tsamratus safar (oleh-oleh dari berpergian-red). Waktu ini termasuk gold time mengingat di Darunnajah 2 Cipining kegiatan sholat berjama’ah para santri terbagi dalam 4 masjid sesuai asrama masing-masing. Di masjid Jami’ ini pula, bapak kyai senantiasa menyampaikan Kajian Mingguan untuk seluruh santri pada Jum’at pagi.

pak kyai berbagi

Mengawali pembicaraan, pak kyai bersyukur bahwa lawatan tersebut telah terlaksana dengan baik. Kemudian beliau menceritakan kondisi Turkey terkini yang sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Di bawah kepemimpinan Endorgan, Turkey berhasil menjadi salah-satu negara maju dan makmur, sehingga peluang beasisiwa pendidikan diberikan kepada ribuan mahasiswa dalam dan luar Turkey.

Masih menurut suami HJ. Rahmah Manaf Mukhayyar, kesan Turkey yang dulu identik dengan sekulerisme pada masa Musthafa Attaturk, sekarang sudah tergantikan dengan nuansa islami. Kalau dulu ada istilah adzan saja tidak boleh dengan bahasa arab, maka hal tersebut sudah tidak dijumpai lagi.

Dalam kesempatan yang juga dihadiri beberapa tamu dan atau wali santri itu, pimpinan pesantren mengingatkan seluruh santri tentang urgensi bahsa Arab dan Inggris. “ Rasanya tidak lucu kalau seorang muslim tidak mampu Bahsa Arab!”. Pak Kyai juga memaparkan pengalamannya bahwa komunikasi di Turkey dn Qatar cenderung menggunakan Bahasa Inggris.

 

Poin penting lainnya, paska penandatangan Memorendum of Understanding (MoU) dengan beberapa Universitas di Turkey dan Qatar, diharapkan banyak santri, alumni bahkan guru yang akan meneruskan study di luar negri. “Kalau bisa belajar di luar negri dengan beasiswa, mengapa harus di dalam negri yang pakai biaya!”. tegas pak kyai.

 

Tampak sekali kesan mendalam pak kyai akan fungsi bahasa arab dan inggris dalam lawatan. Sehingga di ujung pembicaraannya, pak kyai kembali berpesan agar ada upaya serius dan sistematis untuk peningkatan kemahiran warga pesantren dalam bilingual Arabic and English. Semoga (Wardan/Abu Ezzat El Wazira)