Taujihad Wal Irsyadat Ujian Murajaah 'Ammah, Santri Non Asrama Pesantren Darunnajah 2 Cipining Taujihad Wal Irsyadat Ujian Murajaah 'Ammah, Santri Non Asrama Pesantren Darunnajah 2 Cipining

Taujihad Wal Irsyadat Ujian Murajaah ‘Ammah, Santri Non Asrama Pesantren Darunnajah 2 Cipining

Taujihad Wal Irsyadat Ujian Murajaah 'Ammah, Santri Non Asrama Pesantren Darunnajah 2 Cipining

Santri non asrama kelas 1 sampai 6 berkumpul di Masjid Jami pada Kamis, 8 Oktober 2026, untuk mengikuti Taujihat menjelang Ujian Murajaah ‘Ammah. Panitia ujian menggelar kegiatan ini agar para santri memasuki ruang ujian dengan niat yang lurus. Pesan utamanya sederhana namun mendasar: ujian adalah sarana untuk belajar, bukan tujuan belajar itu sendiri.

Masjid Jami terisi oleh santri non asrama dari seluruh jenjang kelas. Mereka duduk menyimak arahan yang disampaikan Ustadz Kanafi Salman, M.Pd. Kegiatan di Pesantren Darunnajah 2 Cipining ini berlangsung lancar dan tertib. Para santri tampak antusias mengikuti acara dari awal hingga akhir.

Dalam arahannya, Ustadz Kanafi Salman, M.Pd menyampaikan beberapa pengingat penting. Yang pertama menyangkut cara pandang terhadap ujian. Santri diajak memahami bahwa ujian hadir untuk mendorong mereka belajar, bukan sebaliknya. Dengan cara pandang ini, ujian tidak lagi menjadi beban. Ia berubah menjadi kesempatan untuk mengukur sejauh mana ilmu telah melekat.

Pengingat kedua berkaitan dengan kejujuran. Para santri diingatkan bahwa kejujuran jauh lebih berharga daripada angka yang tertera di lembar nilai. Nilai tinggi yang diperoleh dengan cara tidak jujur tidak mencerminkan kemampuan yang sebenarnya. Sebaliknya, nilai yang diraih dengan usaha sendiri menjadi gambaran jujur tentang proses belajar yang telah dijalani.

Dalam ajaran Islam, kejujuran (shidq) adalah fondasi akhlak. Ruang ujian menjadi tempat berlatih untuk membiasakan sikap ini, jauh sebelum santri menghadapi ujian kehidupan yang sesungguhnya. Kebiasaan sederhana di bangku ujian akan terbawa menjadi karakter ketika mereka dewasa. Seorang pelajar yang terbiasa jujur saat tidak ada yang mengawasi sedang menyiapkan dirinya menjadi pribadi yang dipercaya.

Pengingat ketiga bersifat teknis namun tidak kalah penting, yaitu menulis identitas pada kertas ujian dengan baik dan benar. Kesalahan atau ketidaklengkapan identitas dapat menimbulkan ketidakvalidan data. Akibatnya, hasil ujian bisa sulit ditelusuri dan merugikan santri sendiri. Ketelitian pada hal kecil ini adalah bagian dari kedisiplinan dalam menuntut ilmu.

Terakhir, santri diingatkan tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum memasuki ruang ujian. Santri non asrama perlu memastikan semua persiapan sudah lengkap sebelum berangkat dari rumah. Dengan memahami ketentuan ini sejak awal, mereka diharapkan datang dalam keadaan siap. Hari pelaksanaan pun tidak terganggu oleh persoalan administratif.

Seluruh pengingat tersebut bermuara pada satu harapan, yaitu santri menghadapi Ujian Murajaah ‘Ammah dengan persiapan matang, hati tenang, dan sikap jujur. Proses belajar yang sungguh-sungguh akan lebih bermakna daripada mengejar angka semata.

Bagi para santri, mulailah persiapan sejak hari ini dengan mengulang hafalan dan materi secara teratur. Bagi orang tua dan wali santri, dukunglah anak-anak Anda dengan doa serta bantu memastikan kelengkapan persiapan mereka. Semoga Allah memberi kemudahan dan ketenangan dalam menjalani ujian.