TANTANGAN HUKUM ISLAM DI ABAD MODERN (Part 2)
Menu

TANTANGAN HUKUM ISLAM DI ABAD MODERN (Part 2)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
a href=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2014/04/10264767_823729100990436_1928469814_n.jpg”>img class=”size-full wp-image-3371″ src=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2014/04/10264767_823729100990436_1928469814_n.jpg” alt=”TANTANGAN HUKUM ISLAM DI ABAD MODERN” width=”259″ height=”194″ />/a> TANTANGAN HUKUM ISLAM DI ABAD MODERN

III. Tantangan Hukum Islam di Abad Modern

Kemunduran umat islam dalam beberapa abad terakhir bersumber dari kesalahan dan penyimpangan sebagai besar umat islam dalam memahami ajaran agamanya. Kesalahan memahami tauhit uluhiyah membuat mereka lebih mentaati penguasa , ulama – ulama mazhab dan tokoh – tokoh sufi daripada Allah dalam kehidupan mereka. Imam kepada Qodar bukan membawa sifat dinamis dalam diri mereka, sebaliknya membuat mereka jumud.
Fanatisme mazhab dan taqlib kepada pendapat ulama terdahulu berkembang pesat. Hal ini terjadi pula di kerajaan Turki Usmani yang merupakan symbol kekuasaan politik dan kemajuan Islam ketika memasuki abad modern. Umara dan Ulama Turki menentang pembukaan pintu ijtihad dan menetapkan satu – satunya mazhab Hanafi sebagai mazhab resmi kerajaan.
Dalam situasi demikian, pada abad 19M, terjadi kontak antara dunia Islam khususnya Turki dan Mesir dengan Barat yang membawa pengaruh besar terhadap sikap umat Islam. Ahli hukum Islam mulai kebingungan melihat hal – hal baru yang terjadi kalangan umat Islam. Suatu masalah akan langsung ditetapkan haram bila tidak terdapat hukumnya dalam kitab – kitab fiqh klasik.
Di Turki waktu itu, pernah di perkenalkan telepon kepada masyarakatnya, tetapi karena hal itu tidak terdapat dalam kitab – kitab fiqh klasik mazhab Hanafi, maka ulama berfatwa bahwa berbicara lewat telepon haram. Ulama yang mengharamkan beralasan karena tidak sama dengan yang dikenal selama ini.
Sikap ulama waktu itu menolak segala yang baru mendapat tantangan keras dari kalangan islam sendiri. Kondisi ini menempatkan umat islam dipersimpangan jalan. Satu jalan ada yang ingin bertahan dengan fiqh yang telah ada, satu jalan lagi ada umat islam memandang perlu mengadakan peruahan pemahaman fiqh sebatas dalam kerangka hasil ijtihad, sementara yang lain memandang hokum islam perlu disingkaran dan ditukar dengan hokum islam.
Dengan demikian, ada tiga sikap islam terhadap hokum Islam dalam merespon perkembangan modern.
1. Kelompok orang yang ingin memperthankan fiqh sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab kuning. Kelompok ini tidak membedakan secara tegas hokum yang harus tetap dan stabil, dan hokum yang bisa berubah, dinamis, dan berkembang; hokum yang mansus dan hasil ijtihad
Aliran ini berpandangan umat islam hendaklah secara ketat berpegang pada produk ijjtihad masa lalu, baik dalam masalah ibadah maupaun muamalah secara keseluruhan, dan semua itu bukan lapangan ijtihad. Berdasarkan argumentasi itu, mereka menyatakan pintu ijtihad telah tertutup.
Di samping itu, menurut aliran ini bila umat islam ingin kembali jaya, situasi dan kondisi harus disesuaikan dengan tatanan hidup yang dikehendaki fiqh , bukan sebaliknya fiqh yang harus menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi saat ini. Oleh sebab itu, mereka menentang segala bentuk perubahan dan apa yang datang dari luar karena akan membawa umat islam mundur dalam mengamalkan agamanya.
2. Kelompok lain berdapat, umat islam harus maju dan dapat hidup secara tenang di abad modern ini dengan tetap mentaati ajaran agamanya.mereka berpendirian,bila mengambil ijtihad masa lalu seadanya,maka tidak akan cukup menyelesaikan masalah kehidupan umat islam masa sekarang.untuk itu,umat islam boleh bahkan berjihat,tetapi tetap berada dalam kerangka metodologis yang telah ada.
Metodologi ijtihad (ushu al-fiqh)menjelaskan hokum islam selain yang tegas didalam al-quran dan sunnah,juga hasil istihad mujtahid yang di simpulkan dari kedua nash tersebut.hassil istihad itu mungkin ada di pengaruhi dalam pembentukannya oleh situasi dan kondisi.hal seperti terakhir inilah yang merupakan lapangan ijtihad bisa pula di lakukan terhadap masalah-masalah yang tidak ada ketetapan hukumnya secara tegas daalam Al-Quran dan Sunnah.
Aliran ini mengkritik keras kelompok pertama karena akan membuat hukum Islam ketinggalan zaman dan tidak dapat mengikuti dinamika sosial.selain itu,aliran ini tidak setuju pula dengan aliran ketiga yang akan di sebutkan karena prinsip liberal yang mereka anut dalam berijtihad dan keinginan mengganti hukum Islam dengan hukum asing.pemikiran kelompok ketiga ini berbahaya karena bila di ikuti akan banyak ayat Al-Quran dan Sunnah-sunnah yang di singkirkan dengan alasan tidak sesuai dengan akal manusia yang sering dikenalikan hawa nafsu.
Pola piker kelompok kedua ini yang diikuti oleh panitia penyusun materi hukum perdata kerajaan Turki Usmani di abad 13 hijrah.kumpulan hukum itu kemudian dikenal dengan Majallat al-ahkam al-adliyah.
3. Kelompok orang yang berpandanagan untukmengejar ketertinggalan umat Islam dan menyesuaikan diri dengan kemajuan abad modern,pintu ijtihad harus dibuka secara bebas tantpa terikat degan konsep metodologis yang telah dirumuskan mujtahid terdahulu.
Ijtihad menurut mereka dilakukan tanpa harus membedakan antara ayat Al-Quran yang qath’I dan zanni.ayat-ayat ini dapat disesuaikan penafsirannya dengan situasi dan kondisi sekarang.Sementara itu,hukum islam yang tidak cocok lagi dengan kemajuan abad modern harus di singkirkan dan diganti dengan hukum lain yaitu hukum Berat.Aliran ini dianut oleh kelompok orang yang berpaham sekuler di Mesir dan Turki.
Masing-masing aliran diatas berusaha mendapatkan dukungan dari kalangan umat islam. Disebabkan oleh berbagai factor termasuk factor ekstern politis, aliran yang disebutkan terakhir diatas mendapat sokongan dari penguasa. Kontak antara timur dan barat yang semakin erat bahwa perubahan sikap umat islam terutama kelompok ini dengan menerima apa yang datang dari barat termasuk hukum dengan meningglkan norma-norma yag telah mereka anut selama ini.
Dalam konteks diatas, terjadi penerimaan secara besar-besaran hukum barat di dunia islam. Di Turki, dengan dalih tanzimat praktek hukum islam secara berangsur-angsur diluncurkan dari kalangan umat islam yang diganti dengan hukum barat. Tahun 1840 hukum pidana yang berasal dari Prancis diterapkan menggantikan hukum pidana islam, kecuali dalam masalah hukuman mati terhadap pelaku riddah.
Pada tahun 1950 M kerajaan Turki Usmani memberlakukan hukum dagang yang sepenuhnya berasal dari Prancis. Kemudian secara berturut-turut beberapa bidang hukum barat menggantikan hukum islam, kecuali bidang ah-Ahwal al-Syahksiyah (hukum perkawinan, warisan dan wasiat), perwakafan, dan materi-materi hukum perdata yang terdapat dalam Majallat Al-Ahkam al-`adliyah.
Hal yang sama terjadi pula di Mesir, pemerintahan Mesir yang telah memisahkan diri dari Turki Usmani menerapkan hukum perdata dan pidana yang berasal dari Prancis, sehingga hukum Islam yang masih tersisa dipengadilan hukum al-Ahwal al-Syakhsyah, hukum hibah dan perwakafan.

IV. Peluang Mengatasi Tantangan

Dalam sejarah perkembangan hukum islam, terbukti bahwa perubahan sosial dan masalah yang terjadi dalam kehidupan umat islam selalu dapat diatasi hukum islam, yaitu al-Syari`at al-Islamiyah Shalihat li Kulli zaman wa makan (syariat islam sesuai untuk dipedomani dalam segala waktu dan tempat). Prinsip ini telah menjadi keyakinan mendalam dikalangan umat islam sepanjang masa.
Ada beberapa hal penting yang menyebabkan hukum islam mampu menghadapi perkembangan sosial, termasuk abad modern ini sebagai berikut :
1. Keluwesan Sumber Hukum Islam
Al-Qur`an sebagai sumber pertama dan utama hukum islam mengandung hukum-hukum yang sudah terperinci dan menurut sifatnya tidak berkembang, disamping itu, mengandung hukum-hukum yang masih membutuhkan penafsiran dan memiliki peluang untuk berkembang.
Ayat-ayat hukum yang berkaitan dengan ibadah meskipun umumnya hanya pokok-pokoknya saja, tetapi dijelaskan secara rinci di dalam sunah. Adapun dalam bidang muamalah dan ini yang terjadi jumlhnya hanya sebagian kecil yang di jelaskan secara rinci dan tegas, seperti dalam kewarisan, sangsi hudud, diantara suami istri dan wanita-wanita yang haram di nikahi.
Kebanyakan ayat-ayat Al-Qur`an dalam bidang muamalah berbentuk global, terbuka untuk di tafsirkan, dan berupa prinsip-prinsip dasar yang untuk melaksanakannya memerlukan aturan-aturan tambahan. Di samping itu, ayat-ayat muamalat sering disebutkan hikmah atau illat hukumnya sehingga mungkin dikembangkan lewat berbagai metode istinbath, seperti qiyas, istihsan dan maslahah mursalah.
Sebagian ayat-ayat yang mengandung prinsip-prinsip dasar itu telah dijelaskan rasul, tetapi sejauh yang belum dijelaskannya terdapat peluang bagi umat islam untuk menjelaskan dan mengembangkannya. Dengan demikian sumber hokum islam, Al-Qur`an dan sunnah mempunyai potensi berkembang, namun upaya pengembangan itu tergantung pada poin yang akan dijelaskan berikut.
2. Semangat Ijtihad Berdasarkan Keahlian
Semangat berijtihad atasa dasar keahlian telah dimulai masa sahabat sampai tiga abad setelah kewafatan Rasulluah. Prektek-praktek hokum yang pernah dicontohkan rasul dijadikan sahabat sebagai pedoman dalam menetapakan hokum suatu persoalan, disamping sebagai putusan hokum seorang hakim di peradilan. Memang tidak semua sahabat berijtihad karena kerjanya membutuhkan keahlian dan kesungguhan tentang Al-Qur`an dan sunnah serta ilmu-ilmu yang terkait dengannya. Diantara mereka yang berijtihad adalah Umar Ibn Kahttab, Ali Bin Abi Thalib dan Aisyah.
Semangat ijtihad sahabt itu kemudian diwarisi tabi`in dan dilanjutkan imam-imam pendiri mazhab. Baik tabi`in maupun ulama sesudahnya tidak semuanya yang berijtihad, melainkan hanya mereka yang memiliki keahlian dalam bidang hokum. Melalui ijtihad yang didasarkan keahlian dan seperangkat ilmu pendukungnya membuat mereka mampu menjembatani perkembangan social dengan ajaran Al-Qur`an dan sunnah.
3. Brijtihad dengan Metedologi Ushul Fiqh
Para mujtahid merumuskan Ushul Fiqh sebagai metedologi ijtihad yang menjadi kerangka acuan dalam menggali makna dan rahasia-rahasia hokum yang terdapat pada Al-Qur`an dan sunnah. Dengan Ushul Fiqh, hokum islam dapat berkembangan dalam sejarah.
Melalui ushul fiqh, kajian Al-Qur`an dan sunnah dapat dikembangkan dari segi kebahasaan dan substansinya. Pengembangan hokum islam melalui kajian substansi terhadap Al-Qur`an membuat hokum islam mampu menampung masalah-masalah baru.
Disamping itu, dengan berpegang kepadamushul fiqh, seorang mujtahid dalam mengetahui batas-batas dan ma`na yang menjadi ruang lingkup ijtihad dalam wahyu Allah. Oleh sebab itu, dalam sejarah ditemukan tidak ada mazhab menyangkut ayat-ayat yang menunjukan pengertian yang pasti. Hasil ijtihad yang menyimpang dari kaedah-kaedah ushul fiqh, biasanya tidak bertahan lama. Dengan ushul fiqh pula, para mujtahid berani mengatakan bahwa hasil ijtihadnya sebagai hokum Allah atau rasul-Nya.
Jadi jelaslah, bahwa dinamika hokum islam disebabkan oleh hubungan yang erat antara factor keluwesan sumber hokum islam dengan kreaktifitas, dan keahlian pengikutnya serta metedologi yang mereka pakai. Melalui beberapa factor tersebut, hokum islam akan mampu menghadapi perkembangan social kapan di manapun.

V. Penutup

Dari uraian teradahulu dapat disimpulkan bahwa hokum islam dalam memasuki abad modern mendapat tantangan secara internal dan eksternal. Secara internal, adanya kecenderungan sebagain umat islam yang ingin memperthankan hokum islam sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab fiqh klasik, sementara yang lain ingin melakukan perubahan secara liberal terhadap hokum islam baik melalui ijtihad atau menggantinya dengan hokum lain agar mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan modern. Pengaruh kemajuan informasi yang membawa hokum asing ke dunia islam merupakan tantangan eksternal bagi hokum islam. Namun,melalui keluwesan sumber hokum islam, kreatifitas dan keah;ian serta metedologi ijtihad yang dimiliki umat islam, membuat hokum islam mampu mengahadapi perkembangan zaman.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hawali, Safar Ibn Abd al-Rahman. Tt. Al-Ilmaniah Nasatuha wa Tatawwaruha wa Asaruha fi al-Hayah al-Islamiah al-Muasirah. Mekkah : Dar Makkah.
Al-Qordhowi, Yusuf. Ijtihad dalam Syariat Islam, Beberapa Pandangan Analitis tentang Ijtihad Kontemporer. 1987. Jakarta : Bulan Bintang.
Bek, Khudari. 1995. Tarikh al-TAsyari al-Islami. Berikut : Dar al-Fikr
Mazkur, Muhammad Salam. 1984. Al-Ijtihad fi al-Tasyari al-Islami. Mesir : Dar al-Nahdah al-Arabiah
Zein, Satria Effendi M. 1997. Dalam 70 tahun KH. Ali Yafie. Bandung : Mizan
——-. Dalam 70 tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, MA. Jakarta : Yayasan wakaf Paramadina

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Maklumat Pimpinan Terkait Peraturan Terbaru Kedatangan Santri

Maklumat Pimpinan Pesantren Annur Darunnajah 8 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 dan Kedatangan SantriMaklumat Pimpinan Pesantren An-Nahl Darunnajah 5 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 Dan