Teman dari Berbagai Daerah Ternyata Membentuk Cara Berpikir Anak Lebih Luas dari yang Dibayangkan

Teman dari Berbagai Daerah Ternyata Membentuk Cara Berpikir Anak Lebih Luas dari yang Dibayangkan

Ada hal yang sering tidak disadari orang tua saat memilih lingkungan pendidikan anak — bahwa siapa yang akan jadi teman anaknya setiap hari akan membentuk cara berpikirnya lebih kuat daripada kurikulumnya. Kalau temannya mirip-mirip — dari kota yang sama, dari kelas ekonomi yang sama, dari budaya yang sama — cara berpikirnya pun cenderung sempit. Tulisan ini mencoba melihat apa yang terjadi ketika anak tumbuh dengan teman-teman dari latar yang sangat beragam.

Kenapa keragaman teman jadi isu yang jarang dibicarakan?

Di banyak keluarga kota, anak tumbuh dengan teman yang latar belakangnya relatif serupa. Teman di sekolah elite biasanya dari keluarga dengan kelas ekonomi yang mirip. Teman di komplek perumahan dari lingkungan yang hampir sama. Teman di ekstrakurikuler mewah juga dari kalangan yang seukuran.

Tidak ada yang salah dengan ini. Tapi ada konsekuensi tanpa sadar. Anak tumbuh dengan cara pandang yang relatif sempit. Ia melihat dunia dari satu sudut yang didominasi oleh cara pikir kelompoknya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya hanya pertanyaan yang relevan bagi kelompok seperti dirinya.

Saat dewasa dan harus menghadapi Indonesia yang sebenarnya — yang sangat beragam dari Sabang sampai Merauke — ia sering kaget. Banyak hal yang tidak pernah terpikir. Banyak perspektif yang tidak pernah ditemui. Banyak cara hidup yang belum pernah dilihat.

Kekagetan ini seringkali lebih besar dari yang orang tua bayangkan.

Apa yang sebenarnya tumbuh ketika anak hidup dengan teman dari banyak daerah?

Bukan sekadar pengetahuan tentang budaya lain. Ada hal yang lebih dalam.

Yang pertama, kemampuan menempatkan diri sendiri dalam perspektif. Ketika anak mendengar cerita teman yang tumbuh di desa kecil di Kalimantan, dia mulai sadar bahwa cara hidupnya bukan satu-satunya yang normal. Ketika mendengar cerita teman yang berasal dari keluarga petani di Sumatera, dia sadar ada banyak kerja yang tidak pernah ia tahu. Kesadaran ini membuat anak lebih rendah hati tentang kelompoknya sendiri.

Yang kedua, kosakata mental yang lebih kaya. Setiap daerah punya cara bicara yang berbeda. Logat. Istilah. Ungkapan. Anak yang bergaul dengan banyak daerah, kepalanya penuh dengan berbagai cara mengungkapkan hal yang sama. Ini bukan hanya masalah bahasa — ia adalah masalah cara berpikir. Orang yang punya banyak cara mengungkapkan sesuatu, biasanya juga punya banyak cara memahaminya.

Yang ketiga, toleransi yang bukan sekadar konsep. Di rumah, anak mungkin diajarkan bahwa semua orang harus dihormati terlepas dari latar belakang. Tapi ini tetap konsep kalau tidak pernah dihidupi. Anak yang tinggal dengan teman dari berbagai daerah, hidup dalam praktik toleransi setiap hari. Beda kebiasaan makan. Beda cara bicara. Beda cara merayakan sesuatu. Semua jadi biasa.

Yang keempat, kemampuan berjejaring lintas geografis. Kelak saat dewasa, anak punya teman di banyak tempat. Ini bukan hanya nilai sosial. Di dunia yang semakin terhubung, punya jaringan pribadi yang tersebar adalah aset yang sangat berharga — untuk karir, untuk bisnis, untuk dakwah, untuk kemanusiaan.

Di mana anak bisa dapat pengalaman tinggal dengan teman dari banyak daerah?

Tidak banyak pilihan di pendidikan reguler. Sekolah negeri atau swasta biasanya diisi anak-anak dari satu kota. Kalaupun ada keragaman etnis, latar ekonominya biasanya mirip.

Sekolah internasional lebih beragam dari segi etnis, tapi seringkali terbatas pada kelas ekonomi atas. Anak bertemu dengan anak-anak dari berbagai negara, tapi semua dari kelompok yang serupa secara ekonomi.

Pesantren dengan sistem asrama terbuka secara nasional adalah salah satu tempat yang keragaman sosialnya paling kaya. Santri datang dari berbagai daerah Indonesia — dari Aceh sampai Papua, dari keluarga mampu sampai yang beasiswa, dari kota besar sampai desa kecil, dari keluarga akademisi sampai keluarga petani.

Di Darunnajah 2 Cipining, banyak santri yang tinggal di kampus berasal dari latar yang sangat beragam. Mereka tidur di kamar yang sama, makan di dapur yang sama, belajar di kelas yang sama, ikut kegiatan yang sama. Interaksi harian mereka tidak bisa dihindari. Di lapangan, di masjid, di antrian makan siang, di kamar mandi pagi — mereka bertemu dan bercampur.

Apalagi pesantren punya motto yang dibangun di atas prinsip ini — berdiri di atas dan untuk semua golongan. Dari sejak pendiriannya, pesantren memang terbuka untuk semua kelompok Muslim. Keragaman bukan kebetulan. Ia bagian dari DNA pesantren.

Apa yang terjadi setelah anak tiga atau enam tahun tinggal di lingkungan seperti ini?

Yang paling kelihatan di luar — anak jadi punya teman di mana-mana. Ketika melakukan perjalanan ke kota lain, ada yang menyambut. Ketika butuh rekomendasi tempat, ada yang memberi. Ketika menghadapi situasi tidak familiar, ada yang bisa ditanya.

Yang lebih dalam di batin — anak jadi lebih luwes menghadapi perbedaan. Di dunia kerja nanti, ia bertemu orang dari berbagai latar. Karena sudah terbiasa, ia tidak kaget. Tidak menghakimi. Tidak merasa terancam oleh yang berbeda.

Yang paling mendalam — anak mengembangkan cara berpikir yang tidak sempit. Ketika menghadapi masalah, ia bisa membayangkan dari berbagai sudut. Ketika mengambil keputusan, ia mempertimbangkan dampak pada kelompok selain kelompoknya sendiri. Ketika diminta berpendapat, ia bisa bicara dengan nuansa yang lebih halus.

Semua ini bukan hasil dari mata pelajaran sosiologi atau antropologi. Ia adalah hasil dari kehidupan bersama yang panjang.

Alumni pesantren yang sudah dewasa sering bilang, hubungan dengan teman lintas daerah adalah salah satu warisan paling berharga dari masa mondok mereka. Teman-teman ini jadi saudara seumur hidup. Bertemu di reuni yang diadakan di berbagai kota. Saling bantu saat ada yang kesulitan. Saling kunjungi saat ada acara.

Jaringan seperti ini sulit dibangun dari nol di usia dewasa. Tapi dibangun alami kalau dimulai di usia remaja.

Bagaimana kalau ingin mengenal lebih jauh?

Soal keragaman santri di pesantren adalah topik yang lebih enak dibahas lewat obrolan langsung. Tim penerimaan santri baru di Pesantren Darunnajah 2 Cipining siap dihubungi kapan saja di wa.me/62812111180.

Bisa dimulai dari pertanyaan — dari daerah mana saja santri yang mondok di sana, bagaimana keragaman budaya dijaga sebagai kekayaan bukan sumber konflik, atau bagaimana santri dari daerah yang sangat berbeda perlahan membangun persahabatan.

Dari obrolan seperti itu, orang tua bisa mendapat gambaran tentang komunitas seperti apa yang akan menyambut anaknya kalau mondok di sana.