Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momentum penting di lingkungan pesantren. Bagi para santri, peristiwa agung ini tidak sekadar dipahami sebagai sejarah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran spiritual, penguatan tradisi keislaman, dan sarana edukasi berkelanjutan.
Di berbagai pesantren, peringatan Isra Mi’raj biasanya digelar dengan rangkaian kegiatan yang sarat makna. Mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lantunan shalawat, pengajian kitab, hingga tausiyah yang mengulas hikmah perjalanan Nabi SAW. Tradisi ini terus dijaga dan diwariskan sebagai bagian dari kultur pesantren yang menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi utama pendidikan.
Isra Mi’raj sebagai Tradisi Keilmuan Santri
Dalam tradisi pesantren, setiap peringatan hari besar Islam selalu dikaitkan dengan penguatan keilmuan. Isra Mi’raj tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga dikaji dari berbagai perspektif, baik akidah, fikih, maupun akhlak. Santri diajak memahami konteks sejarah, tantangan dakwah Rasulullah SAW pada masa itu, serta relevansi peristiwa Isra Mi’raj dalam kehidupan modern.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menjadi landasan utama dalam setiap kajian Isra Mi’raj di pesantren, sekaligus mengajarkan santri untuk menyeimbangkan antara iman dan ilmu.
Dimensi Ibadah: Shalat sebagai Inti Isra Mi’raj
Puncak dari peristiwa Isra Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Hal ini menjadi pesan utama yang selalu ditekankan dalam peringatan Isra Mi’raj di kalangan santri. Shalat bukan sekadar ritual, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya.
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa pada awalnya shalat diwajibkan sebanyak 50 waktu, kemudian diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara 50 waktu. Hadis ini menegaskan betapa besar kedudukan shalat dalam Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Shalat itu adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama; dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.”
(HR. Baihaqi, dinilai sahih oleh sejumlah ulama)
Bagi santri, pesan ini menjadi pengingat bahwa kualitas ibadah—khususnya shalat—harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan Isra Mi’raj pun kerap dijadikan momentum evaluasi diri: sejauh mana shalat telah dijaga, baik dari sisi waktu, kekhusyukan, maupun akhlak yang lahir darinya.
Edukasi Nilai dan Pembentukan Karakter
Selain aspek ibadah, peringatan Isra Mi’raj juga memiliki dimensi edukasi yang kuat. Pesantren memanfaatkan momen ini untuk menanamkan nilai-nilai kesabaran, keteguhan iman, dan optimisme dalam menghadapi ujian hidup. Sebab, Isra Mi’raj terjadi setelah Rasulullah SAW mengalami masa duka yang berat, wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, serta penolakan dakwah di Thaif.
Dari sini, santri belajar bahwa pertolongan Allah SWT datang setelah kesabaran. Pendidikan karakter semacam ini menjadi bekal penting bagi santri ketika kelak terjun ke tengah masyarakat.
Tidak jarang, dalam peringatan Isra Mi’raj juga digelar lomba pidato, penulisan esai keislaman, atau diskusi tematik. Kegiatan ini mendorong santri untuk berpikir kritis, berani menyampaikan gagasan, sekaligus memperkuat kemampuan literasi keagamaan.
Manfaat Jangka Panjang bagi Santri dan Masyarakat
Manfaat peringatan Isra Mi’raj bagi santri tidak berhenti pada satu malam peringatan. Dalam jangka panjang, tradisi ini membentuk santri yang memiliki kesadaran spiritual tinggi, disiplin ibadah, dan wawasan keislaman yang mendalam. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting dalam membangun masyarakat yang religius dan berakhlak.
Santri yang memahami makna Isra Mi’raj secara utuh diharapkan mampu menjadi agen perubahan. Mereka tidak hanya piawai dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki ketahanan mental, sikap toleran, dan semangat pengabdian. Inilah esensi pendidikan pesantren: mencetak generasi yang berilmu, beriman, dan berkontribusi bagi umat.
Peringatan Isra Mi’raj di lingkungan santri, dengan demikian, bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah tradisi hidup yang menyatukan ibadah, edukasi, dan pembentukan karakter—sebuah investasi spiritual dan sosial yang manfaatnya terus dirasakan hingga masa depan.

