Tontonan film mempengaruhi karakter anak.Rupanya belum selesai permasalahan mengenai virus corona yang sedang marak – maraknya.

Belakangan ini dunia maya kembali viral, berita mengenai seorang anak berumr 15 tahun yang membunuh anak berumur 5 tahun. korban tidak lain merupakan tetangganya tewas mengenaskan didalam lemari.

Pelaku yang masih duduk dibangku SMP ini mengaku bahwa dia membunuh dengan sengaja. Dia sebelumnya memang sudah memiliki hasrat untuk membunuh tetapi ketika itu keinginannya sudah tidak terbendung lagi. Si pelaku pun akhirnya membunuh korbannya secara sadis dengan menenggelamkan korban, mencolok lehernya dan cara-cara sadis lain yang tidak seharusnya dilakukan oleh karakter anak

Jika kita fikirkan bagaimana mungkin seorang anak remaja berumuran 15 tahun memiliki keinginan yang kuat untuk membunuh seseorang?

apalagi cara yang yang dia lakukan begitu tidak wajar. Setelah ditelusuri mendalam ternyata si pelaku melakukan ini karna terinspirasi oleh film-film yang dia tonton seperti Film anime Slender Man dan film horor Chucky karakter-karakter sadis lainnya. Pelaku memang hobby menonton film-film horor. Dia mengaku tidak menyesal justru merasa puas setelah bisa membunuh.

Film-film horor sekarang ini memang banyak memiki unsur – unsur darah, pembunuhan, karakter psikopat, penyiksaan dan lain sebagainya. Dan parahnya film – film ini sudah menyebar luas di saluran televisi dan ditonton oleh berbagai macam kalangan usia.

Siapa yang peduli jika film – film itu ditonton oleh anak usia dini ataupun remaja?

Masa remaja adalah masa mereka berkembang dan untuk mencari karakter atau jati diri dengan meniru apa yang dia lihat, dengar, dan lain sebagainya. Meskipun biasanya film itu sudah digolongkan totonan untuk kategori remaja, bimbingan orang tua ataupun dewasa. Namun nyatanya masih banyak anak-anak yang bahkan dibawah umur, kelolosan menonton film yang bukan kategorinya.

Bagaimana cara mengatasi tontonan agar  anak – anak tidak menonton selain kategorinya?.

Perlu adanya turun tangan orang tua ketika mereka menonton acara di televisi. Meskipun acara itu adalah acara kartun. tidak semuanya film kartun adalah film yang mendidik, terkadang film kartun juga terdapat unsur kekerasan, percintaan, karakter animasi yang kurang pantas dan lain – lain, yang tidak sesuai dengan kategori pendidikan orang tua itu berikan.

Sehingga perlu, jika anaknya sedang menonton kemudian orang tua berada disamping anak untuk menjelaskan pesan -pesan yang mungkin tidak tersampaikan ke anak. Peran keluarga sangat penting, dalam membatasi tontonan anak – anak. Keluarga harus cerdas dalam memilah milih dan apa saja yang boleh ditonton dan yang tidak.

blank
Selain itu menanamkan ilmu agama juga sangat penting untuk bekal ruh mereka.

dengan memberikan pendidikan spiritual anak akan memiliki karakter hati yang lembut. Dan mereka akan bisa memilih mana yang boleh dilakukan mana yang tidak.

Selain itu ada baik nya juga jika televisi menyaring terlebih dahulu mana acara yang memiliki nilai pendidikan dan mana yang dia hanya membuat tayangan yang tidak ada nilai-nilai pendidikannya.

Coba kita kembali pada era dimana kartun seperti Dora dan Diego masih ada. Dalam kartun tersebut anak – anak diajak untuk menjadi karakter yang aktif dan semangat, juga memiliki rasa ingin tahu yang besar. Pada intinya keluargalah yang harus cerdas dalam memilih tontonan anak.

Lihat Juga