TANTANGAN HUKUM ISLAM DI ABAD MODERN (Part 1)
Menu

TANTANGAN HUKUM ISLAM DI ABAD MODERN (Part 1)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

a href=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2014/04/10264767_823729100990436_1928469814_n.jpg”>img src=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2014/04/10264767_823729100990436_1928469814_n.jpg” alt=”TANTANGAN HUKUM ISLAM DI ABAD MODERN” width=”259″ height=”194″ class=”size-full wp-image-3371″ />/a> TANTANGAN HUKUM ISLAM DI ABAD MODERN
Oleh ; Drs. H. Busthomi Ibrohim, M.Ag

I. Pendahuluan

Semangat beijtihad umat Islam dalam rangka mengmbangkan hukum Islam telah muncul di awal-awal abad Islam. Tiga abad setelah Rasullullah wafat dipandang sebagai periode formatif hukum Islam. Penggerak utama dalam mengembangkan hukum Islam itu berada di tangan mujtahid.
Kegiatan ijtihad mulai digalakan masa sahabat sehingga melahirkan berbagai penafsiran dan fatwa. Hal ini dilanjutkan oleh generasi tabi`in, tabi1-tabi`in dan puncaknya pada masa imam-imam mazhab sampai abad ke-4 hijriah. Ijtihad yang mereka lakukan bukan saja menghasilkan fiqh waqi`i, tetepi juga fiqh iftiradhi.
Melalui imam-imam madzhab, kemudian lahirlah berbagai mazhab fiqh yang befariasi sepanajang sejarah, walaupun yang dapat bertahan lama dan dianut umat Islam sampai sekarang dikalangan sunni ada empat mazhab ; Hanafi, Maliki, Safi`I, dan Hanbali.
Pertengahan abad ke-4 hijriah, terjadi perubahan sikap umat islam. Aktifitas ijtihad yang semula dijunjung tinggi untuk sementara terpaksa ditutup ulama. Sejumlah pertimbangan penutupan ijtihad itu dikemukakan para ulama, diantaranya untuk menyelamatkan hukum islam dari hasil ijtihad yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Pada masa itu muncul orang-orang yang memberikan fatwa, bahkan berijtihad dalam hukum islam, sementara mereka tidak memenuhi syarat untuk melakukannya.
Masa penutupan pintu ijtihad dipandang sebagai periode taqlid. Pada masa ini bukan berarti tidak ada mujtahid yang mampu berijtihad langsung terhadap Al-Qur`an dan sunnah, namun merka lebih cenderung mengikuti pendapat imam madzhabnya.
Periode taqlid itu berlangsung sampai abad ke-13 hijriyah yang bersamaan dengan mulai melemahnya kekuasaan polotik islam di dunia internasional . menjelang akhir priode ini terjadi hubungan antara negeri-negeri islam, seperti Turki dan Mesir dengan dunia barat yang telah maju ilmu pengetahuan dan tekhnologinya. Hal ini membawa pengaruh besar terhadap sikap masyarakat, diantaranya dalam bidang hukum islam.
Perubahan –perubahan dikalangan umat islam membuat posisi islam yang dipahami secara kaku menjadi terpojok sementara hukum barat mulai menarik perhatian sebagian generasi islam sebagai alternatp menjawab persoalan abad modern. Hal ini merupakan tantangan bagi umat islam untuk mempertahankan eksistensi hukum islam di dunia islam.
Makalah ini akan mengungkapkan gambaran tentang yang dihadapi hukum islam diabad modern. Sejalan dengan ini akan diuraikan tentang kondisi objektif hukum islam kelasik tantangan yang dihadapi hukum islam diabad modern secara internal dan eksternal dan peluang mengatasi tantangan tersebut.

II. Kondisi Objektif Hukum Islam Klasik

Ijtihad menjadi motor penggerak perkembangan hukum islan selama beberapa abad , mulai masa sahabat hingga iman- iman mujtahid pembentuk mazhab fikih . melalui metode ijtihad hukum islam mampu mengikuti dinamika umatnya .
Ada dua bentuk ijtihad yang berkembang ketika itu; ijtihad al-Istinba thi dan ijtihad al-Tatbiqi . ijtihad al-istinbathi menekankan upaya untuk mengeluarkan hukum dari al-quran dan sunah, sementara ijtihad al-Tatbiqi merupakan upaya menerapkan hasil ijtihad al-istinbathi pada kasus yang terjadi dalam masyarakat islam .

Puncak perkembangan ijtihad terjadi pada masa tokoh tokoh pendiri mazhab fikih . mazhab- mazhab fikih ini berkembang luas dengan jumlah pengikut nya yang banyak. Diantara mazhab itu ada yang mampu bertahan dan di anut umat islam sampai sekarang Hanafi, Maliki, Safii, dan Hambali, serta ada pula yang telah punnah seperti majhab al-thabariy
Suatu majhab dapat berkembang dan bertahan karena di dukung oleh beberapa factor. Factor- factor tersebut meliputi; adanya pembukuan pendapat- pendapat mazhab, peran serta mulid danpengikut mazhab dalam mengembangkan mazhabnya , dan pengaruh masa dengan memilih mazhab tertentu untuk daerah yang dikuasainya.
Majhab-mazhab fikih itu menghasilkan peroduk fikih yang sangat berharga dan tersebar dalam kitab kitab fikih klasik. Fiqih yang mereka hasilkan bukan saja menyangkut masalah-masalah yang terjadi pada waktu itu, tetapi meliputi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi. Fiqh dalam bentuk ini lah yang berkembang di dunia islam sampai sekarang.
Pertengahan abada ke-4 hijrah, para ulama memproklamasikan bahwa umat Islam untuk sementara tidak menerima lagi hasil ijtihad baru. Baik ulama, hakim di pengadilan, maupun masyarakat diharuskan merujuk dan terikat pada buku-buku fiqh yang telah ada sebelumnya.
Ide penutupan pintu ijtihad muncul untuk membendung ijtihad yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai keahlian dalam hokum Islam dan ushul fiqh sehingga akan melahirkan produk fiqh yang tidak terkontrol dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Keputusan tersebut mengakibatkan dinamika hukum Islam terhenti.
Tindakan ulama menutup pintu ijtihad untuk sementara itu diartikan secara salah oleh generasi sesudahnya. Mereka menganggap sebagai suatu ketetapan yang berlaku selamanya. Imam al-Suyuthi mengisyaratkan dalam berbagai karangannya, sebagai mujtahib abad IX hijriah, tetapi dia mendapatkan tantangan keras dari orang-orang semasanya sehingga ia menarik kembali pernyataannya.
Dengan demikian, pada masa kemandekkan istijhad bukan berarti tidak ada mujtahib yang mampu berijtihad langsung kepada Al-Qur’an dan sunah , tapi mereka dengan pertimbangan diatas tidak melakukan ijtihad tersebut. Kondisi ini membuat umat islam dan ulama taqlib kepada pendapat sebelumnya. Fanatisme mazhab berkembang, kegiatan ulama terfokus untuk memperkuat pendapat imam mazhabnya.
Ulama ketika itu berusaha menghimpun fiqh imam mazhab, kemudian mereka mentarjih berbagai riwayat pendapat para imam, mencari kekuatan hukumnya, lalu merumuskan dasar-dasar pijakan dan kaidah-kaidah hukumnya yang menjadi landasan ijtihad para imam mujtahid atau mufti.
Usaha ini mereka iringi pula dengan membuat ringkasan-ringkasan ( mukhtasar ) atau teks-teks ( matan ) dan penjelasan ( syarh ) atau komentar ( hasyiah ) serta penjelasan itu diberi komentar lagi yang disebut dengan taqrir.
Seiring dengan terjadinya kejumudan pemikiran dalam bidang fiqh, saat itu berkembang tasawuf atau tariqah. Memang belum ada penelitian yang mendalam tentang sejauh mana keterkaitan kemadekan fiqh dan kebangkitan tariqoh, namun dilihat sepintas lalu dari konteks sejarah perkembangan tasawuf yang begitu pesat di saat kemunduran fiqh, dapat diasumsikan bahwa kebangkitan tasawuf ikut mendukung terjadinya kejumudan fiqh. Apalagi saat itu berkembang dokrin mengenai al – Ahwal dan al – Maqamat, dengan menempatkan syariat sebagai tahapan terendah dari rangkaian jalan menuju Tuhan. Di atas syariat masih ada dua tingkat lagi, yaitu Ma`rifat dan Hikakat.

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Maklumat Pimpinan Terkait Peraturan Terbaru Kedatangan Santri

Maklumat Pimpinan Pesantren Annur Darunnajah 8 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 dan Kedatangan SantriMaklumat Pimpinan Pesantren An-Nahl Darunnajah 5 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 Dan