Setiap kamar asrama di pesantren punya jadwal piket yang ditempel di dinding dekat pintu. Nama-nama santri tertulis berurutan, masing-masing punya hari tugas yang sudah ditentukan. Piket — menyapu lantai, merapikan tempat tidur bersama, membersihkan kamar mandi — terdengar seperti tugas rumah tangga yang biasa. Tapi di pesantren, piket adalah pelajaran pertama tentang tanggung jawab yang dampaknya melampaui kebersihan kamar.
Bagi santri yang di rumah tidak pernah diminta menyapu atau membersihkan kamar mandi, piket pertama selalu menjadi momen yang tidak terlupakan. Sapu yang dipegang terasa canggung. Cara mengepel yang benar ternyata tidak sesederhana yang terlihat. Kamar mandi yang harus dibersihkan sampai benar-benar bersih — termasuk sudut-sudut yang biasanya tidak pernah diperhatikan — membuat mata terbuka bahwa kebersihan itu butuh usaha nyata.
Hari-hari pertama piket biasanya penuh drama kecil.
Santri yang lupa gilirannya diingatkan oleh teman sekamar. Tugas yang dikerjakan seadanya harus diulang karena penanggung jawab kamar tidak puas. Kabur dari giliran? Langsung ketahuan — karena di kamar yang penghuninya saling kenal, tidak ada yang bisa bersembunyi. Tekanan sosial dari teman sendiri ternyata jauh lebih efektif dari teguran formal manapun.
Setelah beberapa minggu, piket mulai menjadi kebiasaan yang tidak perlu diingatkan. Tangan yang tadinya canggung memegang sapu sekarang bergerak cepat dan efisien. Mata langsung mengenali sudut yang perlu dibersihkan. Proses yang awalnya terasa seperti beban perlahan berubah menjadi rutinitas yang dilakukan tanpa perlawanan.
Piket punya dampak yang lebih besar dari sekadar kebersihan karena mengajarkan dua hal sekaligus — tanggung jawab dan kesadaran kolektif. Ada tugas yang harus dikerjakan di hari tertentu, dan kalau tidak dikerjakan, orang lain yang menanggung akibatnya. Kebersihan kamar bukan urusan satu orang. Kalau satu orang absen dari piketnya, seluruh kamar yang kena dampaknya. Pemahaman bahwa tindakan kita mempengaruhi orang di sekitar — itu pelajaran yang biasanya baru dipelajari orang dewasa di tempat kerja.
Perubahan paling nyata biasanya terlihat di rumah saat santri pulang liburan. Anak yang dulu harus disuruh berkali-kali untuk merapikan kamar sekarang melakukannya sendiri tanpa diminta. Piring langsung dicuci setelah makan. Handuk tidak lagi dibiarkan tergeletak di lantai. Orang tua yang melihat kebiasaan baru ini sering bertanya — siapa yang mengajarkan? Jawabannya sederhana. Jadwal piket di dinding kamar asrama.
Piket juga mengajarkan keadilan dalam bentuk paling konkret. Semua orang mendapat giliran yang sama. Tidak ada yang dikecualikan. Prinsip kesetaraan itu dipraktikkan setiap hari lewat jadwal sederhana yang ditempel di dinding kamar.
Di Darunnajah 2 Cipining, sistem piket kamar sudah menjadi bagian dari kehidupan asrama selama puluhan tahun. Setiap santri belajar bahwa menjaga kebersihan lingkungan bersama adalah tanggung jawab yang tidak bisa didelegasikan kepada orang lain.
Kedewasaan kadang bukan soal pencapaian besar. Kadang sesederhana menyapu lantai di pagi hari sebelum berangkat ke kelas — karena itu giliran kita, dan kita tahu bahwa satu kamar penuh orang bergantung pada itu.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.