Three In One, Satu Kunjungan Pimpinan Darunnajah Laksanakan Tiga Kegiatan

Three In One, Satu Kunjungan Pimpinan Darunnajah Laksanakan Tiga Kegiatan

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram

Sebuah Kesyukuran dan kebahagiaan bagi civitas Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor karena kembali dikunjungi oleh dua Pengasuh dan Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah pusat: KH. Dr. Sofwan Manaf Mukhayyar, M.Si., dan KH. Hadiyanto Arif, S.H., M.Bs.

Bertempat di auditorium kampus 1, pada Senin malam 10 Januari 2022 para guru Darunnajah 2 Cipining mendapatkan re-charge spirit perjuangan dari kedua pimpinan tersebut. Tampak membersamai keduanya di panggung aula tiga Pembina Pesantren Darunnajah 2 Cipining: Ustadz Ridha Makky, M.Pd.I., Ustadz Musthofa Zahir, Lc., MA., dan Ustadz Nasihun Sugik, S.E., M.M. Rangkaian pertemuan malam itu dipandu oleh Ustadz Abdul Hafidz, S.Pd.

Di awal penyampaian, KH. Sofwan Manaf mengajak seluruh audiens membacakan do’a bagi seluruh wakif, pendiri dan pejuang Darunnajah yang telah terlebih dahulu kembali ke haribaan Ilahi Rabbi. Selanjutnya, beliau mengabsen beberapa nama guru senior antara lain disebut Ustadz Abdul Rosyid, Ustadz Musthofa Kamal, Ustadz Ahmad Rosikhin dan Ustadz Atijan Yani. “Wakil Pengasuh dan pengambil kebijakan harus tinggal di dalam (lingkungan) asrama karena kalau tinggal di luar asrama tidak akan merasakan apa yang dirasakan oleh para santri!” jelasnya untuk memperkuat group feeling.

Putra bungsu KH. Abdul Manaf Mukhayyar tersebut menekankan bahwa disiplin, program, manajemen bahkan dana tidak akan bermakna apa-apa dalam proses pendidikan tanpa adanya uswah. Disinilah kesiapan dan keteladanan guru hidup bersama para santri menemukan uregnsinya. “Jika ingin mencari susana ibadah maka pergilah ke Makkah & Madinah, kalau ingin mencari ilmu yang banyak pergilah ke al Azhar Mesir, kalau ingin mencari pendidikan datanglah ke Gontor, datanglah ke Darunnajah!” ungkapnya menyakinkan bahwa pola pendidikan pesantren sudah on the right track.

Oleh karenanya segenap civitas Darunnajah diajak wajib bersyukur dengan memelihara program serta sarana prasarana yang sudah ada dan berusaha menambahkan yang belum ada. Contoh praktisnya terkait fisik bangunan, jika ada 100 % dana pembangunan maka 40 % harus dialokasikan untuk pemeliharaan.

Ustadz Yayan (nama akrab panggilan KH. Sofwan Manaf) juga menegaskan mutlaknya kaderisasi, “Kaderisasi itu untuk memberikan kesempatan kepada yang lebih muda untuk tampil. Saya dulu dipaksa oleh ayah dan kakak saya (KH. saefudin Arif) untuk mendampingi Kiai Mahrus, saya masih 29 tahun dan Kiai Mahrus 54 tahun. Memang perubahan itu bisa mengakibatkan kenyamanan dan tidak kenyamanan maka diperlukan kesiapan dan latihan untuk menerimanya dari semua pihak yang ada!” paparnya sembari memberikan tamsil kondisi sopir baru tentu belum senyaman sopir lama dalam mengendari kendaraannnya.

Berikutnya KH. Hadiyanto Arif menyampaikan pencerahannya kepada 300 an guru Darunnajah Cipining. Ia memulai dengan membacakan kembali Sambutan KH. Abdul Manaf Mukhayyar dalam suatu agenda ikrar wakaf. “Orang tua berfikir masa lalu, orang muda berfikir masa depan. Untuk itulah kami malam ini ada di sini karena kita ingin memikirkan masa depan Darunnajah!” ungkapnya.

Ustadz Dedi (nama akrab KH. Hadiyanto Arif) banyak memaparkan terkait rencana pendiri Universitas sebagai ‘Rumah Besar Darunnajah’ sebagaimana halnya Al Azhar yang sudah dan terus eksis lebih dari 1000 tahun. Juga, pentingnya revitalisasi TMI yang dengan program Mu’adalahnya ia sebut sebagai ‘Pengembalian Baju’ kepada pesantren untuk lebih leluasa dan merdeka dalam menjalankan program pendidikannya. Ia menyebut juga agenda Darunnajah pusat untuk mendesain dan melaksanakan kurikulum prototype yang sebenarnya juga tidak jauh beda dengan TMI.

Kandidat Doktor UGM itu menyitir pernyataan salah-satu anggota Dewan Nazir Darunnajah, Prof. Dr. KH. Habib Chirzi, “Jika pesantren meniru sekolah umum ya keliru karena pemerintah sebenarnya hanya menyediakan pendidikan standar minimal bagi warganya, adapun pesantren justru sudah lebih lengkap, tidak hanya 8 jam sehari tetapi 24 jam dalam sehari alias non stop!”.

Koordinasi Road To University

Pada pagi harinya, Selasa 11/1/22 kedua pimpinan bersama para pimpinan dan pengelola Perguruan Tinggi Darunnajah (STAIDA Bogor, STAIDA Jakarta, Business School Jakarta) serta pengurus Yayasan Darunnajah kembali melaksanakan koordinasi, komunikasi, konsolidasi agenda besar Road To University. (Berita lengkapnya bisa dibaca di halaman lainnya di website ini).

Last but not least, selagi berada di Darunnajah Cipining yang asri sejuk indah alamnya maka Ustadz Dedi ditemani beberapa guru Darunnajah Cipining adakan gowes bersama ke Curug Rahong sekira 7 kilometer arah Utara pesantren.  Life is like a riding a bicycle, hidup ini laksana naik sepeda, agar terus berjalan seimbang maka harus terus mengayuhnya.

(Wardan/Mr. MiM).

Pendaftaran Siswa Baru Pesantren Darunnajah