Ada satu kebiasaan yang tidak pernah ditulis di buku panduan mana pun. Ketika santri baru pertama kali masuk asrama, bukan wali kelas yang mengajarkan cara menyapa ustadz. Yang mengajarkan adalah kakak kelas yang kebetulan lewat di lorong, yang tiba-tiba berhenti, menundukkan kepala sedikit, lalu mengucapkan salam dengan suara tenang. Santri baru itu diam sejenak. Lalu besoknya, tanpa disuruh, dia melakukan hal yang sama.
Tidak ada slide. Tidak ada panduan tertulis. Tapi nilai itu berpindah.
Mengapa ada hal yang tidak bisa dipindahkan lewat tulisan?
Untuk nilai-nilai tertentu — adab, kepekaan, rasa hormat yang tulus — format digital tidak cukup. Nilai semacam itu butuh konteks. Butuh manusia lain yang mempraktikkannya tepat di depan mata kita, dalam situasi nyata.
Cara santri duduk saat makan bersama, misalnya. Tidak ada instruksi tertulis. Tapi setiap santri tahu. Mereka tahu karena melihat. Mereka duduk di samping kakak kelas yang sudah lebih dulu paham.
Itu bukan aturan. Itu tradisi. Dan tradisi punya cara sendiri untuk bertahan.
Bagaimana tradisi lisan bertahan lebih lama dari dokumen resmi?
Tradisi lisan menempel bukan di otak, tapi di kebiasaan tubuh. Ketika ada tamu datang, santri tidak perlu diberi memo untuk bersikap sopan. Mereka sudah terbiasa berdiri, mempersilakan duduk, menyiapkan air minum.
Saat gotong royong setiap Jumat pagi, tidak ada pembagian tugas tertulis. Santri yang sudah lama tinggal otomatis mengambil bagian yang lebih berat. Yang baru perlahan-lahan mengambil sapu lebih cepat. Bukan karena disuruh. Tapi karena malu kalau hanya berdiri.
Rasa malu yang sehat itu tidak bisa diajarkan lewat presentasi mana pun.
Apa yang sebenarnya berpindah dari kakak kelas ke adik kelas?
Yang berpindah bukan informasi. Yang berpindah adalah standar. Standar tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan manusia lain.
Ketika kakak kelas berbicara pelan kepada adik kelas yang melakukan kesalahan — bukan membentak, bukan mempermalukan — maka adik kelas itu belajar bahwa kekuasaan tidak harus keras.
Dan ketika adik kelas itu naik tingkat, dia akan memperlakukan yang lebih muda dengan cara yang sama. Ini rantai yang tidak terlihat. Tapi kita yang pernah merasakannya tahu betapa kuatnya.
Kenapa generasi sekarang justru lebih butuh ini?
Anak-anak yang tumbuh dengan layar gadget sangat terbiasa menerima informasi, tapi kurang terbiasa mengamati perilaku manusia secara langsung. Di pesantren, nilai tidak perlu diceramahkan. Nilai terjadi dengan sendirinya dalam interaksi paling sederhana.
Di Darunnajah 2 Cipining, rantai tradisi itu masih terjaga. Bukan karena ada departemen khusus. Tapi karena setiap angkatan merasa bertanggung jawab mewariskan apa yang pernah mereka terima.
Bertahun-tahun setelah lulus, alumni masih berdiri ketika orang yang lebih tua masuk ruangan. Masih berbicara pelan ketika suasana tegang. Kebiasaan kecil itu bukan hasil hafalan. Itu hasil dari tahun-tahun hidup dalam lingkungan yang menjadikan adab sebagai udara.
Hubungi WhatsApp 0812111180 untuk bicara langsung. Cukup satu pertanyaan.